Tarian Bumi

Lamno, Aceh Jaya. Hari ke 3 di Januari 2005.

Entah ini sudah pasien ke berapa hari ini. Sudah tengah hari, tapi pasien masih berjejer di depan pintu ini. Dokter Arman masih membantu seorang pasien yang kulit kakinya robek terkena seng. Sepertinya aku masih harus terus melanjutkan sampai dia benar-benar selesai.

“pasien masih banyak dok,” kata pak Ardi
“iya pak,” kataku.
“nanti gantian dengan dokter Arman saja,” katanya sambil memasukkan beberapa obat kedalam plastik.
“iya pak,” aku berusaha tersenyum dan menegakkan punggung di kursi kayu ini.

Seorang anak kecil, duduk di pintu. Rasanya sedari tadi dia membperhatikan sambil memegang mainan kayunya. Tampaknya dia baik-baik saja. Wajahnya bersih dengan warna kulit kecoklatan. Matanya bersinar terus sambil terkadang berbicara dalam bahasa daerah Aceh dengan beberapa orang yang menegur. Aku tersenyum melihatnya begitu seksama memperhatikan dokter arman menjahit luka. Meski terkadang pandangan kadang terhalang namun dia tidak mencoba masuk lebih dalam. Akhirnya dia sadar juga kalau aku melihat.

“kesini aja,” ajakku.

Segera dia mendekat tanpa ragu.

“boleh aku di samping kakak?” katanya.
“boleh.”
“terima kasih ya kak,” riang benar dia mendapat kesempatan masuk lebih ke dalam ke ruang pemeriksaan pengungsi ini.

Aku mengambikan dia satu kursi untuk dia.

“temani kakak ya.”
“iya kak, sudah capek pula rasanya berjongkok,” katanya riang.

Jadilah sepanjang hari hingga senja dia menemaniku. Meski dia hanya diam dan sesekali tertawa mendengarku menjelaskan beberapa hal kepada pasien. Perbedaaan bahasa membuatku menggunakan bahasa tangan agar mereka mengerti apa yang ingin aku sampaikan. Terlebih jika pasian yang berusia lanjut. Bahasa Indonesia seakan menjadi bahasa asing bagi mereka. Teman kecil itu sambil tertawa terkadang membisikkan kepadaku beberapa bahasa daerah itu. Pekerjaan hari ini menjadi lebih ringan ditemani dia.

“namaku Muhajir kak.”
“oh iya, sejak tadi kita belum berkenalan,” kataku.
“nama kakak siapa?”
“panggil Rian, ” kataku melihatnya bersemangat membantuku membereskan ranselku.
“dokter Rian?”
“jangan dengan dokter, pakai kakak saja.”
“iya kak Rian,” sambil tertawa dia.

Itulah awal perkenalanku dengan bocah laki-laki itu. Dan sejak hari itu, setiap kali aku mendapat tugas di posko kesehatan dia selalu mendampingiku. Tentu saja dengan tambahan sedikit tugas dariku. Menjadi penerjemahku selama pemeriksaan kesehatan. Anak yang cerdas. Dengan gampang saja dia bisa menghapal urutan anamnesa yang aku lalukan. Dan terkadang sebelum aku memulai menanyakan keluhan pasien dia sudah bercakap duluan. Terlebih dengan pasian usia lanjut. Banyak dari mereka tidak tahan menahan geli ketika Muhajir menanyakan banyak hal keluhan mereka.

“kak Rian, ada yang ingin di jelaskan ke bapak ini,” katanya sambil berbisik.
“iya, tolong bilangan saja setelah obat habis nanti datang lagi.”
“itu saja?”
“hmmm, rokoknya dikurangi sedikit ya,” biskku perlahan.
“oke kak,” sambil mengerlingkan matanya.

Dan setelah itu Muhajir akan berbicara dalam bahasa Aceh yang terdengar seperti orang yang profesional. Dan akan panjang dia menjelaskan kepada pasien. Bapak tua tertawa sampai giginya yang tinggal dua itu terlihat lucu. Mujahir tetap saja berbicara dengan mimik serius. Bapak tua akhirnya mengacak rambut Muhajir dan mereka tertawa. Entah apa yang tadi mereka perbicangkan.Semua orang di ruangan ikut tertawa melihat kejadian itu. Muhajir menjadi malu dan berusaha menyembunyikan mukanya dibalik punggungku. Muhajir anggota tim kami dalam pelayanan ini. Dia tak ragu lagi mendekati dokter Arman yang seorang tentara itu. Bahkan Pak Ardi yang terlihat sangar selama ini menjadi ramah dengan kehadiran Muhajir.

Aku menghabiskan hari-hariku di daerah yang baru saja beberapa hari lalu terkena tsunami. Bekasnya saja masih nampak.
Sore hari ketika kegiatan mulai berkurang, aku bersepeda ke tepi pantai. Berdua memakai sepeda Mujahir yang tanpa rem itu. Dia duduk di besi depan sehingga kakinya yang akan berfungsi sebagai rem sepeda tua ini. Tentu saja, dia dengan semangat menceritakan seperti apa dulunya tempat ini sebelum gempa dan tsunami itu datang. Namun yang paling kami takuti, jika bertemu bapak-bapak tentara yang lagi patroli di daerah tersebut. Pasti kami akan kena marah karena berada jauh dari jangkauan pengawasan mereka. Pernah sekali kami di teriaki dari puncak bukit dekat pantai itu. Segera saja aku membalikkan sepeda dan melaju tanpa melihat jalanan yang bertanah dan penuh lubang. Alhasilnya kami terjatuh dan penuh luka lecet di siku dan sepanjang lengan. Esoknya kami berdua meringis sepanjang hari menahan perih.

Namun sore ini kami tertangkap basah.

“dokter Rian, kami sama sekali melarang dokter ke tempat ini.”
“tapi kami hanya mengkhawatirkan keselamatan dokter,” kata pak Iwan. Komandan di tempat ini.
“maafkan ya pak, saya juga tidak menyangka samapai sejauh ini berjalan,” aku berusaha menenangkan muhajir yang mulai berlinang.
“Lain kali dokter akan kami kawal kemana-mana,” kata salah satu tentara itu sambil menaikkan sepeda kami dalam mobil bak terbuka.

Aku membantu Muhajir naik ke mobil itu. Aku terus memeluknya dan dia terus memegang sepedanya itu.

“tenang Muhajir, sepedamu tidak akan mereka ambil,”kataku sepelan mungkin menenangkannya.
“mereka hanya ingin kita baik-baik saja.”

Muhajir menatapku dan berusaha diam dalam isaknya. Rasa bersalah melihatnya ketakutan melihat tentara itu lengkap dengan senjata laras panjang. Sepanjang perjalanan dari tepi pantai itu, empat orang dari tentara itu tidak duduk. Mereka berdiri menghadap ke empat penjuru mata angin. Rasa takut langsung mengalir dari setiap hembusan napasku kali ini. Iya, Daerah ini masih merupakan basis GAM sebelum tsunami datang.

Bencana ini pula, sehingga kecamatan ini terisolasi dengan ibukota Banda Aceh. Kedatanganku bersama teman-temanku ke sini juga harus menggunakan helikopter Amerika. Satu-satunya cara menjangkau tempat ini. Sinyal telepon genggam sama sekali hilang. Komunikasi yang diandalkan dengan telepon satelit saja. Kami harus mencari-cari dulu sinyal sekitaran posko kami. TIap malam kami semua akan antri untuk menggunakan telepon satelit itu.

