Tarian Bumi

Lamno, Aceh Jaya. Hari ke 3 di Januari 2005.

Entah ini sudah pasien ke berapa hari ini. Sudah tengah hari, tapi pasien masih berjejer di depan pintu ini. Dokter Arman masih membantu seorang pasien yang kulit kakinya robek terkena seng. Sepertinya aku masih harus terus melanjutkan sampai dia benar-benar selesai.

“pasien masih banyak dok,” kata pak Ardi
“iya pak,” kataku.
“nanti gantian dengan dokter Arman saja,” katanya sambil memasukkan beberapa obat kedalam plastik.
“iya pak,” aku berusaha tersenyum dan menegakkan punggung di kursi kayu ini.

Seorang anak kecil, duduk di pintu. Rasanya sedari tadi dia membperhatikan sambil memegang mainan kayunya. Tampaknya dia baik-baik saja. Wajahnya bersih dengan warna kulit kecoklatan. Matanya bersinar terus sambil terkadang berbicara dalam bahasa daerah Aceh dengan beberapa orang yang menegur. Aku tersenyum melihatnya begitu seksama memperhatikan dokter arman menjahit luka. Meski terkadang pandangan kadang terhalang namun dia tidak mencoba masuk lebih dalam. Akhirnya dia sadar juga kalau aku melihat.

“kesini aja,” ajakku.

Segera dia mendekat tanpa ragu.

“boleh aku di samping kakak?” katanya.
“boleh.”
“terima kasih ya kak,” riang benar dia mendapat kesempatan masuk lebih ke dalam ke ruang pemeriksaan pengungsi ini.

Aku mengambikan dia satu kursi untuk dia.

“temani kakak ya.”
“iya kak, sudah capek pula rasanya berjongkok,” katanya riang.

Jadilah sepanjang hari hingga senja dia menemaniku. Meski dia hanya diam dan sesekali tertawa mendengarku menjelaskan beberapa hal kepada pasien. Perbedaaan bahasa membuatku menggunakan bahasa tangan agar mereka mengerti apa yang ingin aku sampaikan. Terlebih jika pasian yang berusia lanjut. Bahasa Indonesia seakan menjadi bahasa asing bagi mereka. Teman kecil itu sambil tertawa terkadang membisikkan kepadaku beberapa bahasa daerah itu. Pekerjaan hari ini menjadi lebih ringan ditemani dia.

“namaku Muhajir kak.”
“oh iya, sejak tadi kita belum berkenalan,” kataku.
“nama kakak siapa?”
“panggil Rian, ” kataku melihatnya bersemangat membantuku membereskan ranselku.
“dokter Rian?”
“jangan dengan dokter, pakai kakak saja.”
“iya kak Rian,” sambil tertawa dia.

Itulah awal perkenalanku dengan bocah laki-laki itu. Dan sejak hari itu, setiap kali aku mendapat tugas di posko kesehatan dia selalu mendampingiku. Tentu saja dengan tambahan sedikit tugas dariku. Menjadi penerjemahku selama pemeriksaan kesehatan. Anak yang cerdas. Dengan gampang saja dia bisa menghapal urutan anamnesa yang aku lalukan. Dan terkadang sebelum aku memulai menanyakan keluhan pasien dia sudah bercakap duluan. Terlebih dengan pasian usia lanjut. Banyak dari mereka tidak tahan menahan geli ketika Muhajir menanyakan banyak hal keluhan mereka.

“kak Rian, ada yang ingin di jelaskan ke bapak ini,” katanya sambil berbisik.
“iya, tolong bilangan saja setelah obat habis nanti datang lagi.”
“itu saja?”
“hmmm, rokoknya dikurangi sedikit ya,” biskku perlahan.
“oke kak,” sambil mengerlingkan matanya.

Dan setelah itu Muhajir akan berbicara dalam bahasa Aceh yang terdengar seperti orang yang profesional. Dan akan panjang dia menjelaskan kepada pasien. Bapak tua tertawa sampai giginya yang tinggal dua itu terlihat lucu. Mujahir tetap saja berbicara dengan mimik serius. Bapak tua akhirnya mengacak rambut Muhajir dan mereka tertawa. Entah apa yang tadi mereka perbicangkan.Semua orang di ruangan ikut tertawa melihat kejadian itu. Muhajir menjadi malu dan berusaha menyembunyikan mukanya dibalik punggungku. Muhajir anggota tim kami dalam pelayanan ini. Dia tak ragu lagi mendekati dokter Arman yang seorang tentara itu. Bahkan Pak Ardi yang terlihat sangar selama ini menjadi ramah dengan kehadiran Muhajir.

