Bocah – Bocah ( Catatan Kecil di Bagian Terakhir Tingkat 5 bersama Teman-temanku )

Bocah – Bocah

Bocah itu terbaring tak berdaya dengan selang infus dan sonde yang masuk melalui hidungnya yang merupakan tanda bahwa ia masih berhak untuk hidup di dunia ini. Wajahnya yang putih, lugu dan tak berdosa itu membuat iba. Kesadaran yang tiba-tiba hilang setelah sebelumnya anak itu kejang selama kurang lebih dua jam di rumahnya. Seorang perempuan terlelap tidur disampingnya tiba-tiba terbangun. Seakan matanya berkata betapa dingin dan sepinya malam ketika ia menemani anaknya berjuang melawan maut. Aku mencoba menggenggam tangannya pergelangan tangannya, mencari tanda-tanda kehidupannya. Kuhitung denyut nadi yang lemah selama semenit kemudian pernapasannya. Jam menunjukkan pukul 03.00 subuh ketika hasil follow up kutulis di selembar kertas yang tergantung di samping tempat tidur .

Malam makin larut, aku membayangkan betapa hangat kamarku yang terpaksa aku tinggal karena tugas malam ini. Udara semakin menusuk masuk ke tulang ketika harus melangkahkan kaki menyusuri lorong bangsal rumah sakit ini. Aku berhenti tepat di sebuah kamar bertuliskan Kamar Hematologi. Kamar dimana pasiennya menderita penyakit perdarahan. Kalau selama ini yang dikenal hanya leukimia maka selain itu ada yang dinamakan anemia aplastik dan ITP. Manifestasi klinik yang selalu muncul adalah keadaan dimana mereka selalu pucat dan perdarahan yang selalu ada. Perdarahan itu bisa saja keluar dari hidung, gusi ataupun ada memar yang timbul di bawah kulit. Dan yang lebih ditakutkan lagi mereka sangat mudah terinfeksi. Apalagi jika kondisi mereka tiba-tiba saja turun secara drastis. Itu juga yang menjadi sebab mereka selalu keluar masuk rumah sakit. Diantara mereka yang menderita leukimia yang sudah kronik mungkin saja terjadi pembesaran organ dalam tubuh mereka seperti splenomegali membuat perut mereka membesar. Tubuh membesar bukan karena gizi tapi beban yang besar yang mereka bawa. Obat Kemoterapi yang mereka dapatkan membuat pertumbuhan mereka kelihatan sangat aneh dibanding dengan umur dan anak-anak yang sebaya dengan mereka. Tubuh mereka gemuk dan muka terlihat seperti moon face tapi akibat obat kemoterapi yang mereka konsumsi.

Aku menarik napas panjang, terbayang bau darah akan menusuk dan penderitaan dimuka setiap bocah yang dirawat. Dalam kamar itu ada delapan buah tempat tidur dan semuanya terisi oleh bocah-bocah dengan sakit yang sakit yang tidak pernah mereka minta. Beberapa tenang dalam tidur namun leukimia yang mereka derita membuat setiap saat kondisi mereka dapat menurun. Maut tak segan meminta mereka dari orang yang dicintainya. Dan diantara mereka bahkan harus bergantung dari transfusi yang mereka harus terima selama hidup mereka.

Aku membuka pintu dengan hati-hati, berusaha untuk membuat suara yang minimal. Segera sesaat aku membuka pintu, bau darah busuk menyengat. Sedetik dua detik mencoba beradaptasi dengan udara kamar itu. Aku mendekati salah satu tempat tidur. Seorang bocah sedang dielus oleh ibunya. Udara yang mungkin tidak mengenakkan membuatnya terus menangis. Aku memandangnya dan mengelus berusaha menenangkan dirinya ataupun menenangkan hatiku melihat penderitaanya. Darah yang mengering masih ada di sekitar hidung dan bibirnya yang mungil. Entah kenapa anemia aplastik itu harus singgah di bocah ini. Sementara itu dia harus kehilangan masa kecilnya yang begitu manis. Dia hanya memandangku dengan mata kosong seakan ingin berkata kapan penderitaannya akan berakhir. Andai kata pun dia bertanya demikian, mungkin yang terucap dari mulutku adalah suatu ketidakpastian yang pasti.

