Cinta Kedua

Tersudut. Ya itu yang aku rasakan sekarang. Tumpukan berkas ini membuatku berada di situasi yang tidak menyenangkan ini. Aku memandang meja kerja Fahmi yang telah rapi sejak sore. Anak ini benar-benar tidak ada perasaan sama sekali. Enteng saja dia meninggalkan diriku dengan setumpuk pekerjaan di malam sabtu, dan sekarang pasti dia sudah bersenang nongkrong di cafe bersama temannya. Aku menyeduh kopi hangat, berharap bantuan kecil ini membantu bertahan beberapa jam ke depan.

Aku kembali mengambil beberapa map yang aku harus cek. Jam sudah berdentang sepuluh kali dan itu 20 menit lalu. Berkonsentrasi dengan layar kecil ini dengan seluruh indera diriku ini. Di bawah meja, tepat di bawah kakiku ada tiga sambungan kabel telepon genggamku. Semua batereinya habis. Rasanya ingin gila. Malam libur seperti ini, diriku masih bertapa dengan berkas ini.

Bunyi pesan masuk. Dari Fahmi.
“Pulang jam berapa? Aku jemput ya… *senyum dong*

Aku membiarkannya. Malas membalasnya. Tiba-tiba suara telepon dari meja kantorku. Benar-benar anak ini tidak puas mengerjai diriku malam ini. Kuhiraukan saja.

********

Seperti ada yang menghantam kepala ini. Gila, suara nyaring Eko seakan tepat menghantam gendang telingaku. Berat kubawa tubuhku menuruni tangga. Dan akhirnya menyerah dengan kantuk, aku terduduk di tengah anak tangga juga.

“ada apa sih?” sambil menyandar di pegangan tangga dan masih dengan mata tertutup.
“tuh, si Fahmi sejak tadi nungguin sambil gangguin Tisha.”
“sampai Tisha nangis kayak gitu tetap aja di godain, ” katanya lanjut dan berlalu ke garasi motornya.

Glek, sepagi ini Fahmi sudah nongkrong di rumahku. Ampun, ini baru jam 7 pagi. Artinya aku baru memejamkan mata 2 jam ini. Rasanya pengen mencekik dan membanting seluruh tubuh Fahmi. Kini tiba-tiba suara tangis tisha yang tepat menyentuh gendang telingaku. Aku sedikit bergegas meski hampir menabrak kursi tamu.

Aku melihat Tisha merengek, meminta boneka yang di pegang Fahmi. Isakan terhenti sejenak ketika melihatku. Tisha berlari ke diriku meminta aku menggendongnya. Fahmi benar-benar sukses melihat Tisha terisak. Aku memeluk Tisha sambil tertawa melihat tingkah Fahmi.

“Kamu membelikan untuk Tisha kan?” kataku.
“iya, tapi Tisha harus mencium aku dulu, ” katanya sambil menyodorkan mukanya ke Tisha.

Tangisan Tisha meledak lagi. Ada rasa tidak rela melakukan itu dalam tangisan Tisha. Aku jadi geli dan kemudian membujuknya dan membisikkan sesuatu di telinga. Perlahan Tisha meredup dalam tangisnya. Matanya tetap memandang boneka beruang Pooh itu. Tisha mengangguk ke Fahmi. Aku menurunkannya dan Fahmi menyerahkan boneka itu dan langsung menyodorkan pipi kirinya. Tisha mencium namun sesaat terdengar rintihan dari Fahmi. Rupanya Tisha sukses membalas tangisnya. Sambil berlari dia memanggil eyangnya. Fahmi memegang telingan kiri sambil melihatku.

“jadi ini bisikan tadi ya.”
“bukan hanya itu, ini juga, ” sambil menjewer telinga kanannya. Lengkap sudah dua daun telinga di pegang ambil merintih.
Lucu melihat ekspresi Fahmi. Sama sekali tidak sempat membalas tindakan Tisha dan aku tadi.

“sepagi ini sudah nongkrong di sini,” kataku merebahkan badan di kursi panjang.
“temani aku mengukur jas ya,” katanya.
“gila aja kalau aku mau menemanimu.”
“trus, siapa lagi yang aku mintai tolong.”
“ga ah, aku masih ngantuk,’ kataku sambil berlalu ke kamar. Kali ini mataku benar-benar tidak bisa aku kompromi.
“aku tunggu sampai kamu bangun,” teriaknya sambil menyalakan korek.
“terserah kamu.”
“tapi kalau aku terbangun karena suara Tisha, lupakan saja,” kataku berlalu dar tangga kamarku.