“Dani, malam ini sepertinya sinyal susah ya,” kataku sambil berjalan membawa telepon satelit sebesar bata ini.
“iya, posko di puncak bukit tadi sore gerimis,” kata dayat sambil menikmati kopi dalam gelas plastik bekas air mineral.
“kalian masuk aja tidur, ini sudah jam 11 malam.”
“aku mau ke bapak-bapak tentara itu dulu di seberang jalan,” katanya sambil berlalu.

Aku mengajak yang lain juga yang sudah kelihatan lelah. Beberapa masih membereskan obat yang akan di pakai di beberapa posko besok. Aku langsung terlelap di ruangan yang hanya di lapisi alas dari kantung tidur kami. Udara lebih dingin malam ini dan berharap tidak ada hujan malam ini. Kami tidak mempunyai persediaan selimut yang memadai. Bisa mendapatkan kantor kecamatan saja yang masih utuh saja sudah sangat bersyukur. Tidak perlu tidur dengan menggunakan tenda di luar.

Tepat di samping ruangan ini, aku masih bisa mendengar beberapa marinir masih bercakap. Setiap malam mereka berganti untuk berjaga diluar dan berpatroli. Sedikit rasa aman bisa satu tempat dengan mereka.

Pukul 02.30 WIB

“gempaaaaaa!!!!!!!,” suara teriakan tentara itu seperti tepat di gendang telingaku.

Aku melihat ke langit-langit ruangan dan melihat lampu itu seperti hidup dan bergoyang. Aku berusaha berdiri namun terjatuh lagi. Semakin aku berusaha semakin keras badanku menghantam lantai. Aku membangunkan yang lain dengan mendorong sekencang mungkin badan mereka. Berkali kami terjatuh bersamaan dan saling menindih. Susah payah mencapai pintu ruangan itu yang hanya berjarak tiga langkah dari kami. Dani berusaha membantu kami, namun terjatih lagi. Akhirnya aku memutuskan merangkak menyusuri lorong kantor kecamatan itu. Beberapa marinir berlari sempoyongan mencoba membantu. Sampai di halaman kantor, gempa itu belum reda. Aku mulai was-was. Pantai itu hanya berjarak kurang lebih empat kilometer dari tempat kami dan jika tsunami datang akan tanpa menghantam kami tanpa hambatan. Kakiku menjadi dingin, rasa tidak kuat untuk berjalan apalagi berlari.

Suara tangisan sudah terdengar dari segala arah. Tiba-tiba gempa itu menghilang, keadaan menjadi senyap. Semua melihat ke arah pantai. Tapi yang terlihat keadaan gelap yang pekat. Malam itu kami tidur di jalanan kampung itu. Trauma itu sangat terasa.

*******

Lapangan Sepakbola Lamno. Pertengahan Januari 2005

Suara deru helikopter makin kencang. Kali ini yang mendarat jenis Helikopter dari Australia. Beberapa rekanku sudah berangkat duluan dengan menggunakan Helikopter dari Malaysia. Namaku sudah dipanggil beberapa kali oleh Pak Iwan. Aku mengiyakan dan meminta semenit waktu bertemu Muhajir. Anak kecil itu masih memegang kantung tidurku. Suara isak tidak lagi pelan.

“aku akan merindukankan Muhajir,” kataku.
“Hanya merindukanku kakak?” katanya sambil menangis.
“lebih dari itu,” kataku.
“aku akan merindukan dan terus mengingatmu kak,” tiba-tiba pelukan itu membuat haru.

Seperti akan kehilangan sesuatu yang berharga dalam keseharian. Aku membalas pelukan itu. Lebih erat.

“pergilah kak,” sambil menyerahkan kantung tidurku.
“ambillah ini, pakailah kak,” sambil menyerahkan dompet manis berwarna merah khas anyaman Aceh.
“iya, aku akan pakai untukmu.”

Sekali lagi namaku di panggil. Aku berlari ke Dani dan menyuruhnya naik dulu ke helikopter itu bersama yang lain. Aku melihat Mujahir masih terisak. Aku berlari kembali dan memeluknya. Aku melepas gelang tanganku dan memasangkan di tangannya. Setelahnya tidak ada ucapan lagi antara kita berdua.

Aku berduduk dalam helikopter sambil melihat Mujahir mengikuti putaran Helikopter, dengan begitu aku bisa melihatnya. Tangisnya belum berhenti. Empat belas hari dan bocah kecil itu membekas dalam hati.

Pilot helikopter itu menuliskan sesuatu di secarik kertas kumal dan memberikanku. “who is that boy?”.
Aku membalasnya pesannya ,” he’s name Muhajir and he is my Translator”
Pilot itu membaca dan berbalik sambil mengacungkan jempolnya. Dia perputar sekali lagi, dan mempertahankan beberapa detik posisi helikopternya sehingga Muhajir bisa melihatku.

Seperti ada yang hilang dalam rasa ini.

Terik Ibukota. Mei 2012

Secangkir Cappucino dingin dan tumpukan kertas ini membuatku harus menahan lelah. Laporan ini harus masuk sebelum jam kantor tutup. Suara telepon dari nomor yang tidak aku kenal.

“halo, kak rian apa kabarnya,” suara itu. Mengingatkan sesuatu.
“muhajir???? ini kamu yaa,” masih tidak percaya.
“iya kak, ini ajir,” suara bersemangat.
“Tahun depan aku lulus sekolah, dan mau melanjutkan ke Jakarta ikut kakak,” suara itu tidak berubah.
“iya,aku tunggu,” aku meninggalkan ruanganku dan memulai percakapan yang menyenangkan.

Kejutan.

Tak Pernah Usai

Bimo

pukul 03.05 dinihari

Susah payah aku mengambil telepon genggamku yang terus berdering.
“halo, ya siapa?”
“halo genit, lama benar angkat telepon.”
“ya ampun, Gaby kamu dimana?” hanya satu manusia yang memanggilku seperti itu. Aku terduduk mencoba menyalakan lampu di meja kecil dan melihat jam weker.
“By, ini jam 3 subuh.”
“besok jemput aku ya, pesawatku tiba jam 11 siang. Dan sama sekali tidak pakai alasan ada rapat ya.”
“kamu berangkat dari mana By?” rasanya belum semua kesadaran diriku ini mendengar suaranya.
“aku di Semarang sekarang.”
“ya sudah, kayaknya kamu udah ngantuk berat, see u yaa.”

Suara telepon tiba-tiba terputus. Aku mencoba melihat nomor telepon tadi dan menyimpan. Entah ini nomor yang keberapa tersimpan sebagai namanya. Aku mencoba tidur lagi. Lumayan untuk dua jam kedepan sebelum subuh benar-benar muncul.

Pukul 11.30

Rasanya ingin menerbangkan saja sedan kodok ini di jalan tol. Aku terlambat setengah dari jadwal kedatangan Gaby. Terbayang ocehannya melihatku nanti. Perempuan satu ini memang selalu mengagetkan saja. Lima tahun ini hanya mengetahui kabarnya lewat telepon dan pesan singkat saja. Aku mencari parkir sesegara mungkin. Yang penting memunculkan muka ini dulu. Sedikit bergegas atau lebih tepatnya berlari ke pintu kedatangan. Seperti tidak sulit mencari sosoknya. Aku melihat layar besar mencoba menebak kode penerbangan dengan melihat kedatangan pesawat dari Semarang. Satu jam sosok Gaby, tidak juga muncul.

