Taraweh

20 Juli 2012, 19.00WIB @Thamrin Nine ·

Jadi ingat waktu ibu mengatakan kenalilah masjidmu, dan ramadhanlah waktu terbaik jika kamu ke mesjid. Sambil tersenyum dia mengambil mukenah dan sebual Al’quran kecil. Sepanjang jalan saya bahagia membayangkan akan shalat ditemani ibu di masjid dalam gang itu. Keriangan masa cilik yang selalu menjadi pelipur lara jika rindu dirimu.

“mengajinya harus lebih rajin dibanding yang biasanya, “ kata Cia sambil mengambil kain kudung panjangnya.

Ada yang khas dengan kain kudung panjang itu, karena kain penutup bagian kepala tidak seperti biasa nya. Memakainya harus dililit seperti memakai jilbab kain. Namun perlu keterampilan karena lilitan akan membungkus kepala dengan hanya menjepitnya saja tanpa peniti atau pentul. Belum lagi menyisakan kain lebih panjang setelah nya. Beberapa kali mencobanya namun selalu terlepas dari kepala ini,

“kamu memakai kudung yang sudah jadi saja, ini sudah ketinggalan zaman,’’ katanya sambil tersenyum melihatku sering terlilit kain kudungnya yang panjang.

‘iya Cia, ini terlalu besar, tidak adakah ukuran lebih kecil dari ini.”

“sudah tidak ada lagi yang membuat seperti ini. Sekarang sudah banyak yang lebih baik,”katanya.

“tapi aku ingin memakai seperti ini, seperti cara Cia, seperti indo’ juga memakainya, “kataku sambil mencoba entah keberapa kali.

Iya, aku ingin seperti mereka. Seperti Cia dan indo’ ku. Mereka begitu cekatan dengan kudung panjang berbentuk bujursangkar itu. Tangan mereka seperti meliuk menari diatas kepala mereka jika memakainya. Begitu luwes. Mereka adalah perempuan-perempuan luarbiasa. Di mataku mereka selalu ikhlas menjalani hidup ini. Sangat jarang melihat mata mereka lelah dengan kehidupan yang senua serba pas – pasan ini.

Pernah sekali waktu melihat Cia memandang kosong sambil mengambil kain seprei yang dijemur, dan tanpa dia sadari mulutnya berkomat kamit, entah apa yang dia katakan. Hatiku menjadi bertanya. Akhirnya aku sering memperhatikan Cia secara diam-diam. Kali waktu, Cia melakukan sewaktu dia memasak ataupun sambil menyikat baju-baju yang di cucinya. Entah berapa lama aku melakukan itu. Terkadang dalam pikiranku terlintas, apakah dia sedang bercakap dengan sesuatu yang kasat mata. Namun kalaupun demikian alangkah lucunya, karena Cia bukan orang yang suka dengan mahluk yang satu itu. Katanya, ‘mahluk2’ itu kebanyakan jahat dan hanya mau menganggu manusia saja. Kalaupun ada yang baik, hanya sedikit saja dan mereka tidak akan mau masuk ke dunia kita. Jadi, komat kamit itu ???

Sekali waktu, aku akhirnya bisa menanyakan arti komat kamit itu. Dan aku mendapatkan mata dengan tatapan aneh dan lama. Cia menanyaiku sekali utk mengulangi pertanyaan ku.

“iya, selama ini aku selalu melihat Cia berbicara sendiri, padahal sekeliling tidak ada siapapun.”

Matanya makin aneh melihatku dan membuatku tidak nyaman. Tidak ada senyum di sana. Namun aku tidak mau menyerah dengan caranya kali ini. Semakin lama aku melihat ada segurat senyum di bibir tersinggung. Sangat tipis tapi aku yakin sedikit lagi pertanyaan itu menemukan jalannya. Dan tiba suara gelak tawa keluar juga dari dirinya. Tawanya yang manis namun lantang. Membuatku ikut tertawa dan menertawakan diriku juga. Bodoh rasanya menantang matanya tadi yang serasa galak ingin menerkamku…

‘hahahahaha, berapa  sering kamu memperhatikanku melakukan itu?” tanya nya sambil meletakkan semua tumpukan seprei baru itu.

“sering, tiap saat malah ,” kata sambil tersenyum malu seakan ketahuan menguntit nya selama ini.

“kamu pernah tahu apa yang aku komat kamitkan,” tanya nya selidik.

“ga lah Cia, kalo tahu untuk apa aku bertanya sekarang,’’ sambil tertawa aku.

“suatu saat kamu juga akan melakukannya, percayalah,” sambil Cia memegang pipi ku

“suatu saat sahabatku, suatu saat dengan cara mu sendiri, “

Aku tersenyum.

“bakat komat kamit itu sudah kamu dapatkan juga, “ katanya sambil menyentuh tepat di jantung ku.

“tugasmu sekarang memperhatikan saja ya sayang,” katanya dengan senyum betul – betul lucu melihatku.

“iya Cia, “ riang sekali hatiku, karena tidak usah bersembunyi sambil melihat nya komat kamit.

Itu Cia, Ibuku, selalu saja penuh misteri. Misteri yang bagiku tak pernah habis untuk di ungkap. Selesai misteri yang lain maka akan muncul yang lainnya. Termasuk misteri komat kamit nya itu. Selalu saja ingin mendengar apa yang sering dia ungkapkan namun tetap saja gendang telinga ini sangat tidak peka utk mendengarnya. Berharap bukan karena serumen di dalamnya atau karena otitis yang mungkin aku derita akibat rhinitis alergi yang biasa muncul secara tiba-tiba.