Aku membiarkan Fahmi menunggu berjam-jam. Dia sudah menganggap rumah ini seperti rumahnya. Sahabatku sejak SMA itu bahkan lebih sering menghabiskan waktu akhir pekannya di rumah ini. Paling sebentar lagi dia akan melepaskan baju dan bergabung dengan Eko mengutak atik mesin motor Eko. Dan pastilah setelahnya dia akan jatuh tertidur di sofa panjang samping rumah sambil mendengkur karena kelelahan dan kekenyangan dengan masakan ibu.

*********

“kamu harus menunda keberangkatan ini,” Fahmi mendorong kursinya ke meja sambil memberikan selembar kertas tugasku.
“hei, koq kamu berani mengambil barangku,” aku mengambil kertas itu dan memasukkan ke dalam tas kerjaku.
“masih sebulan juga koq berangkatnya,” kataku lanjut sambil melangkah pulang.
“iya, tapi itu pas hari pertunanganku,” mencegahku.
“aku akan membicarakan dengan Pak Kuntoro besok,” katanya lanjut.
“terserah,” jawabku sekenanya.
“lagian kamu yang mau tunangan, tanpa aku pun acara tetap jalan kan.”
“iya, tapi aku ingin kamu datang,” suara lebih tinggi.

Aku membalik badan.

“Fahmi, kamu tahukan proyek ini aku harap banget, dan aku tidak mau membuang kesempatan kali ini,” kataku tepat memandang matanya yang tidak berkedip.

Aku kaget melihat air muka yang tidak biasa itu. Aku kuatkan diri. Yaa ini proyek besarku yang aku idamkan sejak setahun lalu. Tak hiraukan dirinya lagi, aku melangkah meninggalkan dirinya sendiri di ruangan itu. Beberapa kawan melihat kami namun tak ada suara setelahnya itu.

**************

Dua minggu berlalu sejak percakapan terakhir dengan Fahmi di sore itu. Dan selama itu juga, dia tidak muncul lagi di rumah ini. Aku terbangun sedikit lebih siang dan melihat kearah halaman rumahku. Mobil bututnya warna hijau biasanya sudah terparkir sejak pagi. Namun pagi ini kembali kosong tempat itu. Mungkin dia marah karena aku memang sedikit cuek selama ini menjelang hari pertunagannya. Tender perusahaan besar itu benar-benar mengurus perhatianku. Aku bahkan rela lembur demi menjamin kelengkapan berkas sebelum tender itu berlangsung.

Namun di kantor tingkah Fahmi biasa saja. Dia tetap usil terhadapku, bahkan lebih usil dari yang biasanya. Kebiasaanya di kantor tidak ada yang berubah. Tetap memesankan diriku cappucino dingin jika makan siang. Bahkan lebih banyak membantu dalam tender ini. Iya, sama sekali tidak ada yang berubah. Hanya kebiasan berakhir pekan di rumah ini yang hilang.

Biasanya aku sudah mendengar tangisan Tisha karena ulahnya. Atau bahkan sudah ada di beranda kamar Eko yang persis berdampingan dengan kamarku sambil bernyanyi dengan suara sumbangnya. Sengaja di keraskannya sampai aku terbangun kesalnya. Atau melihat ibu dengan muka bersemu merah karena masakannya di puji Fahmi setinggi atap rumahku. Entahlah, kericuhannya di akhir pekan itu yang hilang.

“Fahmi dua minggu ini tidak muncul,” kata ibu ketika melihatku menyeduh teh hangat.
“sibuk bu, sebentar lagi acara tunangannya,” jawabku.
“kamu tidak membantunya?”
“tender kantor itu benar-benar membuat sibuk,” jawabku asal.

Aku berlalu dari hadapan ibu. Di kamar rasanya cukup untuk hari ini. Aku mengambil sebuah baju yangg tergantung di lemari. Kebaya putih gading yang di aku beli untuk menghadiri pertunangan Fahmi. Baju seperti ini satu-satunya yang ada di lemari ini. Demi mengikuti keinginan Fahmi melihatku berpakaian sedikit fromal di acaranya. Namun tetap aja bawahannya aku padukan dengan jeans. Rasanya memang aku tidak bisa datang di acara itu. Jadwal tender itu belum bergeser dari rencana awal.

*********

Dua hari sebelum acara tunangannya pun Fahmi sama sekali tidak menyinggung hal itu lagi. Sama sekali buta dengan persiapan acara itu. Biasanya dia begitu cerewet merecoki semua cemilan di meja. Ini sama sekali aku belum melihat sosoknya sejak pagi. Aku melihat kamera di meja masih ada. Kemana gerangan dirinya tanpa benda itu. Sampai sorepun, kamera itun masih ada di meja tanpa pemiliknya. Aku mencoba mencari tahu keberadaan. Namun semua orang dengan jawaban yang sama. Satpam kantor saja melihatnya datang lebih pagi dari biasanya. Setelah itu dia menghilang. Teleponnya pun tidak aktif. Orang rumahnya mengatakan dia ke kantor.

