Takbir Ied – Mu

lima hari sebelum ied.

Baru merebahkan punggung di sofa rumah ini, ketika suara pesan berbunyi. Ada rasa malas membacanya. Mata ini butuh tidur setelah 17 jam menempuh jarak dari jakarta ke rumah ini. Bersyukur karena puasa masih terjaga selama perjalanan lebih 780 km ini.
Pantura masih terlintas di ingatan dengan segala keunikan menjelang mudik tahunan ied fitri ini.
Bersyukur kali ini karena mendapatkan libur lebih awal 5 hari sebelum ied. Membayangkan jika baru berangkat esok hari. Kemacetan bak ekor ular yang tak berujung. Bisa saja waktu tempuh lebih dari 24 jam

Suara pesan berbunyi. Membaca berurutan pesan dalam grup itu. Istri seorang teman mengalami HELLP syndrome dan akan menjalani cuci darah. Ini berita ke sekian kali yang aku dengar dalam bulan ini tentang seorang teman yang mengalami komplikasi kehamilan. Sejawat.
Yaa, sejawat bahkan diri sendiri pun tidak akan kuasa melawan jika itu takdir. Mencoba mencari tahu nomor kontak dalam daftarku. Akhirnya mendapatkan juga. Semoga dia masih menggunakan nomor yang sama.

Tersambung.
Menanyakan keadaan istrinya. Mencari tahu sedikit kejelasan yang telah terjadi. Tak banyak yang di bicarakan. Berharap dia tabah menjalani semua di ramadhan ini. Terdengar samar-samar suara yang begitu akrab. Suara mesin di ruangan itu. ICU.
Sepanjang pembicaraan singkat, bayangan tempat itu terpampang jelas di pelupuk mata.
Sudah lama rasanya menjauh dari dunia itu. Tidak sama dengan sebagian besar temanku yang lain. Mereka masih melanjutkan pendidikan dan begitu akrab dengan situasi itu.

Pilihan hidup yang berbeda, meski langkah awal sama.

*****

Lebaran kali ini di sini, di kota kecil ujung timur pulau Jawa. Mungkin ini yang kesekian kali menghabiskan takbir ramadhan. Rasanya tidak adil untuk ayahku. Selama merantau 8 tahun ini, baru sekali merasakan takbir ramadhan bersamanya. Itu pun dua tahun lalu.

Namun tahun ini, tetap memutuskan untuk menyambut syawal ini di kota kecil ini.
Akhirnya kerinduan bertemu diri lelaki tua itu hanya bisa melalui suaranya. Berjanji bertemu dengan beberapa hari setelah ied ini. Suara beratnya beberapa hari lalu saat dirinya berulang tahun ke 70. Serasa beda mendengar kali ini.

“Tekanan darahku normal dan gula darahku juga turun, ” katanya percaya diri.

“Sama sekali tidak ada keluhan selama puasa?” tanya ku.

Ada sedikit khawatir karena selama ini meski apapun dia hampir tidak pernah mengeluh. Mencoba menyakinkan diriku sendiri.

Sedikit menyinggung dia berkata,” kamu sudah lama tidak mencabuti ubanku,”

Air liur ini rasanya semakin pahit di puasa ini.

“Pulanglah, kalau sempat,” suara batuk

“Mungkin ibumu lebih rindu kepadamu,” katanya lanjut.

“Nisannya sudah di perbaiki sesuai permintaannu bulan lalu, tapi masih ‘kering’ tanaman sekelilingnya, ” katanya.

Aku terdiam di ujung telepon. Berusaha menyusun kata yang tiba-tiba hilang di otak ini.

“Iya, nanti aku akan mempercantik nisan itu,” mencoba berkata.

Telepon ditutup dengan tawanya yang renyah sambil berkata,”kau adalah diriku diwujud yg lain, percuma memanggilmu sekarang pulang. Engkau akan Pulang jika saat itu tiba.”

Sejauh apapun diri ini pergi, tetap anak kecilmu yg manja. Yang tiap bertemu akan selalu membersihkan kuku kakimu dan mencabuti ubanmu. Rindu itu selalu ada untukmu. Lembaran tiket masih di tanganku.

******

Suara takbir mulai terdengar selepas ashar.

Suara pesan terus bunyi dari gadget ini. Pesan datang dari seorang teman.

“Suamiku masuk RS dan langsung UGD. Nyeri punggung menghebat.”