Aku menghabiskan hari-hariku di daerah yang baru saja beberapa hari lalu terkena tsunami. Bekasnya saja masih nampak.
Sore hari ketika kegiatan mulai berkurang, aku bersepeda ke tepi pantai. Berdua memakai sepeda Mujahir yang tanpa rem itu. Dia duduk di besi depan sehingga kakinya yang akan berfungsi sebagai rem sepeda tua ini. Tentu saja, dia dengan semangat menceritakan seperti apa dulunya tempat ini sebelum gempa dan tsunami itu datang. Namun yang paling kami takuti, jika bertemu bapak-bapak tentara yang lagi patroli di daerah tersebut. Pasti kami akan kena marah karena berada jauh dari jangkauan pengawasan mereka. Pernah sekali kami di teriaki dari puncak bukit dekat pantai itu. Segera saja aku membalikkan sepeda dan melaju tanpa melihat jalanan yang bertanah dan penuh lubang. Alhasilnya kami terjatuh dan penuh luka lecet di siku dan sepanjang lengan. Esoknya kami berdua meringis sepanjang hari menahan perih.

Namun sore ini kami tertangkap basah.

“dokter Rian, kami sama sekali melarang dokter ke tempat ini.”
“tapi kami hanya mengkhawatirkan keselamatan dokter,” kata pak Iwan. Komandan di tempat ini.
“maafkan ya pak, saya juga tidak menyangka samapai sejauh ini berjalan,” aku berusaha menenangkan muhajir yang mulai berlinang.
“Lain kali dokter akan kami kawal kemana-mana,” kata salah satu tentara itu sambil menaikkan sepeda kami dalam mobil bak terbuka.

Aku membantu Muhajir naik ke mobil itu. Aku terus memeluknya dan dia terus memegang sepedanya itu.

“tenang Muhajir, sepedamu tidak akan mereka ambil,”kataku sepelan mungkin menenangkannya.
“mereka hanya ingin kita baik-baik saja.”

Muhajir menatapku dan berusaha diam dalam isaknya. Rasa bersalah melihatnya ketakutan melihat tentara itu lengkap dengan senjata laras panjang. Sepanjang perjalanan dari tepi pantai itu, empat orang dari tentara itu tidak duduk. Mereka berdiri menghadap ke empat penjuru mata angin. Rasa takut langsung mengalir dari setiap hembusan napasku kali ini. Iya, Daerah ini masih merupakan basis GAM sebelum tsunami datang.

Bencana ini pula, sehingga kecamatan ini terisolasi dengan ibukota Banda Aceh. Kedatanganku bersama teman-temanku ke sini juga harus menggunakan helikopter Amerika. Satu-satunya cara menjangkau tempat ini. Sinyal telepon genggam sama sekali hilang. Komunikasi yang diandalkan dengan telepon satelit saja. Kami harus mencari-cari dulu sinyal sekitaran posko kami. TIap malam kami semua akan antri untuk menggunakan telepon satelit itu.

“Dani, malam ini sepertinya sinyal susah ya,” kataku sambil berjalan membawa telepon satelit sebesar bata ini.
“iya, posko di puncak bukit tadi sore gerimis,” kata dayat sambil menikmati kopi dalam gelas plastik bekas air mineral.
“kalian masuk aja tidur, ini sudah jam 11 malam.”
“aku mau ke bapak-bapak tentara itu dulu di seberang jalan,” katanya sambil berlalu.

Aku mengajak yang lain juga yang sudah kelihatan lelah. Beberapa masih membereskan obat yang akan di pakai di beberapa posko besok. Aku langsung terlelap di ruangan yang hanya di lapisi alas dari kantung tidur kami. Udara lebih dingin malam ini dan berharap tidak ada hujan malam ini. Kami tidak mempunyai persediaan selimut yang memadai. Bisa mendapatkan kantor kecamatan saja yang masih utuh saja sudah sangat bersyukur. Tidak perlu tidur dengan menggunakan tenda di luar.

Tepat di samping ruangan ini, aku masih bisa mendengar beberapa marinir masih bercakap. Setiap malam mereka berganti untuk berjaga diluar dan berpatroli. Sedikit rasa aman bisa satu tempat dengan mereka.

Pukul 02.30 WIB

“gempaaaaaa!!!!!!!,” suara teriakan tentara itu seperti tepat di gendang telingaku.