Aku mengambil kamera itu. Mungkin lebih baik menyimpannya di rumah. Aku membiarkan diriku berlama-lama di kantor hingga benar-benar aku orang terakhir di ruangan ini. Fahmi tetap yang muncul. Sepanjang perjalanan, rasa bersalah itu muncul terhadapnya. Kenapa aku tidak bisa datang di hari pentingnya dia. Padahal, empat bulan lalu aku paling bergembira mendengar berita itu. Mereka pasangan yang manis. Fahmi seorang fotografer yang handal, sedangkan Sinta adalah penulis di majalah fashion. Perpaduan yang ideal.

Aku membelokkan mobilku ke arah cafe minimarket. Masih jam 7 malam, dan aku masih ada waktu sebelum menyelesaikan packing terakhir untuk berangkat esok. Aku duduk agak ke pojok. Tempat yang biasa aku dan Fahmi menikmati sore dan malam dengan notebook masing-masing. Segelas cappucino dingin menjadi pilihanku kali ini. Dan dari tempat duduk aku bisa leluasa melihat pengunjung yang masuk. Rasanya tidak mungkin Fahmi akan ke tempat ini. Pasti dia sibuk.

Aku membuka notebook. Menyelesaikan beberapa beberapa email yang mestinya aku bisa lakukan besok. Selintas mataku mengarah pada file foto. Membukanya dan sedikit membalikkan saat family gathering kantor akhir tahun lalu. Sepertinya sudah lama juga tidak membiarkan otak ini lepas sedikit dari ketegangan kerja. Berkali memutar balik foto-foto itu. Senang bisa membawa ibu menikmati keriangannya. Namun ada beberapa hal yang membuatku sedikit mengerutkan dahi dalam file foto itu. Ada begitu banyak foto Fahmi dalam acara itu bersama ibu. Aku menghitung tidak dengan seksama. Dan sepertinya aku tidak perlu seksama melakukan itu. Fahmi begitu dekat dengan perempuan tua itu. Mengapa selama ini aku tidak memperhatikan hal ini.

*********

Bohlam teras rumah masih menyala. Aku perlahan membuka pintu rumah dengan suara yang sangat menimal. Kamarku menjadi tujuan utama. Jam dinding tiba-tiba berbunyi ketika kakiku baru saja menaiki anak tangga pertama. Aku membiarkan dentangnya sampai selesai. Perlahan aku melangkah dan menyalakan lampu ruangan depan kamar. Seketika ingin berteriak sebelum menyadari sosok Fahmi tertidur di sofa panjang itu.

“ya ampun kamu itu bikin jantungku pengen copot saja.”
“kamu darimana, jam segini baru sampai rumah,” katanya sembari mengambil jaketnya yang terjatuh.
“kamu sendiri di sini lagi ngapain?” tanyaku balik.
“besok itu acara kamu jam berapa?” tanyaku lagi.

Aku mengambil kamera Fahmi yang tertinggal di kantor sore tadi.

“kamera kamu,” sambil meletakkan di meja.
“iya, aku tahu kamu pasti mengambilkan untukku,”enteng saja dia berkata.
“pesawatmu jam 10 kan?” tanyanya.
“10.45 take off tepatnya.”
“oh iya,” katanya sambil berlalu menuruni tangga.
“aku pulang.”
“aku kangen tidak kerumah ini beberapa minggu ini dan bertemu Tisha.” katanya berlalu dai balik pintu.

Aku hanya memandang sampai bayangan dirinya hilang dari balik pintu itu. Sesuatu terasa lain berkecamuk dalam pikiran ini. Dia tidak menjawab pertanyaanku.

**********

Tiba-tiba Tisha menggeliat dari pelukanku. Aku melepas dan menyalakan lampu kecil samping tempat tidurku.

“kenapa sayang?”
“besok naik pesawatnya jam berapa ya? ” tanyanya. Aku mencoba menyadarkan diriku dengan melihat jam meja. Pukul empat subuh.
“besok pesawatnya terbang jam 10 sayang?”
“masih lama kan?” tanyanya lagi.
“iya, masih lama koq.”
“Tisha tidur lagi ya, biar besok bangunnya tidak telat,” berusaha membujuknya.

Malah Aku yang sulit lagi memejamkan mata. Membiarkan Tisha benar-benar lelap sebelum aku melakukan mengepak beberapa berkas kerjaku. Membersihkan meja kerjaku berharap kantuk itu berkenan singgah lagi di mata ini. Beberapa kertas saja langsung aku masukkan ke tempat sampah menjadikan meja ini benar-benar bersih. Pandanganku tertuju pada permainan Tisah di lantai kamar. Boneka Pooh dari Fahmi tiba-tiba mengingatku kejadian beberapa jam lalu. Entah.