Kulakukan prosedur follow up yang biasa kulakukan. Tetes transfusi ku hitung lagi, harus dilakukan agar tidak terjadi overloading, yang akan membebani jantungnya. Ku genggam tangannya sebelum beralih ke sebelahnya. Penderitaan yang terlihat tidak jauh beda. Hanya saja transfusi set sudah tidak terpasang lagi. Tidak ada lagi darah yang keluar dari hidung ataupun sekitar bibirnya. tapi itu biasanya tidak akan bertahan lama. Kulakukan prosedur yang sama dan jam menunjukkan pukul 04.00 subuh ketika aku keluar dari ruangan ini, seiring suara orang mengaji dari mesjid rumah sakit.

Aku bertemu dengan beberapa co ass yang juga baru saja melakukan follow up di kamar jantung. Kami berjalan bersama melewati ruangan ICU/ICCU. Ada banyak orang dengan setumpuk barang seperti rombongan penumpang kapal. Tapi ini bukan penumpang melainkan keluarga pasien yang sedang menunggui keluarga mereka yang lagi meregang nyawa. Kebanyakan dari mereka datang dari luar daerah dan membawa segala macam perbekalan.

Kubelokkan langkahku ke ruangan PICU. Sebenarnya aku benci untuk masuk ruangan ini, bukan saja karena AC yang terus menyala menyebabkan suhunya seperti berada didaerah kutub tapi pasien yang di rawat disini selalu berakhir dengan kematian. Seorang teman memberikan selembar kertas berisi follow up pasien dan memberitahu keadaanya satu jam terakhir.

“keadaannya ga begitu bagus,” kata teman itu

“berharap malam ini bisa kita lewati dengan tenang,” tambahnya sambil menghela napasnya.

“iya, rasanya malam ini agak berat, pasien kamar Hematologi juga tidak begitu tenang,” kataku.

“masih ada satu transfusi terpasang ,” kataku mengingatkan

“baik, aku duluan yaa, lumayan bisa rehat 10 menit sebelum follow up transfusi, ”

“nih, cemilanku. Lumayan untuk ruangan PICU ,” sambil menyerahkan sekantong kripik kentang padaku.

“hihihihi.. makasih ya, good luck ,” sambil berlalu. Kami berpisah setelah percakapan singkat itu.

Seorang bocah 3 tahun yang kelihatan sedang tidur nyenyak. Namun sebenarnya dia mengalami ensefalopati yang membuatnya tidak sadar. Dia sudah lima hari dalam keadaan seperti ini. Seandainya pun dia sadar tapi akan membawa sekuele akibat keadaannya sekarang. Segala macam selang masuk ke dalam dirinya. Tiba-tiba saja anak itu apneu, segera aku melakukan resusitasi dan memanggil perawat untuk menolongku. Ku hitung denyut jantung melalui stetoskop. Resusitasi berhasil dalam beberapa menit, berharap tidak apneu lagi. Setelah semua kembali normal, aku menghitung ulang denyut nadi napas dan suhunya. Suhu tubuh nya mencapai angka 39. Aku mengganti handuk yang telah mengering dan membasahi dengan air hangat dan meletakkan kembali di dahinya.

Sejenak memandang wajahnya. Dalam hati,” kamu lagi mimpi apa bocah manis,”

“begitu indahkah mimpimu sampai engkau enggan membuat kami bahagia dengan senyummu.”

Kuliat lembar follow up, ternyata selama satu jam lalu ia mengalami apneu tiap 15 menit. Dan ini berarti aku harus terjaga terus selama satu jam ini. Tetap terjaga kalau tidak anak ini Gone With the Wind. Aku harus berada di dekatnya sampai pukul 05.30 subuh ini atau sampai ada yang menggantikan mengawasinya. Kuambil sebuah kursi untuk bisa duduk lebih dekat. Aku tak ingin sekejap mata pun tak melihatnya. Wajahnya memucat cenderung cyanosis. Mungkin akibat serangan apneu yang sering itu. Kulihat seorang perempuan duduk berbatas kaca dengan kami. Matanya sangat lelah. Mungkin selama ini dia belum mendapatkan tidurnya. Kami permandangan sejenak. Saling melempar senyum dan seakan batin kami berkata yang sama, ” dia anak lucu dan sangat manis.”

Sekali lagi kuliat lembaran kertas itu mencari jadwal sondenya. 15 menit lagi sonde untuk dia. itu artinya aku masih punya waktu duduk sejenak dan memandangnya dengan puas. Tapi udara ruangan ini betul-betul membuatku menggigil. Sejenak kuluruskan kaki ku dan tetap memandang wajahnya.
Perempuan itu menyiapkan segala sesuatu untuk membuat segelas susu. Kuambil spoit yang telah di cuci dan mulai melakukan aspirasi. Tindakan itu aku lakukan perlahan. terlihat cairan kecoklatan dari lambungnya keluar melalui sonde itu. Aspirasi selesai setelah cairan itu berganti dengan cairan berwarna putih. Kubuatkan susu dan memasukkan dengan sangat perlahan ke lambungnya melalui sonde itu. Sementara itu aku tetap perhatikan pernapasannya. Terkadang memandang wajahnya yg manis. Berharap dia tersenyum meski hanya setarikan untukku. Namun memandangnya tidur seperti ini saja, dia tetap manis.