Aku terduduk. Rasanya seperti ada gendam yang memukul kepala ini. Leukimia. Penyakit itu menghebat menyerang tubuh suaminya sejak pertengahan Ramadhan. Terakhir menjenguk beberapa hari lalu sebelum aku mudik ke kota ini.

Masih jelas raut mukanya yang semangat dengan kedatangan kami meski itu sudah jam 10 malam. Menemani kami sampai jam 1 malam dengan semangat. Padahal baru beberapa saat lalu, transfusi albumin selesai di lakukan.

Sulit menjelaskan.

Perkembangan terakhir, morfin sudah masuk 9 kali dengan dosis yg teruskan di naikkan, tapi kesakitan itu tetap berdiam dekatnya. Syringe pump dan segala macam infus sudah terpasang dan ICU tempat mereka mendengar takbir malam ini.

*****

Takbir bertambah ramai.

Suasana ramai sejak sore di kota. Lebaran ini menjadi sedikit unik. Dalam beberapa tahun, mungkin kali ini shalat ied menemukan kebersamaan lagi. Kali ini tidak ada shalat ied dalam 2 hari berturut karena perbedaan hilal.

Mungkin itu juga menjadikan semua orang tumpah ruah menyambut takbir. Perempuan, anak kecil sibuk dengan pawai becaknya selepas maqrib. Lelaki mempersiapkan beduk untuk takbir selepas ‘isya.

Tapi yang tidak bisa aku terima nalar, dimana hubungan petasan atau semacamnya dengan kumandang takbir. Malah petasan itu yang membawa petaka ketika 400 lebih rumah hangus terbakar di kawasan benhill, Jakarta Pusat beberapa minggu lalu.

Masih terbayang 1000 lebih pengungsi yang terpaksa hidup di pelataran rumah susun sampai pekuburan yang berada dekat situ. Melihat bayi-bayi yang masih bulanan ikut tidur di pengungsi seperti Tuhan menjatuhkan hukuman atas keteledoran yang tidak pantas itu.
Puasa menjadi ujian kali ini melihat tempat-tempat mereka. Tak layak menahan dingin di saat malam, dan meneduh di terik siang. Namun, itulah sementara tempat mereka. Mesti di syukuri. Dalam keterbatasan ruang, lebaran kali ini mereka masih berkumpul.

Sementara aku, mengikuti polaku juga. Lebaran jauh dari akar diriku. Menahan kenangan dan ingatan tentang suasana bau ketupat, buras dan masakan ayam bumbu lengkuas buatan ibu.
Melepas kenangan dengan mendengar suara serak lelaki tua lewat telepon maafku. Maaf, tidak menemanimu di malam takbir. Doa tidak putusmu selalu sampai bahkan sebelum menjadi nyata dalam hidup.

Mesti di syukuri. Karena mendengar takbir kali ini masih bersama orang – orang yang memilihku meneruskan akar budaya mereka.

Patut di syukuri. Membayangkan seorang teman menemani suami dengan Nyeri Kanker yang sangat meski terapi Morfin menemani sekarang. Tak terlintas dalam pikirannya, akan menemani suami tercinta di ruangan dingin tersebut. Hanya mempersiapkan diri jika perpisahan itu menjadi KehendakNya.

Harus di syukuri. Semoga ibu itu mengetahui suaminya setia menemaninya di ICU melewati masa-masa kritis HELLP . Karena takbir kali ini, akan terasa beda tanpa orang-orang tercinta.

Ya, bersyukurlah bagi mereka yang masih mendengar takbir akhir ramadhan ini bersama orang terkasih meski mungkin saat ini langit adalah atap mereka dan bumi menjadi alas tidurnya. Karena di suatu ruangan yang dingin dan tertata rapi ada seorang ibu menunggui suami dengan sisa napas dengan leukimia dan seorang suami menunggui istrinya dengan harap yang dalam, istrinya bisa melihat bayi baru mereka.

Karena kebersamaan ied fitri lebih berharga dari apapun. Sama berharganya dengan mukenah usang pemberian ibu.

*****

Kembali pulang. Kembali ke asal. Semua berduyung demi sebuah ciuman di tangan itu dan maaf terucap di bibirnya.

*with mother in law, who missed two her grandchildren in Sumbawa* akhir Ramadhan 1433H / Agustus 2012

8 thoughts on “Takbir Ied – Mu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s