Aku melirik telepon genggamku dan tak satupun pesan terjawab. Sepertinya delay adalah jawaban mengapa Gaby belum nampak. Aku putuskan duduk di cafe yang letaknya tidak jauh dari pintu kedatangan. Dari sudut ini, aku bisa melihat semua orang yang keluar dari pintu itu. Sepertinya bukan waktu yang sebentar kali ini duduk dengan secangkir kopi. Masih ada sedikit waktu relax setelah membuat sedan kodok tadi meraung-raung di tol tadi.

Pukul 14.00
Sosok perempuan mungil dengan ransel itu akhirnya muncul juga. Senyum manis itu masih sama.

“lama ya nunggunya,’ sambil tertawa melihat cankir kopi yang tandas dan asbak penuh puntung.
“gila, dua jam hanya menunggumu saja.”
“hahahaha kapan lagi menunggu nona manis seperti saya, ” seraya menyerahkan ranselnya padaku.

Gaby berjalan ke arah pancuran air besar

“ayo fotoin aku di sini,” seraya mengeluarkan kamera kecil dari saku jaketnya. Aku mengambil beberapa foto dirinya. Cuaca siang yang sejuk membuatnya nampak manis dengan kelakuan yang tetap semangat.

“foto berdua yuk,” sambil menarikku dan meminta seseorang mengambil gambar kami. Aku sampai malu rasanya. Ini mungkin foto pertama aku juga di pancuran bandara ini.

“aku betul-betul kangen dengan kota ini,” seraya memperhatikan semua gambar dalam kamera ini.
“iya, ini pertama kalinya kamu kembali sejak lima tahun lalu.”
“Bandara saja berubah, bagaimana tengah kota sana ya.”

Aku berjalan mendahului Gaby. Lebih tepatnya membiarkan dia menikmati semua hal yang baru di tempat ini.

“Uli belum kamu kabari?”
“belum, biarin saja. Aku ingin memberikan dia kejutan,” Gaby mulai menurunkan sandaran kursi.
“antarkan aku pulang dulu ya, aku kangen dengan kamar masa kecilku.”

aku melaju perlahan saja. Membiarkan Gaby tertidur lebih lama di perjalanan ini sebelum rumah tua itu.

******

Gaby.

Bimo dan Uli tak berhenti tertawa mendengar kisah perjalanan selama lima tahun ini. Pertemuan ini seperti reuni besar saja. Kami tidak peduli ketika orang-orang di cafe itu melihat kami yang terus terbahak. Bimo malah memenuhi kami dengan kepulan asap rokoknya yang seperti tungku.

“Kamu tidak berniat untuk menekuni profesi kamu?” tanya Uli.
“aku buka praktek maksudmu.”
“sepertinya aku sudah memilih jalan ini uli,” kataku.
“lagian apa yang aku lakukan selama ini juga masih dalam lingkup profesiku juga.”
“tapi kamu masih bisa melanjutkan pendidikan kamu kan?”
“maksudku mengambi jenjang spesilis seperti yang lain,” Bimo melanjut.
“aku masih memikirkan itu koq,” kataku sekenanya.

Aku berdiri memesan cappucino dan makanan kecil lain. Salah satu trik menghindari pertanyaan seperti itu dari mereka. Rasanya Lanjut ke jenjang lebih tinggi lagi bukan hanya keinginan orangtuaku saja. Mereka juga. Pakem yang masih melekat di rata-rata orang di negeri ini. Sekolah yang tinggi, kerja yang nyaman, penghasilan yang lebih punya rumah dan mapan segala hal. Mengapa mereka juga mengukur ukuran kebahagian dengan segi materi yang terlihat.

“tambahan cappucino lagi,” sambil membagikan cangkir panas ke mereka.
“wah sepertinya bakal menjadi malam panjang kali ini,” bimo dengan semangat langsung menyambutnya.
“mumpung kalian besok libur kerja kan.”
“menyenangkan melihatmu di kota ini By,” kata uli.
“tapi lebih menyenangkan lagi kalo Dani ada saar ini,” kataku.

Uli dan Bimo saling berpandangan. Aku bisa melihat mereka terkejut begitu aku menyebutkan nama Dani.

“aku ingin bertemu Dani,” kataku.
“serius?” tanya uli.
“iya, aku serius.”
“sepertinya kedatangan kamu memang dengan agenda utama bertemu dia.” Bimo menghisap dalam rokoknya kali ini.

Aku tersenyum. Seperti orang yang kedapatan memyembunyikan sesuatu yang berharga saja di hadapan mereka.

“bertemu Kalian juga sama berharganya,” kataku memecahkan sediki kesunyian.
“bolehkan aku bertemu Dani,” tanyaku. Uli mengangguk perlahan. Bimo menatapku tanpa arti.
“kalian pasti bisa membantuku.”
“Aku punya nomor kontak adiknya,” Uli menuliskan sebuah nomor di kertas tissue.
“Aku bertemu Dani terakhir sekitar setahunan yang lalu,”kata bimo sambil menyalakan rokok berikutnya.
“Kami berbincang cukup lama.”
“iya, rasanya kebersamaan kita kurang tanpa Dani,” Lanjut Bimo. Kami tersenyum mendengar itu.
“Kalo begitu kalian tidak keberatan kalo menemaniku bertemu Dani besok, ” kataku.

Uli dan Bimo menyahut bersamaan dan membuatku kaget. Dan seiring dengan itu gelak tawalah yang terjadi. Kembali ke kota ini dan bertemu dengan mereka adalah kerinduan yang tersimpan dalam alam bawah sadarku selama ini. Mereka sama sekali tidak berubah dalam pertemanan ini meski kami bukan lagi remaja muda lagi.

********

Uli.

Aku membereskan semua berkas yang akan aku tinggalkan beberapa hari ke depan. Mataku tertuju pada kaca mejaku. Ada beberapa foto namun aku mencari satu foto yang mungkin tertutup foto lainnya. Foto kami berempat. Dani, Bimo, Gaby dan aku. Ini kenangan terakhir sebelum semua kejadian tak terduga itu terjadi. Gaby dan Dani adalah pasangan diantara kami.

Persahabatan yang pada akhirnya menjadikan mereka pasangan kekasih. Dan semua karam ketika Dani memutuskan ikatan itu secara sepihak. Tidak ada yang mengerti apa yang terjadi diantara mereka. Bahkan ketika Gaby memutuskan untuk meninggalkan kota ini semua penyebab itu seperti di tutup dalam peti terkunci. Dani menjauh dari aku dan Bimo. Meski begitu, komunikasi dengan Gaby dan aku tetap intens meski hanya lewat pesan singakt dan sesekali telepon nyasar di tengah malam yang sering Gaby lakukan.

Dani bak di telan bumi. Sampai setahun lalu Bimo bertemu Dani. Dan semua baru terungkap mengapa Dani mengambil keputusan sepihak.
Dalam hidup yang begitu beratku bagiku, ketiga orang itu adalah penopangku tanpa pamrih. Mereka yang membuatku bisa melalui hidup tanpa orang tua lagi dan harus menanggung seorang adik. Rasanya belum pernah membalas semua kebaikan itu. Berharap besok ada kebahagian diantara mereka.

Aku merapikan foto itu dan memasukkan kembali ke meja kacaku. Menempatkan sendiri di sudut yang bisa aku lihat nantinya.
Selalu.

******

Perjalanan menuju villa keluarga Dani.

“aku baru tahu, kalau mereka punya villa di tempat ini,” kata Gaby.
“Seperti mereka juga baru menempatinya sekarang ini, ” kata Bimo melihat Uli melalui kaca spion dalam mobil. Uli hanya mengiyakan dengan singkat.

