Tak Pernah Usai

Bimo

pukul 03.05 dinihari

Susah payah aku mengambil telepon genggamku yang terus berdering.
“halo, ya siapa?”
“halo genit, lama benar angkat telepon.”
“ya ampun, Gaby kamu dimana?” hanya satu manusia yang memanggilku seperti itu. Aku terduduk mencoba menyalakan lampu di meja kecil dan melihat jam weker.
“By, ini jam 3 subuh.”
“besok jemput aku ya, pesawatku tiba jam 11 siang. Dan sama sekali tidak pakai alasan ada rapat ya.”
“kamu berangkat dari mana By?” rasanya belum semua kesadaran diriku ini mendengar suaranya.
“aku di Semarang sekarang.”
“ya sudah, kayaknya kamu udah ngantuk berat, see u yaa.”

Suara telepon tiba-tiba terputus. Aku mencoba melihat nomor telepon tadi dan menyimpan. Entah ini nomor yang keberapa tersimpan sebagai namanya. Aku mencoba tidur lagi. Lumayan untuk dua jam kedepan sebelum subuh benar-benar muncul.

Pukul 11.30

Rasanya ingin menerbangkan saja sedan kodok ini di jalan tol. Aku terlambat setengah dari jadwal kedatangan Gaby. Terbayang ocehannya melihatku nanti. Perempuan satu ini memang selalu mengagetkan saja. Lima tahun ini hanya mengetahui kabarnya lewat telepon dan pesan singkat saja. Aku mencari parkir sesegara mungkin. Yang penting memunculkan muka ini dulu. Sedikit bergegas atau lebih tepatnya berlari ke pintu kedatangan. Seperti tidak sulit mencari sosoknya. Aku melihat layar besar mencoba menebak kode penerbangan dengan melihat kedatangan pesawat dari Semarang. Satu jam sosok Gaby, tidak juga muncul.

Aku melirik telepon genggamku dan tak satupun pesan terjawab. Sepertinya delay adalah jawaban mengapa Gaby belum nampak. Aku putuskan duduk di cafe yang letaknya tidak jauh dari pintu kedatangan. Dari sudut ini, aku bisa melihat semua orang yang keluar dari pintu itu. Sepertinya bukan waktu yang sebentar kali ini duduk dengan secangkir kopi. Masih ada sedikit waktu relax setelah membuat sedan kodok tadi meraung-raung di tol tadi.

Pukul 14.00
Sosok perempuan mungil dengan ransel itu akhirnya muncul juga. Senyum manis itu masih sama.

“lama ya nunggunya,’ sambil tertawa melihat cankir kopi yang tandas dan asbak penuh puntung.
“gila, dua jam hanya menunggumu saja.”
“hahahaha kapan lagi menunggu nona manis seperti saya, ” seraya menyerahkan ranselnya padaku.

Gaby berjalan ke arah pancuran air besar

“ayo fotoin aku di sini,” seraya mengeluarkan kamera kecil dari saku jaketnya. Aku mengambil beberapa foto dirinya. Cuaca siang yang sejuk membuatnya nampak manis dengan kelakuan yang tetap semangat.

“foto berdua yuk,” sambil menarikku dan meminta seseorang mengambil gambar kami. Aku sampai malu rasanya. Ini mungkin foto pertama aku juga di pancuran bandara ini.

“aku betul-betul kangen dengan kota ini,” seraya memperhatikan semua gambar dalam kamera ini.
“iya, ini pertama kalinya kamu kembali sejak lima tahun lalu.”
“Bandara saja berubah, bagaimana tengah kota sana ya.”

Aku berjalan mendahului Gaby. Lebih tepatnya membiarkan dia menikmati semua hal yang baru di tempat ini.

“Uli belum kamu kabari?”
“belum, biarin saja. Aku ingin memberikan dia kejutan,” Gaby mulai menurunkan sandaran kursi.
“antarkan aku pulang dulu ya, aku kangen dengan kamar masa kecilku.”

aku melaju perlahan saja. Membiarkan Gaby tertidur lebih lama di perjalanan ini sebelum rumah tua itu.