Jam menunjukkan 05.20 subuh ketika sonde itu selesai aku lakukan. 10 menit lagi jadwalku akan selesai untuknya. Ku ambil stetoskop kecilku untuk follow up terakhir kali, ketika serangan apneu itu tiba-tiba datang. Segera kulakukan tindakan resusitasi lagi namun hatiku merasakan sesuatu yang lain. Segera aku hubungi dokter jaga. Tidak lama, beberapa teman co ass telah datang dan membantu dalam resusitasi. Dokter meminta menambah jumlah oksigen dan melihat kembali cairan infusnya. Keadaan tidak bertambah baik. Tanganku terasa dingin dan gemetar memegang tensimeterku, mataku berkunang sambil berharap jangan pergi sekarang, banyak orang yang menyayangi keberadaanmu di dunia ini. Kulihat bibirnya bertambah biru, kupandangi dia dengan iba. Aku tidak tahu untuk apa dia hadir di dunia ini dengan keadaan seperti ini dan dalam waktu yang begitu cepat. Masih banyak yang merindukan tangis dan tawamu. Kulihat seorang laki-laki memeluk perempuan itu. Berusaha menguatkan perempuan itu atau mungkin malah untuk menguatkan dirinya sendiri.

Semua berlalu begitu cepat. Sangat cepat ketika dokter mengatakan ia telah ‘pergi’. Suara tangis semakin melengking di ruangan kecil itu. Kuelus pipinya. Berharap ini bukan terakhir kali melakukan untuknya. Tapi mungkin ini terbaik untuknya. Ya, kalimat itu selalu menjadi pemungkas untk keadaan seperti ini. Aku tak tahu berapa banyak lagi penderitaan seperti ini yang akan aku temui. Tapi yang pasti akan lebih banyak lagi tawa dari bocah-bocah yang bisa memenangkan maut dan bagiku itu sudah cukup sebagai bayarannya.

Terima kasih, dirimu masih memberi kesempatan melewati sisa malam ini bersamaku.

Dedicated :
Untuk yang Pernah coass bersamaku di Bagian Anak 2002.
Catatan ini pernah menjadi bagian indah hidup kita.
Selamat Hari Anak, bahagia rasanya di beri kesempatan mengenal banyak anak dalam hidup ini.

Taraweh

20 Juli 2012, 19.00WIB @Thamrin Nine ·

Jadi ingat waktu ibu mengatakan kenalilah masjidmu, dan ramadhanlah waktu terbaik jika kamu ke mesjid. Sambil tersenyum dia mengambil mukenah dan sebual Al’quran kecil. Sepanjang jalan saya bahagia membayangkan akan shalat ditemani ibu di masjid dalam gang itu. Keriangan masa cilik yang selalu menjadi pelipur lara jika rindu dirimu.

“mengajinya harus lebih rajin dibanding yang biasanya, “ kata Cia sambil mengambil kain kudung panjangnya.

Ada yang khas dengan kain kudung panjang itu, karena kain penutup bagian kepala tidak seperti biasa nya. Memakainya harus dililit seperti memakai jilbab kain. Namun perlu keterampilan karena lilitan akan membungkus kepala dengan hanya menjepitnya saja tanpa peniti atau pentul. Belum lagi menyisakan kain lebih panjang setelah nya. Beberapa kali mencobanya namun selalu terlepas dari kepala ini,

“kamu memakai kudung yang sudah jadi saja, ini sudah ketinggalan zaman,’’ katanya sambil tersenyum melihatku sering terlilit kain kudungnya yang panjang.

‘iya Cia, ini terlalu besar, tidak adakah ukuran lebih kecil dari ini.”

“sudah tidak ada lagi yang membuat seperti ini. Sekarang sudah banyak yang lebih baik,”katanya.

“tapi aku ingin memakai seperti ini, seperti cara Cia, seperti indo’ juga memakainya, “kataku sambil mencoba entah keberapa kali.