Nampaknya uli di serang ngantuk. Segera saja dia merebahkan diri di kursi belakang. Sedangkan Gaby sibuk mengambil gambar dengan kamera Canon yang nampak besar di tangan mungilnya. Bimo berusaha mengendari dengan hati-hati tiap tikungan jalan. Memberi ruang untuk Gaby mengambil sudut yang diinginnya.

“begini nih kalo kelamaan di kota,” kata Gaby yang mulai merasakan angin dingin pegunungan. Berusaha merapatkan jaketnya dan syal yang di kenakannya.
“padahal ini sudah pukul sembilan, tapi matahari saja tak sanggup mengusir rasa dingin ini.”
“aku aja ke sini juga ga sering, ga kuat dinginnya,” ucap Bimo.
“kapan ya terakhir kita berempat ke sini ya.” tanya Gaby sambil terus memotret.
“sehari setelah wisuda mu By.”
“dan semua masih asri. Kebun teh dan pinusnya tidak berubah sama sekali.”

Bimo membelokkan mobil memasuki sebuah pasar.

“aku ingin membeli rokok,” kata Bimo.
“biar aku aja yang turun,” bergegas Gaby.

Gaby berlari kecil mencoba menghindari gerimis yang mulai turun. Terlihat Gaby menawar beberapa makan kecil. Dia begitu bersemangat dengan keadaan dirinya. Bimo melihat Uli yang masih tertidur dengan jaket tebalnya.

“lumayan, dapat penambah energi melawan dingin ini, ” Gaby membangunkan Uli. Bimo langsung menyalakan rokoknya.
“kue gula merah dan kacang ini memang ampuh di cuaca dingin.” Uli seperti kedingin dengan tubuh berbalut jaket tebal.
“kira-kira masih jauh ga Bimo?”
“Uli benar-benar sudah kedinginan,” lanjut Gaby.
“kalo mengikuti petunjuknya sih tidak lama lagi.”
“setelah tanjakan di depan kita belok kanan, katanya tidak jauh lagi dari situ.” lanjut Bimo.
“gila benar suhu di sini, aku hampir tidak kuat lagi.” keluh Uli.
“sejak dulu emang kamu paling mengeluh kalo ke tempat ini uli,” Gaby memberikan syalnya ke uli.

Gaby membereskan kameranya. Bimo sudah mulai segar lagi dengan rokok. Seperti hidup lagi dia. Baginya mending ketinggalan barang lain daripada tidak ada rokok dalam kantong bajunya.

“Dani sudah menjalani kemoterapi yang keberapa?” perlahan Gaby berkata.
“Kamu udah tau Gaby?” Uli tak bisa menyembuyikan keterkejutan dengan pertanyaan Gaby itu.
“menurut kalian aku datang kemari dan meminta bertemu dengan dia sesegara mungkin tanpa tau keadaan dia?” Gaby tersenyum melihat Uli masih dengan keterkejutannya.
“aku sudah menduganya,” bimo berujar santai. Ada perasaan lega yang tidak bisa dia sembunyikan.

Bimo berbelok ke kanan sedikit menanjak dan segera memasuki halaman sebuah villa yang cukup besar. Nampak sosok Alfi, adik Dani menyambut di depan pintu. Gaby menarik nafas panjang seakan ingin memenuhi paru-parunya dengan udara yang sejuk. Bimo, masih saja dengan kebiasaannya. Menyalakan rokoknya dan menikmati kepulannya dengan embun gunung. Uli, masih saja melawan dingin ini dan berusaha menggerakkan badannya sesegar mencapai pintu villa.

“Dani di atas,” ujar Alfi serasa membantu membawa ranselku.
“oh ya, aku ke atas ya,”Gaby langsung melangkahkan kaki kecilnya berlari menyusuri tangga kayu di tengah ruangan.

******
Dani.

“hei, akhirnya sampai juga kamu,” aku berusaha menegakkan badan begitu menyadari kehadiran Gaby.
“gmana keadaanmu?” tanya Gaby sambil membuka kain gorden kamarku. Sejenak mataku berusaha beradaptasi dengan sinar yang masuk ke ruangan kecilku.
“aku baik saja,” kataku sekenanya. Anak ini benar tidak mempedulikan diriku.
“aku buatkan teh hangat ya,” katanya lanjut.

“rambutmu mulai rontok lagi,” uli membersihkan bantalku dari sisa rambutku.
“iya, tapi ini sudah berkurang, sudah hampir habis,” kataku.
“botaknya sempurna deh,” katanya sambil menertawaiku memegang kepala.

Aku membiarkan saja dirinya berlalu lalang di kamar ini. Sejak datang sama hanya sekali itu dia menatapku. Mulutnya terus bertanya dan berkata saja. Kadang sesekali aku menjawab. Aku masih mencoba membongkar meja kecilku meraih tumpukan kertas dalam sampul kertas coklat. Gaby masih sibuk merapikan seprei dan menyiapkan roti bakar serta teh hangat itu.

“ingin menikmati di teras itu saja,”kataku.

Gaby segera memindahkan semua sarapan itu teras kamarku. Dia masih cekatan. Semuanya terlihat rapi. Dan seperti kami mempunyai janji untuk menikmati semuanya berdua. Menu itu memang dibuatnya untuk dua orang.
Gaby mengambilkan syal untukku.

“By, please, duduklah untuk sementara ini, ” aku berusaha memelankan suaraku. Gaby berbalik dan menghentikan semua wara wiri yang dibuatnya. Sesaat hanya ada kesunyian di antara kami. Dia berusaha tersenyum melihatku.

“aku minta kamu menyelesaikan ini,” aku menyerahkan kumpulan kertas bersampul coklat itu.
“semua sudah selesai, hanya butuh sedikit penyempurnaan.” Gaby masih terdiam melihat benda itu di tangannya. Berusaha dia membuka bungkusan itu. Dibalikkan setiap lembar itu tanpa membaca dengan detail. Melihat tanpa kata kali ini seakan perih di diri ini. Akhirnya dia berhenti di satu lembaran.
Gaby, membaca dengan suara perlahan. Sama membacanya bibirku yang keluh. Dia menatapku dan setitik air mata cukup mengartikan semua hal antara kita.

“Selamat Ulang Tahun. Bukan Kebersamaan yang membuat Kita bahagia, namun perasaan terikat saat diri di level terendah di situ takdir kita”

Cinta Kedua

Tersudut. Ya itu yang aku rasakan sekarang. Tumpukan berkas ini membuatku berada di situasi yang tidak menyenangkan ini. Aku memandang meja kerja Fahmi yang telah rapi sejak sore. Anak ini benar-benar tidak ada perasaan sama sekali. Enteng saja dia meninggalkan diriku dengan setumpuk pekerjaan di malam sabtu, dan sekarang pasti dia sudah bersenang nongkrong di cafe bersama temannya. Aku menyeduh kopi hangat, berharap bantuan kecil ini membantu bertahan beberapa jam ke depan.

Aku kembali mengambil beberapa map yang aku harus cek. Jam sudah berdentang sepuluh kali dan itu 20 menit lalu. Berkonsentrasi dengan layar kecil ini dengan seluruh indera diriku ini. Di bawah meja, tepat di bawah kakiku ada tiga sambungan kabel telepon genggamku. Semua batereinya habis. Rasanya ingin gila. Malam libur seperti ini, diriku masih bertapa dengan berkas ini.

Bunyi pesan masuk. Dari Fahmi.
“Pulang jam berapa? Aku jemput ya… *senyum dong*

Aku membiarkannya. Malas membalasnya. Tiba-tiba suara telepon dari meja kantorku. Benar-benar anak ini tidak puas mengerjai diriku malam ini. Kuhiraukan saja.