******

Gaby.

Bimo dan Uli tak berhenti tertawa mendengar kisah perjalanan selama lima tahun ini. Pertemuan ini seperti reuni besar saja. Kami tidak peduli ketika orang-orang di cafe itu melihat kami yang terus terbahak. Bimo malah memenuhi kami dengan kepulan asap rokoknya yang seperti tungku.

“Kamu tidak berniat untuk menekuni profesi kamu?” tanya Uli.
“aku buka praktek maksudmu.”
“sepertinya aku sudah memilih jalan ini uli,” kataku.
“lagian apa yang aku lakukan selama ini juga masih dalam lingkup profesiku juga.”
“tapi kamu masih bisa melanjutkan pendidikan kamu kan?”
“maksudku mengambi jenjang spesilis seperti yang lain,” Bimo melanjut.
“aku masih memikirkan itu koq,” kataku sekenanya.

Aku berdiri memesan cappucino dan makanan kecil lain. Salah satu trik menghindari pertanyaan seperti itu dari mereka. Rasanya Lanjut ke jenjang lebih tinggi lagi bukan hanya keinginan orangtuaku saja. Mereka juga. Pakem yang masih melekat di rata-rata orang di negeri ini. Sekolah yang tinggi, kerja yang nyaman, penghasilan yang lebih punya rumah dan mapan segala hal. Mengapa mereka juga mengukur ukuran kebahagian dengan segi materi yang terlihat.

“tambahan cappucino lagi,” sambil membagikan cangkir panas ke mereka.
“wah sepertinya bakal menjadi malam panjang kali ini,” bimo dengan semangat langsung menyambutnya.
“mumpung kalian besok libur kerja kan.”
“menyenangkan melihatmu di kota ini By,” kata uli.
“tapi lebih menyenangkan lagi kalo Dani ada saar ini,” kataku.

Uli dan Bimo saling berpandangan. Aku bisa melihat mereka terkejut begitu aku menyebutkan nama Dani.

“aku ingin bertemu Dani,” kataku.
“serius?” tanya uli.
“iya, aku serius.”
“sepertinya kedatangan kamu memang dengan agenda utama bertemu dia.” Bimo menghisap dalam rokoknya kali ini.

Aku tersenyum. Seperti orang yang kedapatan memyembunyikan sesuatu yang berharga saja di hadapan mereka.

“bertemu Kalian juga sama berharganya,” kataku memecahkan sediki kesunyian.
“bolehkan aku bertemu Dani,” tanyaku. Uli mengangguk perlahan. Bimo menatapku tanpa arti.
“kalian pasti bisa membantuku.”
“Aku punya nomor kontak adiknya,” Uli menuliskan sebuah nomor di kertas tissue.
“Aku bertemu Dani terakhir sekitar setahunan yang lalu,”kata bimo sambil menyalakan rokok berikutnya.
“Kami berbincang cukup lama.”
“iya, rasanya kebersamaan kita kurang tanpa Dani,” Lanjut Bimo. Kami tersenyum mendengar itu.
“Kalo begitu kalian tidak keberatan kalo menemaniku bertemu Dani besok, ” kataku.

Uli dan Bimo menyahut bersamaan dan membuatku kaget. Dan seiring dengan itu gelak tawalah yang terjadi. Kembali ke kota ini dan bertemu dengan mereka adalah kerinduan yang tersimpan dalam alam bawah sadarku selama ini. Mereka sama sekali tidak berubah dalam pertemanan ini meski kami bukan lagi remaja muda lagi.

********

Uli.

Aku membereskan semua berkas yang akan aku tinggalkan beberapa hari ke depan. Mataku tertuju pada kaca mejaku. Ada beberapa foto namun aku mencari satu foto yang mungkin tertutup foto lainnya. Foto kami berempat. Dani, Bimo, Gaby dan aku. Ini kenangan terakhir sebelum semua kejadian tak terduga itu terjadi. Gaby dan Dani adalah pasangan diantara kami.