Aku melihat ke langit-langit ruangan dan melihat lampu itu seperti hidup dan bergoyang. Aku berusaha berdiri namun terjatuh lagi. Semakin aku berusaha semakin keras badanku menghantam lantai. Aku membangunkan yang lain dengan mendorong sekencang mungkin badan mereka. Berkali kami terjatuh bersamaan dan saling menindih. Susah payah mencapai pintu ruangan itu yang hanya berjarak tiga langkah dari kami. Dani berusaha membantu kami, namun terjatih lagi. Akhirnya aku memutuskan merangkak menyusuri lorong kantor kecamatan itu. Beberapa marinir berlari sempoyongan mencoba membantu. Sampai di halaman kantor, gempa itu belum reda. Aku mulai was-was. Pantai itu hanya berjarak kurang lebih empat kilometer dari tempat kami dan jika tsunami datang akan tanpa menghantam kami tanpa hambatan. Kakiku menjadi dingin, rasa tidak kuat untuk berjalan apalagi berlari.

Suara tangisan sudah terdengar dari segala arah. Tiba-tiba gempa itu menghilang, keadaan menjadi senyap. Semua melihat ke arah pantai. Tapi yang terlihat keadaan gelap yang pekat. Malam itu kami tidur di jalanan kampung itu. Trauma itu sangat terasa.

*******

Lapangan Sepakbola Lamno. Pertengahan Januari 2005

Suara deru helikopter makin kencang. Kali ini yang mendarat jenis Helikopter dari Australia. Beberapa rekanku sudah berangkat duluan dengan menggunakan Helikopter dari Malaysia. Namaku sudah dipanggil beberapa kali oleh Pak Iwan. Aku mengiyakan dan meminta semenit waktu bertemu Muhajir. Anak kecil itu masih memegang kantung tidurku. Suara isak tidak lagi pelan.

“aku akan merindukankan Muhajir,” kataku.
“Hanya merindukanku kakak?” katanya sambil menangis.
“lebih dari itu,” kataku.
“aku akan merindukan dan terus mengingatmu kak,” tiba-tiba pelukan itu membuat haru.

Seperti akan kehilangan sesuatu yang berharga dalam keseharian. Aku membalas pelukan itu. Lebih erat.

“pergilah kak,” sambil menyerahkan kantung tidurku.
“ambillah ini, pakailah kak,” sambil menyerahkan dompet manis berwarna merah khas anyaman Aceh.
“iya, aku akan pakai untukmu.”

Sekali lagi namaku di panggil. Aku berlari ke Dani dan menyuruhnya naik dulu ke helikopter itu bersama yang lain. Aku melihat Mujahir masih terisak. Aku berlari kembali dan memeluknya. Aku melepas gelang tanganku dan memasangkan di tangannya. Setelahnya tidak ada ucapan lagi antara kita berdua.

Aku berduduk dalam helikopter sambil melihat Mujahir mengikuti putaran Helikopter, dengan begitu aku bisa melihatnya. Tangisnya belum berhenti. Empat belas hari dan bocah kecil itu membekas dalam hati.

Pilot helikopter itu menuliskan sesuatu di secarik kertas kumal dan memberikanku. “who is that boy?”.
Aku membalasnya pesannya ,” he’s name Muhajir and he is my Translator”
Pilot itu membaca dan berbalik sambil mengacungkan jempolnya. Dia perputar sekali lagi, dan mempertahankan beberapa detik posisi helikopternya sehingga Muhajir bisa melihatku.

Seperti ada yang hilang dalam rasa ini.

Terik Ibukota. Mei 2012

Secangkir Cappucino dingin dan tumpukan kertas ini membuatku harus menahan lelah. Laporan ini harus masuk sebelum jam kantor tutup. Suara telepon dari nomor yang tidak aku kenal.

“halo, kak rian apa kabarnya,” suara itu. Mengingatkan sesuatu.
“muhajir???? ini kamu yaa,” masih tidak percaya.
“iya kak, ini ajir,” suara bersemangat.
“Tahun depan aku lulus sekolah, dan mau melanjutkan ke Jakarta ikut kakak,” suara itu tidak berubah.
“iya,aku tunggu,” aku meninggalkan ruanganku dan memulai percakapan yang menyenangkan.

Kejutan.

1 thought on “Tarian Bumi

  1. Akhirnya kisah ini menjadi tulisan juga …., lama juga tidak menulis …. Ditunggu kisah2 selanjutnya …. Jadi walau tidak ketemu, sy tetap tahu ceritamu ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s