********

Seperti ada yang menghantam kepala ini. Gila, suara nyaring Eko seakan tepat menghantam gendang telingaku. Berat kubawa tubuhku menuruni tangga. Dan akhirnya menyerah dengan kantuk, aku terduduk di tengah anak tangga juga.

“ada apa sih?” sambil menyandar di pegangan tangga dan masih dengan mata tertutup.
“tuh, si Fahmi sejak tadi nungguin sambil gangguin Tisha.”
“sampai Tisha nangis kayak gitu tetap aja di godain, ” katanya lanjut dan berlalu ke garasi motornya.

Glek, sepagi ini Fahmi sudah nongkrong di rumahku. Ampun, ini baru jam 7 pagi. Artinya aku baru memejamkan mata 2 jam ini. Rasanya pengen mencekik dan membanting seluruh tubuh Fahmi. Kini tiba-tiba suara tangis tisha yang tepat menyentuh gendang telingaku. Aku sedikit bergegas meski hampir menabrak kursi tamu.

Aku melihat Tisha merengek, meminta boneka yang di pegang Fahmi. Isakan terhenti sejenak ketika melihatku. Tisha berlari ke diriku meminta aku menggendongnya. Fahmi benar-benar sukses melihat Tisha terisak. Aku memeluk Tisha sambil tertawa melihat tingkah Fahmi.

“Kamu membelikan untuk Tisha kan?” kataku.
“iya, tapi Tisha harus mencium aku dulu, ” katanya sambil menyodorkan mukanya ke Tisha.

Tangisan Tisha meledak lagi. Ada rasa tidak rela melakukan itu dalam tangisan Tisha. Aku jadi geli dan kemudian membujuknya dan membisikkan sesuatu di telinga. Perlahan Tisha meredup dalam tangisnya. Matanya tetap memandang boneka beruang Pooh itu. Tisha mengangguk ke Fahmi. Aku menurunkannya dan Fahmi menyerahkan boneka itu dan langsung menyodorkan pipi kirinya. Tisha mencium namun sesaat terdengar rintihan dari Fahmi. Rupanya Tisha sukses membalas tangisnya. Sambil berlari dia memanggil eyangnya. Fahmi memegang telingan kiri sambil melihatku.

“jadi ini bisikan tadi ya.”
“bukan hanya itu, ini juga, ” sambil menjewer telinga kanannya. Lengkap sudah dua daun telinga di pegang ambil merintih.
Lucu melihat ekspresi Fahmi. Sama sekali tidak sempat membalas tindakan Tisha dan aku tadi.

“sepagi ini sudah nongkrong di sini,” kataku merebahkan badan di kursi panjang.
“temani aku mengukur jas ya,” katanya.
“gila aja kalau aku mau menemanimu.”
“trus, siapa lagi yang aku mintai tolong.”
“ga ah, aku masih ngantuk,’ kataku sambil berlalu ke kamar. Kali ini mataku benar-benar tidak bisa aku kompromi.
“aku tunggu sampai kamu bangun,” teriaknya sambil menyalakan korek.
“terserah kamu.”
“tapi kalau aku terbangun karena suara Tisha, lupakan saja,” kataku berlalu dar tangga kamarku.

Aku membiarkan Fahmi menunggu berjam-jam. Dia sudah menganggap rumah ini seperti rumahnya. Sahabatku sejak SMA itu bahkan lebih sering menghabiskan waktu akhir pekannya di rumah ini. Paling sebentar lagi dia akan melepaskan baju dan bergabung dengan Eko mengutak atik mesin motor Eko. Dan pastilah setelahnya dia akan jatuh tertidur di sofa panjang samping rumah sambil mendengkur karena kelelahan dan kekenyangan dengan masakan ibu.

*********

“kamu harus menunda keberangkatan ini,” Fahmi mendorong kursinya ke meja sambil memberikan selembar kertas tugasku.
“hei, koq kamu berani mengambil barangku,” aku mengambil kertas itu dan memasukkan ke dalam tas kerjaku.
“masih sebulan juga koq berangkatnya,” kataku lanjut sambil melangkah pulang.
“iya, tapi itu pas hari pertunanganku,” mencegahku.
“aku akan membicarakan dengan Pak Kuntoro besok,” katanya lanjut.
“terserah,” jawabku sekenanya.
“lagian kamu yang mau tunangan, tanpa aku pun acara tetap jalan kan.”
“iya, tapi aku ingin kamu datang,” suara lebih tinggi.

Aku membalik badan.

“Fahmi, kamu tahukan proyek ini aku harap banget, dan aku tidak mau membuang kesempatan kali ini,” kataku tepat memandang matanya yang tidak berkedip.

Aku kaget melihat air muka yang tidak biasa itu. Aku kuatkan diri. Yaa ini proyek besarku yang aku idamkan sejak setahun lalu. Tak hiraukan dirinya lagi, aku melangkah meninggalkan dirinya sendiri di ruangan itu. Beberapa kawan melihat kami namun tak ada suara setelahnya itu.

**************

Dua minggu berlalu sejak percakapan terakhir dengan Fahmi di sore itu. Dan selama itu juga, dia tidak muncul lagi di rumah ini. Aku terbangun sedikit lebih siang dan melihat kearah halaman rumahku. Mobil bututnya warna hijau biasanya sudah terparkir sejak pagi. Namun pagi ini kembali kosong tempat itu. Mungkin dia marah karena aku memang sedikit cuek selama ini menjelang hari pertunagannya. Tender perusahaan besar itu benar-benar mengurus perhatianku. Aku bahkan rela lembur demi menjamin kelengkapan berkas sebelum tender itu berlangsung.

Namun di kantor tingkah Fahmi biasa saja. Dia tetap usil terhadapku, bahkan lebih usil dari yang biasanya. Kebiasaanya di kantor tidak ada yang berubah. Tetap memesankan diriku cappucino dingin jika makan siang. Bahkan lebih banyak membantu dalam tender ini. Iya, sama sekali tidak ada yang berubah. Hanya kebiasan berakhir pekan di rumah ini yang hilang.

Biasanya aku sudah mendengar tangisan Tisha karena ulahnya. Atau bahkan sudah ada di beranda kamar Eko yang persis berdampingan dengan kamarku sambil bernyanyi dengan suara sumbangnya. Sengaja di keraskannya sampai aku terbangun kesalnya. Atau melihat ibu dengan muka bersemu merah karena masakannya di puji Fahmi setinggi atap rumahku. Entahlah, kericuhannya di akhir pekan itu yang hilang.

“Fahmi dua minggu ini tidak muncul,” kata ibu ketika melihatku menyeduh teh hangat.
“sibuk bu, sebentar lagi acara tunangannya,” jawabku.
“kamu tidak membantunya?”
“tender kantor itu benar-benar membuat sibuk,” jawabku asal.

Aku berlalu dari hadapan ibu. Di kamar rasanya cukup untuk hari ini. Aku mengambil sebuah baju yangg tergantung di lemari. Kebaya putih gading yang di aku beli untuk menghadiri pertunangan Fahmi. Baju seperti ini satu-satunya yang ada di lemari ini. Demi mengikuti keinginan Fahmi melihatku berpakaian sedikit fromal di acaranya. Namun tetap aja bawahannya aku padukan dengan jeans. Rasanya memang aku tidak bisa datang di acara itu. Jadwal tender itu belum bergeser dari rencana awal.