Persahabatan yang pada akhirnya menjadikan mereka pasangan kekasih. Dan semua karam ketika Dani memutuskan ikatan itu secara sepihak. Tidak ada yang mengerti apa yang terjadi diantara mereka. Bahkan ketika Gaby memutuskan untuk meninggalkan kota ini semua penyebab itu seperti di tutup dalam peti terkunci. Dani menjauh dari aku dan Bimo. Meski begitu, komunikasi dengan Gaby dan aku tetap intens meski hanya lewat pesan singakt dan sesekali telepon nyasar di tengah malam yang sering Gaby lakukan.

Dani bak di telan bumi. Sampai setahun lalu Bimo bertemu Dani. Dan semua baru terungkap mengapa Dani mengambil keputusan sepihak.
Dalam hidup yang begitu beratku bagiku, ketiga orang itu adalah penopangku tanpa pamrih. Mereka yang membuatku bisa melalui hidup tanpa orang tua lagi dan harus menanggung seorang adik. Rasanya belum pernah membalas semua kebaikan itu. Berharap besok ada kebahagian diantara mereka.

Aku merapikan foto itu dan memasukkan kembali ke meja kacaku. Menempatkan sendiri di sudut yang bisa aku lihat nantinya.
Selalu.

******

Perjalanan menuju villa keluarga Dani.

“aku baru tahu, kalau mereka punya villa di tempat ini,” kata Gaby.
“Seperti mereka juga baru menempatinya sekarang ini, ” kata Bimo melihat Uli melalui kaca spion dalam mobil. Uli hanya mengiyakan dengan singkat.

Nampaknya uli di serang ngantuk. Segera saja dia merebahkan diri di kursi belakang. Sedangkan Gaby sibuk mengambil gambar dengan kamera Canon yang nampak besar di tangan mungilnya. Bimo berusaha mengendari dengan hati-hati tiap tikungan jalan. Memberi ruang untuk Gaby mengambil sudut yang diinginnya.

“begini nih kalo kelamaan di kota,” kata Gaby yang mulai merasakan angin dingin pegunungan. Berusaha merapatkan jaketnya dan syal yang di kenakannya.
“padahal ini sudah pukul sembilan, tapi matahari saja tak sanggup mengusir rasa dingin ini.”
“aku aja ke sini juga ga sering, ga kuat dinginnya,” ucap Bimo.
“kapan ya terakhir kita berempat ke sini ya.” tanya Gaby sambil terus memotret.
“sehari setelah wisuda mu By.”
“dan semua masih asri. Kebun teh dan pinusnya tidak berubah sama sekali.”

Bimo membelokkan mobil memasuki sebuah pasar.

“aku ingin membeli rokok,” kata Bimo.
“biar aku aja yang turun,” bergegas Gaby.

Gaby berlari kecil mencoba menghindari gerimis yang mulai turun. Terlihat Gaby menawar beberapa makan kecil. Dia begitu bersemangat dengan keadaan dirinya. Bimo melihat Uli yang masih tertidur dengan jaket tebalnya.

“lumayan, dapat penambah energi melawan dingin ini, ” Gaby membangunkan Uli. Bimo langsung menyalakan rokoknya.
“kue gula merah dan kacang ini memang ampuh di cuaca dingin.” Uli seperti kedingin dengan tubuh berbalut jaket tebal.
“kira-kira masih jauh ga Bimo?”
“Uli benar-benar sudah kedinginan,” lanjut Gaby.
“kalo mengikuti petunjuknya sih tidak lama lagi.”
“setelah tanjakan di depan kita belok kanan, katanya tidak jauh lagi dari situ.” lanjut Bimo.
“gila benar suhu di sini, aku hampir tidak kuat lagi.” keluh Uli.
“sejak dulu emang kamu paling mengeluh kalo ke tempat ini uli,” Gaby memberikan syalnya ke uli.

Gaby membereskan kameranya. Bimo sudah mulai segar lagi dengan rokok. Seperti hidup lagi dia. Baginya mending ketinggalan barang lain daripada tidak ada rokok dalam kantong bajunya.