Dan mungkin karena Cia mengetahui rasa penasaranku, kadang dia tertawa melihatku malah di kala dia sedang komat kamit itu. Rasanya sungguh lucu ketika berpandang dengannya pas ketika aku memperhatikan dan mulutnya pun masih komat kamit. Biasanya kami langsung tertawa terbahak-bahak sambil aku kabur meninggalkan dia atau malah berlari sambil memeluk nya dan dia tetap saja dengan tertawa terbahak nya yang begitu manis namun lantang.

Malam pertama taraweh selalu di sambut gembira oleh kami empat bersaudara, namun yang paling bergembira mungkin si sulung kakakku. Rasanya sejak sore dia sudah ceria saja.

“pasti kamu akan bermain lagi sampai tengah malam, “ kataku nyinyir

“hussshhh jangan ikut-ikutan, mau tahu kamu,” sambil membelakkan matanya.

Aku tidak pernah takut dengan tingkah polanya. Kadang membencinya saat dia menyusahkan Cia dan Tetta karena ulahya. Membuat lubang di kepala temannya , berkelahi dengan teman-temannya sampai berurusan dengan orang sekampung. Akibat kelakuan itu sampai untuk sekolah dasar saja dia harus berpindah sekolah sampa tiga kali. Entahlah, tapi Cia selalu membelanya. Namun aku kasian juga jika dia harus di dudukkan sebagai tersangka karena kenakalannya. Kadang mengintip dari balik tirai dapur melihatnya.

Sebenarnya dia baik hati. Menemani diriku ke toko buku dengan sepeda meski jadwal bermain dengan temannya harus berkurang, bahkan adik kecilku sering dimandikan sambil bermain air. Dan paling menyenangkan, selalu mengajak kami bertiga bermandi hujan meski Cia memaksa kami untuk masuk ke rumah. Dan pada akhirnya keempat kamu akan mendapatkan kibasan rotan Cia akibat mengotori lantai kayu rumah kami dengan air hujan dan lumpur. Senyum memori itu selalu membuat diri rindu itu. Bagi kami adik-adiknya bak artis saja karena ulahnya. Siapa yang tidak mengenal dia, seorang bocah umur 12 tahun yang berani terjun di kanal yang lagi meluap untuk menolong seorang bocah 2 tahun yang tergelincir waktu hujan dan petir bersahut-sahutan. Kemanjaannya kepada Cia membuat selalu merasa ada yang melindungi.

“kamu jangan marah dengan kakakmu ,” kata ibu suatu waktu

“dia itu saudara laki-laki kamu satu-satunya,”

“ada saatnya dia akan sadar akan keberadaan dirinya sebagai laki-laki dan pada saat itu kalian bertiga akan bangga padanya,” kata Cia lebih lanjut.

Terkadang kecemburuan itu muncul juga.

“tapi dia selalu membuat orang sekampung datang ke rumah ini Cia,” kataku protes

“selalu membuat malu Tetta dan aku takut kalau Tetta sudah marah dan diam sampai 3 hari,”

Cia selalu membela dengan gigih kalau aku sudah kesal.

“tapi semua yang di lakukan itu ada alasannya sahabat kecil ku, “

“suatu saat kamu akan mengerti mengapa perlakuan terhadap dirimu dan dia berbeda,” Cia berusaha merebut hatiku dengan bijaknya.

Apapun itu alasannya, tapi dia selalu membawa masalah itu pulang kerumah. Bagian itu yang paling aku tidak sukai. Bagiku, apapun yang terjadi di luar rumah jangan bawa ke dalam rumah ini. Selesaikan di luar sana.  Kekesalan itu secara tidak sadar tersimpan rapi dalam alam bawah sadarku. Tersimpan dengan rapi sampai saat ini. Selesaikan setelah itu lanjutkan lagi hidupmu.

Bergegas aku menyiapkan sendal ke dua adikku sambil menunggu pintu rumah di tutup oleh Tetta. Rasanya menyenangkan menyeruak di hati ini. Sambil berjalan, kedua adikku berceloteh meminta manisan jika pulang shalat nanti. Semua permintaan itu di iyakan oleh Cia. Yang penting semua gembira di awal ramadhan kali ini. Kuliat kakakku berjalan dengan tenang di samping Tetta, sambil sesekali menengok kami yang ada di belakang dia. Kami tertawa karena dia tidak bisa leluasa seperti kami. Padahal Tetta berjalan dengan santainya sambil sesekali memegang tangannya agar dia memperhatikan jalannya.

“ramai ya Cia, sendalnya taruh dimana? tanya ku kemudian..

“taruh saja di samping pintu itu tidak akan hilang karena sendal kita tidak bagus juga, “ katanya lagi sambil tersenyum.

Memasuki Ramadhan selalu mendatangkan kerinduan yang dalam tentang sebuah rumah di pulau seberang. Ramadhan, selalu membuatku rindu masa kecilku, rindu rumah yang sebenarnya, rumah yang bukan hanya sekedar untuk tidur selepas lelah kerja.

Kali ini maaf ya Cia, awal ramadhan ini belum sempat menziarahi kuburmu dan belum bisa menemani ramadhan Tetta.

Berada jauh dari Kalian semua selalu menyadarkan diri.

 

 

 

 

10 thoughts on “Taraweh

  1. Saya bisa membayangkan wajahnya Cia saat membacanya, so deskriptip,, kebetulan saya sempat kenal dengan Cia waktu kecil dulu,,
    Tulisannya bagus Turi,,

    • ampun ini saja satu selesai pas deadline nya, malam pertama ramadhan… sulit cari waktu dan tempat utk bisa… pdhl tadi sy selesaikan 70 persen dalam satu jam,,, hahahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s