*********

Dua hari sebelum acara tunangannya pun Fahmi sama sekali tidak menyinggung hal itu lagi. Sama sekali buta dengan persiapan acara itu. Biasanya dia begitu cerewet merecoki semua cemilan di meja. Ini sama sekali aku belum melihat sosoknya sejak pagi. Aku melihat kamera di meja masih ada. Kemana gerangan dirinya tanpa benda itu. Sampai sorepun, kamera itun masih ada di meja tanpa pemiliknya. Aku mencoba mencari tahu keberadaan. Namun semua orang dengan jawaban yang sama. Satpam kantor saja melihatnya datang lebih pagi dari biasanya. Setelah itu dia menghilang. Teleponnya pun tidak aktif. Orang rumahnya mengatakan dia ke kantor.

Aku mengambil kamera itu. Mungkin lebih baik menyimpannya di rumah. Aku membiarkan diriku berlama-lama di kantor hingga benar-benar aku orang terakhir di ruangan ini. Fahmi tetap yang muncul. Sepanjang perjalanan, rasa bersalah itu muncul terhadapnya. Kenapa aku tidak bisa datang di hari pentingnya dia. Padahal, empat bulan lalu aku paling bergembira mendengar berita itu. Mereka pasangan yang manis. Fahmi seorang fotografer yang handal, sedangkan Sinta adalah penulis di majalah fashion. Perpaduan yang ideal.

Aku membelokkan mobilku ke arah cafe minimarket. Masih jam 7 malam, dan aku masih ada waktu sebelum menyelesaikan packing terakhir untuk berangkat esok. Aku duduk agak ke pojok. Tempat yang biasa aku dan Fahmi menikmati sore dan malam dengan notebook masing-masing. Segelas cappucino dingin menjadi pilihanku kali ini. Dan dari tempat duduk aku bisa leluasa melihat pengunjung yang masuk. Rasanya tidak mungkin Fahmi akan ke tempat ini. Pasti dia sibuk.

Aku membuka notebook. Menyelesaikan beberapa beberapa email yang mestinya aku bisa lakukan besok. Selintas mataku mengarah pada file foto. Membukanya dan sedikit membalikkan saat family gathering kantor akhir tahun lalu. Sepertinya sudah lama juga tidak membiarkan otak ini lepas sedikit dari ketegangan kerja. Berkali memutar balik foto-foto itu. Senang bisa membawa ibu menikmati keriangannya. Namun ada beberapa hal yang membuatku sedikit mengerutkan dahi dalam file foto itu. Ada begitu banyak foto Fahmi dalam acara itu bersama ibu. Aku menghitung tidak dengan seksama. Dan sepertinya aku tidak perlu seksama melakukan itu. Fahmi begitu dekat dengan perempuan tua itu. Mengapa selama ini aku tidak memperhatikan hal ini.

*********

Bohlam teras rumah masih menyala. Aku perlahan membuka pintu rumah dengan suara yang sangat menimal. Kamarku menjadi tujuan utama. Jam dinding tiba-tiba berbunyi ketika kakiku baru saja menaiki anak tangga pertama. Aku membiarkan dentangnya sampai selesai. Perlahan aku melangkah dan menyalakan lampu ruangan depan kamar. Seketika ingin berteriak sebelum menyadari sosok Fahmi tertidur di sofa panjang itu.

“ya ampun kamu itu bikin jantungku pengen copot saja.”
“kamu darimana, jam segini baru sampai rumah,” katanya sembari mengambil jaketnya yang terjatuh.
“kamu sendiri di sini lagi ngapain?” tanyaku balik.
“besok itu acara kamu jam berapa?” tanyaku lagi.

Aku mengambil kamera Fahmi yang tertinggal di kantor sore tadi.

“kamera kamu,” sambil meletakkan di meja.
“iya, aku tahu kamu pasti mengambilkan untukku,”enteng saja dia berkata.
“pesawatmu jam 10 kan?” tanyanya.
“10.45 take off tepatnya.”
“oh iya,” katanya sambil berlalu menuruni tangga.
“aku pulang.”
“aku kangen tidak kerumah ini beberapa minggu ini dan bertemu Tisha.” katanya berlalu dai balik pintu.

Aku hanya memandang sampai bayangan dirinya hilang dari balik pintu itu. Sesuatu terasa lain berkecamuk dalam pikiran ini. Dia tidak menjawab pertanyaanku.

**********

Tiba-tiba Tisha menggeliat dari pelukanku. Aku melepas dan menyalakan lampu kecil samping tempat tidurku.

“kenapa sayang?”
“besok naik pesawatnya jam berapa ya? ” tanyanya. Aku mencoba menyadarkan diriku dengan melihat jam meja. Pukul empat subuh.
“besok pesawatnya terbang jam 10 sayang?”
“masih lama kan?” tanyanya lagi.
“iya, masih lama koq.”
“Tisha tidur lagi ya, biar besok bangunnya tidak telat,” berusaha membujuknya.

Malah Aku yang sulit lagi memejamkan mata. Membiarkan Tisha benar-benar lelap sebelum aku melakukan mengepak beberapa berkas kerjaku. Membersihkan meja kerjaku berharap kantuk itu berkenan singgah lagi di mata ini. Beberapa kertas saja langsung aku masukkan ke tempat sampah menjadikan meja ini benar-benar bersih. Pandanganku tertuju pada permainan Tisah di lantai kamar. Boneka Pooh dari Fahmi tiba-tiba mengingatku kejadian beberapa jam lalu. Entah.

Rasanya benar-benar bersalah tidak menghadiri acara itu esok. Begitu banyak kejadian bersama dia selama ini seolah tidak cukup membuatku untuk bisa hadiri di acara itu. Masih ingat, ketika Fahmi rela menggendong Tisha dan mengantarkan ke rumah sakit ketika sebuah motor menabraknya di depan rumah. Lututku terasa lemas melihat semua kejadian itu. Namun dia begitu sigap melakukan semua ini. Fahmi selalu ada di saat-saat cobaan hidupku begitu berat. Saat pernikahan dengan Gery, dia paling sibuk menyusun semua hal detail. Sungguh, semua itu masih belum bisa membuatku membatalkan keberangkatanku esok hari ini.

Semua peristiwa indah dan duka terlintas dengan enteng di mata ini. Foto Gery di meja. Aku memandang foto itu, namun yang terlintas bagaimana Fahmi menemaniku melewati saat-saat Gery menghembuskan napasnya terakhir. Kecelakaan mobil itu masih nyata dalam ingatanku. Fahmi menemaniku melewati sakratul maut Gery dan menuntun Gery dengan tenang dalam hembusan napas terakhirnya.
Mengapa semua itu tidak bisa menghentikan langkahku untuk menemaninya di satu hari bahagianya.

“mengapa Gery?”
“aku mencintaimu dan Tisha,”

*********

Aku melambaikan tangan ke Tisha dan melihatnya hilang dalam pandangan mataku. Aku masih mempunyai waktu bersantai sebelum melakukan check in. Sempatkan membeli beberapa koran pagi sebagai bahan bacaanku di pesawat. Tidak perlu bergegas sepertinya. Antrian penumpang melakukan check in sepagi ini ternyata panjang juga. Sambil menunggu antrian aku masih bisa mengirim pesan singkat ke Fahmi. Acaranya mungkin saja sudah mulai. Pesanku akan di bacanya setelah acara.

“semoga lancar ya semua acaranya… *senyum dong*
“kananmu ada pintu kaca, tepat arah jam tiga,” balasan pesan seketika atau tepatnya masuk dan terkirim bersamaan.

aku menoleh dan melihatnya lengkap dengan helm besar yang masih di pegangnya.

“aku di luar ya. Setelah check in boleh dong keluar sebentar aja,” pesan di layar teleponku.