Iya, aku ingin seperti mereka. Seperti Cia dan indo’ ku. Mereka begitu cekatan dengan kudung panjang berbentuk bujursangkar itu. Tangan mereka seperti meliuk menari diatas kepala mereka jika memakainya. Begitu luwes. Mereka adalah perempuan-perempuan luarbiasa. Di mataku mereka selalu ikhlas menjalani hidup ini. Sangat jarang melihat mata mereka lelah dengan kehidupan yang senua serba pas – pasan ini.

Pernah sekali waktu melihat Cia memandang kosong sambil mengambil kain seprei yang dijemur, dan tanpa dia sadari mulutnya berkomat kamit, entah apa yang dia katakan. Hatiku menjadi bertanya. Akhirnya aku sering memperhatikan Cia secara diam-diam. Kali waktu, Cia melakukan sewaktu dia memasak ataupun sambil menyikat baju-baju yang di cucinya. Entah berapa lama aku melakukan itu. Terkadang dalam pikiranku terlintas, apakah dia sedang bercakap dengan sesuatu yang kasat mata. Namun kalaupun demikian alangkah lucunya, karena Cia bukan orang yang suka dengan mahluk yang satu itu. Katanya, ‘mahluk2’ itu kebanyakan jahat dan hanya mau menganggu manusia saja. Kalaupun ada yang baik, hanya sedikit saja dan mereka tidak akan mau masuk ke dunia kita. Jadi, komat kamit itu ???

Sekali waktu, aku akhirnya bisa menanyakan arti komat kamit itu. Dan aku mendapatkan mata dengan tatapan aneh dan lama. Cia menanyaiku sekali utk mengulangi pertanyaan ku.

“iya, selama ini aku selalu melihat Cia berbicara sendiri, padahal sekeliling tidak ada siapapun.”

Matanya makin aneh melihatku dan membuatku tidak nyaman. Tidak ada senyum di sana. Namun aku tidak mau menyerah dengan caranya kali ini. Semakin lama aku melihat ada segurat senyum di bibir tersinggung. Sangat tipis tapi aku yakin sedikit lagi pertanyaan itu menemukan jalannya. Dan tiba suara gelak tawa keluar juga dari dirinya. Tawanya yang manis namun lantang. Membuatku ikut tertawa dan menertawakan diriku juga. Bodoh rasanya menantang matanya tadi yang serasa galak ingin menerkamku…

‘hahahahaha, berapa  sering kamu memperhatikanku melakukan itu?” tanya nya sambil meletakkan semua tumpukan seprei baru itu.

“sering, tiap saat malah ,” kata sambil tersenyum malu seakan ketahuan menguntit nya selama ini.

“kamu pernah tahu apa yang aku komat kamitkan,” tanya nya selidik.

“ga lah Cia, kalo tahu untuk apa aku bertanya sekarang,’’ sambil tertawa aku.

“suatu saat kamu juga akan melakukannya, percayalah,” sambil Cia memegang pipi ku

“suatu saat sahabatku, suatu saat dengan cara mu sendiri, “

Aku tersenyum.

“bakat komat kamit itu sudah kamu dapatkan juga, “ katanya sambil menyentuh tepat di jantung ku.

“tugasmu sekarang memperhatikan saja ya sayang,” katanya dengan senyum betul – betul lucu melihatku.

“iya Cia, “ riang sekali hatiku, karena tidak usah bersembunyi sambil melihat nya komat kamit.

Itu Cia, Ibuku, selalu saja penuh misteri. Misteri yang bagiku tak pernah habis untuk di ungkap. Selesai misteri yang lain maka akan muncul yang lainnya. Termasuk misteri komat kamit nya itu. Selalu saja ingin mendengar apa yang sering dia ungkapkan namun tetap saja gendang telinga ini sangat tidak peka utk mendengarnya. Berharap bukan karena serumen di dalamnya atau karena otitis yang mungkin aku derita akibat rhinitis alergi yang biasa muncul secara tiba-tiba.

Dan mungkin karena Cia mengetahui rasa penasaranku, kadang dia tertawa melihatku malah di kala dia sedang komat kamit itu. Rasanya sungguh lucu ketika berpandang dengannya pas ketika aku memperhatikan dan mulutnya pun masih komat kamit. Biasanya kami langsung tertawa terbahak-bahak sambil aku kabur meninggalkan dia atau malah berlari sambil memeluk nya dan dia tetap saja dengan tertawa terbahak nya yang begitu manis namun lantang.

Malam pertama taraweh selalu di sambut gembira oleh kami empat bersaudara, namun yang paling bergembira mungkin si sulung kakakku. Rasanya sejak sore dia sudah ceria saja.

