Lelaki Pertama Hidupku

18 September 2011
Bimbang dengan keputusan ini. Berkali melihat kalender meja. Mencoba mencari waktu yang tepat untuk kembali ke kota itu. Urusan kerja di Jakarta seakan membuat lupa untuk menemui Bapak. Padahal lebaran kemarin sudah berjanji untuk menemui segera setelah pulang mudik lebaran dari rumah Mas Nono di Surabaya.

“kamu jadi pulang?” suara berat lelaki tua di seberang telepon.
“iya, lagi mencari tiket koq.”
“berapa lama liburnya? bisa lama kan?”
“2 minggu seperti biasanya pak.”
“bisa berarti menemani nonton beberapa pertandingan bola itu hehehehe,” suaranya terdengar lucu jika sudah tertawa.
“iya, tapi bapak tidak boleh begadang lagi ya.” lucu mengingatkan Bapak hal tersebut karena pada akhirnya dia akan jatuh tertidur bahkan sebelum babak pertama berakhir.

Percakapan di telepon awal pagi ini membuat diri menjadi tersenyum sepanjang hari. Mengembalikan semua energi yang terkuras minggu kemarin dengan urusan kantor ini. Jadi ingat ketika Bapak mengajakku ke stadion bola kotaku Mattoangin menyaksikan pertandingan bola satu-satunya klub andalan kota ini. Tubuhku yang kecil membuatnya harus meletakkanku di pundaknya sepanjang pertandingan berlangsung. Tanganku tak pernah lepas dari kepalanya agar aku tidak jatuh saat aku bersorak. Betul-betul awal dari kesenangan dengan olahraga itu. Selanjutnya jadilah diri ini teman baginya berbagi sorak saat laga bola. Tak terkecuali jika mendengar siaran langsung melalui satu-satunya radio tua miliknya. Seisi rumah akan ternganga melihat tingkah kami berdua depan radio yang riuh dengan suara komentator yang tak kalah kencangnya melaporkan aksi-aksi pemain bola.

Pernah, secara tidak sengaja aku mendengar ibu bercakap dengan Bapak saat ied fitri.
“biarlah kali ini, shalatnya ikut saya saja,” kata ibu
“ga, kali ini dia masih ikut aku.” kata bapak sedikit ngotot.
“tapi dia perempuan pak, harus dibiasakan dengan hal-hal yang sesuai dengan dirinya.”
“bu, dia masih kecil. Tenang aja tahun ini terakhir dia ikut aku shalat ied bersamaku.”
“tahun depan dia berumur 9 tahun, dan dia akan menjadi milikmu. Mukenah sudah pantas untuknya,” kata bapak lanjut.

Bapak mengambil kopiah kecil seukuran kepalaku yang telah di siapkan untukku. Aku terdiam dan tersenyum ketika kopiah itu diletakkan di kepalaku. Melirik ke ibu. Ibu ikut tersenyum melihatku dengan kopiahku yang memang nampak cocok. Dan jadilah shalat ied ini aku dan kakakku ikut Bapak, sedangkan dua adik perempuanku memegang tangan ibu.

Bagi ibu meski aku sahabat kecilnya untuk berbagai hal tapi urusan tampilan diriku itu bagian Bapak. Termasuk urusan gaya rambut. Tiap kali Bapak potong rambut, aku pasti ikut. Bukan ikut menemani saja tapi ikut memotong rambut juga. Tukang Potong Bapak di Tukang Cukur Madura dekat dari rumah. Duduknya selalu bersebelahan dan gaya potongan tentu saja sama. Tapi aku suka selama proses ujung-ujung rambutku itu di potong. Dan ketika pulang pasti ibu akan berkata dangan muka datar seakan kalah perang,” yaaa, sama lagi bentuknya.”