Aku mengangguk dan tak membalasnya lagi. Aku tak ingin menunggu lama. Segera aku mencari antrian check in ter pendek dan berlari menuju pintu keluar.

“kamu gila, acara kamu bagaimana,” kataku.
“ga ada acara koq,” katanya enteng.
“semalam aku ingin bilang itu, tapi matamu keliatan sudah tidak bisa kommpromi,” katanya lanjut dan aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Emang pesawatnya sudah tidak bisa lebih siang lagi,”tanyanya.
“dasar kamu, aku sudah check in bodoh,” kataku sambil menjitak kepalanya. Aku bahagia.

Entah. Tapi aku bahagia melihatnya pagi ini.

“aku tidak bisa kehilangan Tisha,” katanya sambil memandang dengan senyumnya.
“beberapa minggu aku tidak ke rumah itu ternyata itu menyakitkan diriku,” katanya.
Dan aku masih terdiam dengan kertas boarding di tanganku.

“pergilah, aku menunggumu di sini bersama Tisha,” sambil membalikkan badanku menuju pintu masuk kembali. Aku masih terdiam. Rasanya tak sanggup menahan tumpahan rasa di mata ini.

“bodoh,” kataku sambil membalikkan badanku. Aku mengulangi kata itu dengan sedikit teriakan.
“iya aku memilih menjadi bodoh daripada kehilangan Tisha dan dirimu,” katanya.

Sekali lagi dia membalikkan badanku dan berkata, ” pergilah dan menangkan tender itu.”
“Jangan lama dan mengulur waku di sana ya, karena aku tidak sabar menunggumu balik,” suara itu tepat di telinga. Terdengar ringan dan lembut.

Aku melangkah dan membalikkan badanku melihatnya setelah pemeriksaan petugas. Dia pasti melihatku tersenyum bahagia.

When will i see you again?

Losari, 2010

Kopi hitam dan segelas cappucino dingin tersaji di meja kami.

“kau kembali ke kota ini,” suara bas pita suaramu masih khas.
“tidak,” jawabku.
“aku hanya mampir saja melihat kota ini. Belum berniat kembali dalam waktu dekat,” kataku lanjut
“banyak yang berubah di sini,” aku mengalihkan mataku ke arah jalan.
“iya, banyak yang berubah, aku bahkan tidak mengenali jalan raya depan kampus kita,” kataku
“hahahaha, jalan yang paling kamu takuti ketika menyeberanginya,” suara tawamu masih sama.
“terlalu lebar katamu dulu.”

Langit sore dipantai ini masih sama indahnya dengan 6 tahun lalu. Hanya suasana berbeda saja karena sepanjang pantai sudah tidak ada penjual makanan yang berderet bak restoran terbuka di bawah langit losari. Aku paling senang ke tempat ini saban sore selepas kuliah dulu. Meski jarak kampus dan tempat ini sangat jauh tapi selalu berusaha tidak melewatkan keindahan sore dengan ufuk barat yang selalu indah. Kebiasaan yang membuatku mengenal beberapa penjual nasi goreng yang selalu heran melihatku menikmati indahnya langit sore.

Sekarang, entah dimana mereka sekarang. Terganti dengan deretan cafe yang memenuhi sisi lain jalan ini. Lebih modern memang, namun ada yang hilang dalam suasana seperti ini. Perubahan menjadikannya keadaan menjadi sedikit teratur namun keakraban itu hilang. Terkadang aku meminta pengamen yang aku kenal memainkan beberapa lagu untukku dan mereka selalu tak ingin aku bayar. Katanya belum jam kerja mereka. Itulah Losari yang kenangannya selalu aku bawa kemanapun aku pergi.

Dan aku di sini sekarang, di pantai yang sama dengan lelaki yang dulu sering bersama menghabiskan waktu hingga ujung malam. Dia tak banyak berubah. Bahkan tidak ada perubahan sama sekali dalam enam tahun ini.

“kabarmu?” katanya.
“baik.”
“kamu sendiri?” tanyaku balik.
“baik.”

Rasanya sulit memulai percakapan ini. Sesulit menolak ajakannya untuk bertemu dirinya sore ini.

“tahu darimana aku ada di kota ini.”
“Deni melihatmu kemarin makan di kantin kampus dua hari lalu.”
“Deni?” tanyaku sedikit heran. Rasanya waktu itu aku tidak bertemu siapapun yang aku kenal.
“iya, dia kuliah mengambil masternya,” katanya lanjut.
“oh iya, masih semangat juga dia kuliah,” kataku sambil memegang gelas cappucinoku.

Benar sulit memulai dan lebih sial lagi dia sangat tenang menghadapiku. Entah apa dalam benaknya tentang aku sore ini. Aku sama sekali tidak peduli apapun itu. Kami sudah selesai sejak aku memutuskan meninggalkan semua hal tentang kota ini dan dirinya. Tujuh tahun lalu.

“aku akan berangkat lusa,” kataku memecah kebuntuan kami. lebih tepatnya memecah kebuntuan otakku.
“ke Jakarta?”
“beasiswa masterku di terima di luar.”
“selamat Kinan. Kamu memang seharusnya melanjutkan kariermu lebih baik.”
“Makasih,” rasaku ingin meledak menghadapi ketenangannya.

Matahari sore hampir sempurna di ufuknya. Langit sore mengalihkan pandanganku darinya, namun rasa ini tak ikut berpaling. Rasanya tiap detik sore ini bergerak sangat lambat. Dia kelihatan menikmati ufuk barat yang sempurna.

“aku harus pulang Ryan,” akhirnya aku bisa mengangkat badanku.
“iya, pasti banyak urusan yang harus kamu selesaikan sebelum lusa,” katanya.

Dia mengantarku menunggu taksiku. Tak banyak lagi yang kami bicarakan.

“Sukses ya dengan semuanya,” katanya sambil melihatku membuka pintu taksi.

“Kinan, when will i see you again?”
“not promise Ryan.”

Taksiku berlalu dari depannya.

*Makasih “Adele” untuk inspirasi lagunya.

Lelaki Pertama Hidupku

18 September 2011
Bimbang dengan keputusan ini. Berkali melihat kalender meja. Mencoba mencari waktu yang tepat untuk kembali ke kota itu. Urusan kerja di Jakarta seakan membuat lupa untuk menemui Bapak. Padahal lebaran kemarin sudah berjanji untuk menemui segera setelah pulang mudik lebaran dari rumah Mas Nono di Surabaya.

“kamu jadi pulang?” suara berat lelaki tua di seberang telepon.
“iya, lagi mencari tiket koq.”
“berapa lama liburnya? bisa lama kan?”
“2 minggu seperti biasanya pak.”
“bisa berarti menemani nonton beberapa pertandingan bola itu hehehehe,” suaranya terdengar lucu jika sudah tertawa.
“iya, tapi bapak tidak boleh begadang lagi ya.” lucu mengingatkan Bapak hal tersebut karena pada akhirnya dia akan jatuh tertidur bahkan sebelum babak pertama berakhir.

Percakapan di telepon awal pagi ini membuat diri menjadi tersenyum sepanjang hari. Mengembalikan semua energi yang terkuras minggu kemarin dengan urusan kantor ini. Jadi ingat ketika Bapak mengajakku ke stadion bola kotaku Mattoangin menyaksikan pertandingan bola satu-satunya klub andalan kota ini. Tubuhku yang kecil membuatnya harus meletakkanku di pundaknya sepanjang pertandingan berlangsung. Tanganku tak pernah lepas dari kepalanya agar aku tidak jatuh saat aku bersorak. Betul-betul awal dari kesenangan dengan olahraga itu. Selanjutnya jadilah diri ini teman baginya berbagi sorak saat laga bola. Tak terkecuali jika mendengar siaran langsung melalui satu-satunya radio tua miliknya. Seisi rumah akan ternganga melihat tingkah kami berdua depan radio yang riuh dengan suara komentator yang tak kalah kencangnya melaporkan aksi-aksi pemain bola.