“pasti kamu akan bermain lagi sampai tengah malam, “ kataku nyinyir

“hussshhh jangan ikut-ikutan, mau tahu kamu,” sambil membelakkan matanya.

Aku tidak pernah takut dengan tingkah polanya. Kadang membencinya saat dia menyusahkan Cia dan Tetta karena ulahya. Membuat lubang di kepala temannya , berkelahi dengan teman-temannya sampai berurusan dengan orang sekampung. Akibat kelakuan itu sampai untuk sekolah dasar saja dia harus berpindah sekolah sampa tiga kali. Entahlah, tapi Cia selalu membelanya. Namun aku kasian juga jika dia harus di dudukkan sebagai tersangka karena kenakalannya. Kadang mengintip dari balik tirai dapur melihatnya.

Sebenarnya dia baik hati. Menemani diriku ke toko buku dengan sepeda meski jadwal bermain dengan temannya harus berkurang, bahkan adik kecilku sering dimandikan sambil bermain air. Dan paling menyenangkan, selalu mengajak kami bertiga bermandi hujan meski Cia memaksa kami untuk masuk ke rumah. Dan pada akhirnya keempat kamu akan mendapatkan kibasan rotan Cia akibat mengotori lantai kayu rumah kami dengan air hujan dan lumpur. Senyum memori itu selalu membuat diri rindu itu. Bagi kami adik-adiknya bak artis saja karena ulahnya. Siapa yang tidak mengenal dia, seorang bocah umur 12 tahun yang berani terjun di kanal yang lagi meluap untuk menolong seorang bocah 2 tahun yang tergelincir waktu hujan dan petir bersahut-sahutan. Kemanjaannya kepada Cia membuat selalu merasa ada yang melindungi.

“kamu jangan marah dengan kakakmu ,” kata ibu suatu waktu

“dia itu saudara laki-laki kamu satu-satunya,”

“ada saatnya dia akan sadar akan keberadaan dirinya sebagai laki-laki dan pada saat itu kalian bertiga akan bangga padanya,” kata Cia lebih lanjut.

Terkadang kecemburuan itu muncul juga.

“tapi dia selalu membuat orang sekampung datang ke rumah ini Cia,” kataku protes

“selalu membuat malu Tetta dan aku takut kalau Tetta sudah marah dan diam sampai 3 hari,”

Cia selalu membela dengan gigih kalau aku sudah kesal.

“tapi semua yang di lakukan itu ada alasannya sahabat kecil ku, “

“suatu saat kamu akan mengerti mengapa perlakuan terhadap dirimu dan dia berbeda,” Cia berusaha merebut hatiku dengan bijaknya.

Apapun itu alasannya, tapi dia selalu membawa masalah itu pulang kerumah. Bagian itu yang paling aku tidak sukai. Bagiku, apapun yang terjadi di luar rumah jangan bawa ke dalam rumah ini. Selesaikan di luar sana.  Kekesalan itu secara tidak sadar tersimpan rapi dalam alam bawah sadarku. Tersimpan dengan rapi sampai saat ini. Selesaikan setelah itu lanjutkan lagi hidupmu.

Bergegas aku menyiapkan sendal ke dua adikku sambil menunggu pintu rumah di tutup oleh Tetta. Rasanya menyenangkan menyeruak di hati ini. Sambil berjalan, kedua adikku berceloteh meminta manisan jika pulang shalat nanti. Semua permintaan itu di iyakan oleh Cia. Yang penting semua gembira di awal ramadhan kali ini. Kuliat kakakku berjalan dengan tenang di samping Tetta, sambil sesekali menengok kami yang ada di belakang dia. Kami tertawa karena dia tidak bisa leluasa seperti kami. Padahal Tetta berjalan dengan santainya sambil sesekali memegang tangannya agar dia memperhatikan jalannya.

“ramai ya Cia, sendalnya taruh dimana? tanya ku kemudian..

“taruh saja di samping pintu itu tidak akan hilang karena sendal kita tidak bagus juga, “ katanya lagi sambil tersenyum.

Memasuki Ramadhan selalu mendatangkan kerinduan yang dalam tentang sebuah rumah di pulau seberang. Ramadhan, selalu membuatku rindu masa kecilku, rindu rumah yang sebenarnya, rumah yang bukan hanya sekedar untuk tidur selepas lelah kerja.

Kali ini maaf ya Cia, awal ramadhan ini belum sempat menziarahi kuburmu dan belum bisa menemani ramadhan Tetta.

Berada jauh dari Kalian semua selalu menyadarkan diri.