Lelaki tua itu bukan hanya sekedar bapak bagiku. Dia adalah jendela duniaku. Pengalamannya berkeliling dunia selama menjadi pelaut adalah hal yang tidak pernah bosan aku dengar. Dia tidak perlu membuka buku cerita untuk membuatku tertidur lelap. Cukup bercerita tentang laut, ombak, indahnya sungai Mahakam dan Megahnya jembatan Ampera ketika bagian tengah jembatan itu terbuka, tentang Hongkong yang begitu makmur selama Inggris masih memerintah di sana, tentang bagaimana orang Jepang hidup dalam ketergesaan tiap hari dan rata-rata tinggi mereka yang lebih pendek dari darinya, tentang kota Manila, Bangkok dan seluruh negara yang pernah dia singgah. Sungguh, caranya bercerita mampu menghadirkan setiap tempat itu dalam imajinasi masa kecilku. Rasanya semua tempat itu sudah pernah aku kunjungi.

Keputusan Bapak untuk berhenti melaut karena tak ingin lagi meninggalkan keluarga dalam waktu lama. Penghasilan berlimpah baginya tidak ada artinya dibandingkan kehilangan masa kecil anak-anaknya. Semua di tinggalkan dengan penuh keikhlasan. Masih kuingat ketika rumah begitu ramai kedatangan teman-teman melautnya. Malam itu keputusan penting dalam hidupnya dia buat. Pekerjaan yang di cintai rela dilepas demi kami. Bapak memilih melakukan pekerjaan lain untuk bisa berkumpul dengan kami semua. Keputusannya menjadi penjual ikan di Pelelangan ikan di kota ini dijalaninya bertahun. Dari hasil jualan ikan tersebut beliau bisa menghidupi keluarga meski pas-pasan bahkan bisa membuat ke empat anaknya menyelesaikan kuliah.

Masih teringat, bapak harus meninggalkan rumah sesaat setelah subuh agar tidak kehabisan suplai ikan dari nelayan. Terkadang jika hari minggu, Bapak mengajakku serta. Meski nantinya aku akan tertidur di bale-bale duduknya di pasar itu. Bau ikan bajunya sangat melekat di ingatan ini. Sepulang, aku pasti akan menyikat sepatu plastik yang selalu dia gunakan ke pasar. Masih dengan tangan basah, aku akan menemaninya membaca koran sambil mencabuti ubannya. Dan apa akhirnya aku juga akan tertidur di sampingnya sampai sore tiba. Sungguh, semua hal itu membuatku merindu selalu.

20 September 2012
Duduk di ruang tunggu bandara ini rasanya mimpi di siang ini. Beruntung mendapatkan selembar tiket dalam situasi seperti ini. Kabar pagi, Bapak menuju rumah sakit dengan serangan jantung. Bandara yang ramai namun semua nampak siluet saja. Lelaki tua itu mengisi seluruh bola mata ini. Take off 17.30 WIB sore ini.

24 September 2012
Malam kelima di ruangan ini. Bapak akhirnya tertidur setelah sempat mengeluh punggungnya terasa panas.
Getaran telepon membuatku berpaling dari wajah lelaki tua yang tertidur pulas.

“Hai, gmana keadaan bapak? ” suara berat yang langsung aku kenali.
“hei tahu darimana?,” kataku sekenanya.
“Mba’ Sinta menghubungiku sejak 4 hari lalu tapi aku tidak ingin menganggumu.”
“Lumayan, Bapak sudah tenang.’
“Semoga lebih baik besok,” katanya datar.
“Terima Kasih ya Hen. Kamu sendiri apa kabar, katanya beasiswa keluar sudah disetujui ya.”
“iya, tapi beberapa persyaratan masih harus aku lengkapi.” jawabnya.
“Jaga Kesehatan Karin, aku berharap kamu tidak sungkan menghubungiku.”
“Makasih Hen, i will. ”

Percakapan singkat itu sedikit membuatku lega, setidaknya untuk hari ini yang sibuk memindahkan Bapak dari ICU ke ruang perawatan ini. Selintas bayangan Hen sekelabat lewat di pikiran ini. Lelaki itu masih seperti dulu. Bahkan terkadang merasa dia membuntuti diriku. Selalu menjadi orang pertama yang tahu jika terjadi masalah denganku. Tentu saja setelah mas nono. Tiba-tiba suara batuk bapak membuyarkan lamunanku.