“Dani sudah menjalani kemoterapi yang keberapa?” perlahan Gaby berkata.
“Kamu udah tau Gaby?” Uli tak bisa menyembuyikan keterkejutan dengan pertanyaan Gaby itu.
“menurut kalian aku datang kemari dan meminta bertemu dengan dia sesegara mungkin tanpa tau keadaan dia?” Gaby tersenyum melihat Uli masih dengan keterkejutannya.
“aku sudah menduganya,” bimo berujar santai. Ada perasaan lega yang tidak bisa dia sembunyikan.

Bimo berbelok ke kanan sedikit menanjak dan segera memasuki halaman sebuah villa yang cukup besar. Nampak sosok Alfi, adik Dani menyambut di depan pintu. Gaby menarik nafas panjang seakan ingin memenuhi paru-parunya dengan udara yang sejuk. Bimo, masih saja dengan kebiasaannya. Menyalakan rokoknya dan menikmati kepulannya dengan embun gunung. Uli, masih saja melawan dingin ini dan berusaha menggerakkan badannya sesegar mencapai pintu villa.

“Dani di atas,” ujar Alfi serasa membantu membawa ranselku.
“oh ya, aku ke atas ya,”Gaby langsung melangkahkan kaki kecilnya berlari menyusuri tangga kayu di tengah ruangan.

******
Dani.

“hei, akhirnya sampai juga kamu,” aku berusaha menegakkan badan begitu menyadari kehadiran Gaby.
“gmana keadaanmu?” tanya Gaby sambil membuka kain gorden kamarku. Sejenak mataku berusaha beradaptasi dengan sinar yang masuk ke ruangan kecilku.
“aku baik saja,” kataku sekenanya. Anak ini benar tidak mempedulikan diriku.
“aku buatkan teh hangat ya,” katanya lanjut.

“rambutmu mulai rontok lagi,” uli membersihkan bantalku dari sisa rambutku.
“iya, tapi ini sudah berkurang, sudah hampir habis,” kataku.
“botaknya sempurna deh,” katanya sambil menertawaiku memegang kepala.

Aku membiarkan saja dirinya berlalu lalang di kamar ini. Sejak datang sama hanya sekali itu dia menatapku. Mulutnya terus bertanya dan berkata saja. Kadang sesekali aku menjawab. Aku masih mencoba membongkar meja kecilku meraih tumpukan kertas dalam sampul kertas coklat. Gaby masih sibuk merapikan seprei dan menyiapkan roti bakar serta teh hangat itu.

“ingin menikmati di teras itu saja,”kataku.

Gaby segera memindahkan semua sarapan itu teras kamarku. Dia masih cekatan. Semuanya terlihat rapi. Dan seperti kami mempunyai janji untuk menikmati semuanya berdua. Menu itu memang dibuatnya untuk dua orang.
Gaby mengambilkan syal untukku.

“By, please, duduklah untuk sementara ini, ” aku berusaha memelankan suaraku. Gaby berbalik dan menghentikan semua wara wiri yang dibuatnya. Sesaat hanya ada kesunyian di antara kami. Dia berusaha tersenyum melihatku.

“aku minta kamu menyelesaikan ini,” aku menyerahkan kumpulan kertas bersampul coklat itu.
“semua sudah selesai, hanya butuh sedikit penyempurnaan.” Gaby masih terdiam melihat benda itu di tangannya. Berusaha dia membuka bungkusan itu. Dibalikkan setiap lembar itu tanpa membaca dengan detail. Melihat tanpa kata kali ini seakan perih di diri ini. Akhirnya dia berhenti di satu lembaran.
Gaby, membaca dengan suara perlahan. Sama membacanya bibirku yang keluh. Dia menatapku dan setitik air mata cukup mengartikan semua hal antara kita.

“Selamat Ulang Tahun. Bukan Kebersamaan yang membuat Kita bahagia, namun perasaan terikat saat diri di level terendah di situ takdir kita”