Rasanya benar-benar bersalah tidak menghadiri acara itu esok. Begitu banyak kejadian bersama dia selama ini seolah tidak cukup membuatku untuk bisa hadiri di acara itu. Masih ingat, ketika Fahmi rela menggendong Tisha dan mengantarkan ke rumah sakit ketika sebuah motor menabraknya di depan rumah. Lututku terasa lemas melihat semua kejadian itu. Namun dia begitu sigap melakukan semua ini. Fahmi selalu ada di saat-saat cobaan hidupku begitu berat. Saat pernikahan dengan Gery, dia paling sibuk menyusun semua hal detail. Sungguh, semua itu masih belum bisa membuatku membatalkan keberangkatanku esok hari ini.

Semua peristiwa indah dan duka terlintas dengan enteng di mata ini. Foto Gery di meja. Aku memandang foto itu, namun yang terlintas bagaimana Fahmi menemaniku melewati saat-saat Gery menghembuskan napasnya terakhir. Kecelakaan mobil itu masih nyata dalam ingatanku. Fahmi menemaniku melewati sakratul maut Gery dan menuntun Gery dengan tenang dalam hembusan napas terakhirnya.
Mengapa semua itu tidak bisa menghentikan langkahku untuk menemaninya di satu hari bahagianya.

“mengapa Gery?”
“aku mencintaimu dan Tisha,”

*********

Aku melambaikan tangan ke Tisha dan melihatnya hilang dalam pandangan mataku. Aku masih mempunyai waktu bersantai sebelum melakukan check in. Sempatkan membeli beberapa koran pagi sebagai bahan bacaanku di pesawat. Tidak perlu bergegas sepertinya. Antrian penumpang melakukan check in sepagi ini ternyata panjang juga. Sambil menunggu antrian aku masih bisa mengirim pesan singkat ke Fahmi. Acaranya mungkin saja sudah mulai. Pesanku akan di bacanya setelah acara.

“semoga lancar ya semua acaranya… *senyum dong*
“kananmu ada pintu kaca, tepat arah jam tiga,” balasan pesan seketika atau tepatnya masuk dan terkirim bersamaan.

aku menoleh dan melihatnya lengkap dengan helm besar yang masih di pegangnya.

“aku di luar ya. Setelah check in boleh dong keluar sebentar aja,” pesan di layar teleponku.

Aku mengangguk dan tak membalasnya lagi. Aku tak ingin menunggu lama. Segera aku mencari antrian check in ter pendek dan berlari menuju pintu keluar.

“kamu gila, acara kamu bagaimana,” kataku.
“ga ada acara koq,” katanya enteng.
“semalam aku ingin bilang itu, tapi matamu keliatan sudah tidak bisa kommpromi,” katanya lanjut dan aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Emang pesawatnya sudah tidak bisa lebih siang lagi,”tanyanya.
“dasar kamu, aku sudah check in bodoh,” kataku sambil menjitak kepalanya. Aku bahagia.

Entah. Tapi aku bahagia melihatnya pagi ini.

“aku tidak bisa kehilangan Tisha,” katanya sambil memandang dengan senyumnya.
“beberapa minggu aku tidak ke rumah itu ternyata itu menyakitkan diriku,” katanya.
Dan aku masih terdiam dengan kertas boarding di tanganku.

“pergilah, aku menunggumu di sini bersama Tisha,” sambil membalikkan badanku menuju pintu masuk kembali. Aku masih terdiam. Rasanya tak sanggup menahan tumpahan rasa di mata ini.

“bodoh,” kataku sambil membalikkan badanku. Aku mengulangi kata itu dengan sedikit teriakan.
“iya aku memilih menjadi bodoh daripada kehilangan Tisha dan dirimu,” katanya.

Sekali lagi dia membalikkan badanku dan berkata, ” pergilah dan menangkan tender itu.”
“Jangan lama dan mengulur waku di sana ya, karena aku tidak sabar menunggumu balik,” suara itu tepat di telinga. Terdengar ringan dan lembut.

Aku melangkah dan membalikkan badanku melihatnya setelah pemeriksaan petugas. Dia pasti melihatku tersenyum bahagia.

11 thoughts on “Cinta Kedua

  1. bagus-bagus 3 tulisan terakhir…
    sisa 4 lagi sebelum november naskah bukunya udah siap diedit.
    semangat aja.
    (gak usah dimuat ini koment)

  2. aku justru penasaran saja kalau cerita ini dilanjutkan,,,mungkin saja ada gejolak internal dalam keluarga Fahmi nantinya??? atau mungkin juga pada tokoh “Aku”,,,but whatever could be happened, this story is so good!!! i like this!!! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s