When will i see you again?

Losari, 2010

Kopi hitam dan segelas cappucino dingin tersaji di meja kami.

“kau kembali ke kota ini,” suara bas pita suaramu masih khas.
“tidak,” jawabku.
“aku hanya mampir saja melihat kota ini. Belum berniat kembali dalam waktu dekat,” kataku lanjut
“banyak yang berubah di sini,” aku mengalihkan mataku ke arah jalan.
“iya, banyak yang berubah, aku bahkan tidak mengenali jalan raya depan kampus kita,” kataku
“hahahaha, jalan yang paling kamu takuti ketika menyeberanginya,” suara tawamu masih sama.
“terlalu lebar katamu dulu.”

Langit sore dipantai ini masih sama indahnya dengan 6 tahun lalu. Hanya suasana berbeda saja karena sepanjang pantai sudah tidak ada penjual makanan yang berderet bak restoran terbuka di bawah langit losari. Aku paling senang ke tempat ini saban sore selepas kuliah dulu. Meski jarak kampus dan tempat ini sangat jauh tapi selalu berusaha tidak melewatkan keindahan sore dengan ufuk barat yang selalu indah. Kebiasaan yang membuatku mengenal beberapa penjual nasi goreng yang selalu heran melihatku menikmati indahnya langit sore.

Sekarang, entah dimana mereka sekarang. Terganti dengan deretan cafe yang memenuhi sisi lain jalan ini. Lebih modern memang, namun ada yang hilang dalam suasana seperti ini. Perubahan menjadikannya keadaan menjadi sedikit teratur namun keakraban itu hilang. Terkadang aku meminta pengamen yang aku kenal memainkan beberapa lagu untukku dan mereka selalu tak ingin aku bayar. Katanya belum jam kerja mereka. Itulah Losari yang kenangannya selalu aku bawa kemanapun aku pergi.

Dan aku di sini sekarang, di pantai yang sama dengan lelaki yang dulu sering bersama menghabiskan waktu hingga ujung malam. Dia tak banyak berubah. Bahkan tidak ada perubahan sama sekali dalam enam tahun ini.

“kabarmu?” katanya.
“baik.”
“kamu sendiri?” tanyaku balik.
“baik.”

Rasanya sulit memulai percakapan ini. Sesulit menolak ajakannya untuk bertemu dirinya sore ini.

“tahu darimana aku ada di kota ini.”
“Deni melihatmu kemarin makan di kantin kampus dua hari lalu.”
“Deni?” tanyaku sedikit heran. Rasanya waktu itu aku tidak bertemu siapapun yang aku kenal.
“iya, dia kuliah mengambil masternya,” katanya lanjut.
“oh iya, masih semangat juga dia kuliah,” kataku sambil memegang gelas cappucinoku.

Benar sulit memulai dan lebih sial lagi dia sangat tenang menghadapiku. Entah apa dalam benaknya tentang aku sore ini. Aku sama sekali tidak peduli apapun itu. Kami sudah selesai sejak aku memutuskan meninggalkan semua hal tentang kota ini dan dirinya. Tujuh tahun lalu.

“aku akan berangkat lusa,” kataku memecah kebuntuan kami. lebih tepatnya memecah kebuntuan otakku.
“ke Jakarta?”
“beasiswa masterku di terima di luar.”
“selamat Kinan. Kamu memang seharusnya melanjutkan kariermu lebih baik.”
“Makasih,” rasaku ingin meledak menghadapi ketenangannya.

Matahari sore hampir sempurna di ufuknya. Langit sore mengalihkan pandanganku darinya, namun rasa ini tak ikut berpaling. Rasanya tiap detik sore ini bergerak sangat lambat. Dia kelihatan menikmati ufuk barat yang sempurna.

“aku harus pulang Ryan,” akhirnya aku bisa mengangkat badanku.
“iya, pasti banyak urusan yang harus kamu selesaikan sebelum lusa,” katanya.

Dia mengantarku menunggu taksiku. Tak banyak lagi yang kami bicarakan.

“Sukses ya dengan semuanya,” katanya sambil melihatku membuka pintu taksi.

“Kinan, when will i see you again?”
“not promise Ryan.”

Taksiku berlalu dari depannya.

*Makasih “Adele” untuk inspirasi lagunya.

6 thoughts on “When will i see you again?

  1. Makassar dan manusianya memaang selalu menyisakan cerita yang tak terlupakan, berapa lamapun kita pernah di dalAmnya,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s