“Karin, bapak haus,” suaranya begitu lemah

Aku membantu bapak agar bisa duduk. Bau badannya tercium begitu melekat di hidung ini. Sejurus air mata hampir tumpah namun aku menahan semua rasa ini. Aku menyodorkkan segelas air dan membantunya minum.

“Kamu belum tidur Karin?” tanyanya.
“Sebentar lagi Pak.”
“Besok, jangan lupa mintakan ke dokternya biar bapak bisa pulang besok ya.”
“iya pak, besok di usahakan ya,” kataku.
“Bapak sudah tidak betah di sini.”
Aku tersenyum. Berusaha menenangkan gejolak hatiku sendiri.

Merapikan selimut Bapak dan memandang wajahnya. Rasanya sudah lama tidak sedekat ini. Nampak garis tua tertanam di wajah itu. Bapak begitu keras tidak mau tinggal dengan salah satu anaknya. Baginya rumah itu adalah dunia kecilnya yang indah.Rasanya tidak adil saja untuk Bapak. Di usia senjanya harus seperti ini. Semua hal dilakukannya sendiri. Dia tidak akan meminta bantuan selama hal itu masih bisa dia kerjakan. Bahkan sakitpun, Bapak enggan aku suap. Lelaki tua itu begitu sabar dalam tidurnya.

25 September 20012
Lepas subuh bapak sudah terbangun. Suara berita pagi di televisi langsung di komentari Bapak. Aku masih bergegas menyiapkan keperluan mandinya. Bapak ingin sepagi mungkin keluar dari tempat ini. Air hangat, pakaian, pampers dan handuknya sudah siap. Aku menuntun bapak ke kamar mandi, membilasnya sembari mendengar komentarnya tentang berita tadi. Aku terkadang ikut tertawa juga. Bapak begitu bersemangat meski kakinya terkadang masih tergetar tiap kali mengubah posisinya. Semua baru berhenti ketika bapak menyikat giginya. Senang rasanya dia menikmati semua ini. Bergegas membereskan tempat tidur dan menyiapkan kursi duduknya untuk sarapan.

“sarapanku selalu tidak enak,” sambil makan Bapak mengomentari kesekian kalinya diet Rumah sakit.
“di rumah nanti aku buatkan ikan masak kesukaan bapak ya.”
“iya, Bapak ingin itu. Kamu masih tahu kan caranya,” tanyanya.
“tapi buatan ibu lebih enak.”
“aku suka jika kamu ingin membuatnya,” katanya sambil tertawa hingga memperlihatkan gigi bawahnya yang hampir habis.
Aku suka kalau dia tertawa terbahak seperti ini. Semangatnya telah kembali. Saat sarapan seperti aku suka membidiknya dengan kamera kecilku. Tingkah seperti artis saja. Bapak seolah tidak mengetahui kalau aku selalu melalukannya diam-diam.

Suara teleponku berbunyi. Aku keluar kamar karena tidak ingin menganggunya.

“dari siapa? koq lama diluar?” tanya Bapak.
Aku membereskan sisa sarapannya dan memberikan obat yang harus di minumnya.

“Pak, mas nono mengambil cuti panjang. Siang nanti akan tiba,” suara bergetar senang.
“artinya bertambah lagi yang akan menemaniku melihat acara liga di tengah malam,” tawanya begitu senang.

Senang rasanya berada di sisimu, mendengar suara napasmu, celotehmu, melihat binar semangatmu, membuat mata ini bisa terjaga untukmu setiap saat. Namun semua itu tak sebanding dengan ketulusan, keikhlasan, kasih sayang, dan doa tiada putusmu untukku.

Lelaki pertama dalam hidupku.