Pernah, secara tidak sengaja aku mendengar ibu bercakap dengan Bapak saat ied fitri.
“biarlah kali ini, shalatnya ikut saya saja,” kata ibu
“ga, kali ini dia masih ikut aku.” kata bapak sedikit ngotot.
“tapi dia perempuan pak, harus dibiasakan dengan hal-hal yang sesuai dengan dirinya.”
“bu, dia masih kecil. Tenang aja tahun ini terakhir dia ikut aku shalat ied bersamaku.”
“tahun depan dia berumur 9 tahun, dan dia akan menjadi milikmu. Mukenah sudah pantas untuknya,” kata bapak lanjut.

Bapak mengambil kopiah kecil seukuran kepalaku yang telah di siapkan untukku. Aku terdiam dan tersenyum ketika kopiah itu diletakkan di kepalaku. Melirik ke ibu. Ibu ikut tersenyum melihatku dengan kopiahku yang memang nampak cocok. Dan jadilah shalat ied ini aku dan kakakku ikut Bapak, sedangkan dua adik perempuanku memegang tangan ibu.

Bagi ibu meski aku sahabat kecilnya untuk berbagai hal tapi urusan tampilan diriku itu bagian Bapak. Termasuk urusan gaya rambut. Tiap kali Bapak potong rambut, aku pasti ikut. Bukan ikut menemani saja tapi ikut memotong rambut juga. Tukang Potong Bapak di Tukang Cukur Madura dekat dari rumah. Duduknya selalu bersebelahan dan gaya potongan tentu saja sama. Tapi aku suka selama proses ujung-ujung rambutku itu di potong. Dan ketika pulang pasti ibu akan berkata dangan muka datar seakan kalah perang,” yaaa, sama lagi bentuknya.”

Lelaki tua itu bukan hanya sekedar bapak bagiku. Dia adalah jendela duniaku. Pengalamannya berkeliling dunia selama menjadi pelaut adalah hal yang tidak pernah bosan aku dengar. Dia tidak perlu membuka buku cerita untuk membuatku tertidur lelap. Cukup bercerita tentang laut, ombak, indahnya sungai Mahakam dan Megahnya jembatan Ampera ketika bagian tengah jembatan itu terbuka, tentang Hongkong yang begitu makmur selama Inggris masih memerintah di sana, tentang bagaimana orang Jepang hidup dalam ketergesaan tiap hari dan rata-rata tinggi mereka yang lebih pendek dari darinya, tentang kota Manila, Bangkok dan seluruh negara yang pernah dia singgah. Sungguh, caranya bercerita mampu menghadirkan setiap tempat itu dalam imajinasi masa kecilku. Rasanya semua tempat itu sudah pernah aku kunjungi.

Keputusan Bapak untuk berhenti melaut karena tak ingin lagi meninggalkan keluarga dalam waktu lama. Penghasilan berlimpah baginya tidak ada artinya dibandingkan kehilangan masa kecil anak-anaknya. Semua di tinggalkan dengan penuh keikhlasan. Masih kuingat ketika rumah begitu ramai kedatangan teman-teman melautnya. Malam itu keputusan penting dalam hidupnya dia buat. Pekerjaan yang di cintai rela dilepas demi kami. Bapak memilih melakukan pekerjaan lain untuk bisa berkumpul dengan kami semua. Keputusannya menjadi penjual ikan di Pelelangan ikan di kota ini dijalaninya bertahun. Dari hasil jualan ikan tersebut beliau bisa menghidupi keluarga meski pas-pasan bahkan bisa membuat ke empat anaknya menyelesaikan kuliah.

Masih teringat, bapak harus meninggalkan rumah sesaat setelah subuh agar tidak kehabisan suplai ikan dari nelayan. Terkadang jika hari minggu, Bapak mengajakku serta. Meski nantinya aku akan tertidur di bale-bale duduknya di pasar itu. Bau ikan bajunya sangat melekat di ingatan ini. Sepulang, aku pasti akan menyikat sepatu plastik yang selalu dia gunakan ke pasar. Masih dengan tangan basah, aku akan menemaninya membaca koran sambil mencabuti ubannya. Dan apa akhirnya aku juga akan tertidur di sampingnya sampai sore tiba. Sungguh, semua hal itu membuatku merindu selalu.

20 September 2012
Duduk di ruang tunggu bandara ini rasanya mimpi di siang ini. Beruntung mendapatkan selembar tiket dalam situasi seperti ini. Kabar pagi, Bapak menuju rumah sakit dengan serangan jantung. Bandara yang ramai namun semua nampak siluet saja. Lelaki tua itu mengisi seluruh bola mata ini. Take off 17.30 WIB sore ini.

24 September 2012
Malam kelima di ruangan ini. Bapak akhirnya tertidur setelah sempat mengeluh punggungnya terasa panas.
Getaran telepon membuatku berpaling dari wajah lelaki tua yang tertidur pulas.

“Hai, gmana keadaan bapak? ” suara berat yang langsung aku kenali.
“hei tahu darimana?,” kataku sekenanya.
“Mba’ Sinta menghubungiku sejak 4 hari lalu tapi aku tidak ingin menganggumu.”
“Lumayan, Bapak sudah tenang.’
“Semoga lebih baik besok,” katanya datar.
“Terima Kasih ya Hen. Kamu sendiri apa kabar, katanya beasiswa keluar sudah disetujui ya.”
“iya, tapi beberapa persyaratan masih harus aku lengkapi.” jawabnya.
“Jaga Kesehatan Karin, aku berharap kamu tidak sungkan menghubungiku.”
“Makasih Hen, i will. ”

Percakapan singkat itu sedikit membuatku lega, setidaknya untuk hari ini yang sibuk memindahkan Bapak dari ICU ke ruang perawatan ini. Selintas bayangan Hen sekelabat lewat di pikiran ini. Lelaki itu masih seperti dulu. Bahkan terkadang merasa dia membuntuti diriku. Selalu menjadi orang pertama yang tahu jika terjadi masalah denganku. Tentu saja setelah mas nono. Tiba-tiba suara batuk bapak membuyarkan lamunanku.

“Karin, bapak haus,” suaranya begitu lemah

Aku membantu bapak agar bisa duduk. Bau badannya tercium begitu melekat di hidung ini. Sejurus air mata hampir tumpah namun aku menahan semua rasa ini. Aku menyodorkkan segelas air dan membantunya minum.

“Kamu belum tidur Karin?” tanyanya.
“Sebentar lagi Pak.”
“Besok, jangan lupa mintakan ke dokternya biar bapak bisa pulang besok ya.”
“iya pak, besok di usahakan ya,” kataku.
“Bapak sudah tidak betah di sini.”
Aku tersenyum. Berusaha menenangkan gejolak hatiku sendiri.

Merapikan selimut Bapak dan memandang wajahnya. Rasanya sudah lama tidak sedekat ini. Nampak garis tua tertanam di wajah itu. Bapak begitu keras tidak mau tinggal dengan salah satu anaknya. Baginya rumah itu adalah dunia kecilnya yang indah.Rasanya tidak adil saja untuk Bapak. Di usia senjanya harus seperti ini. Semua hal dilakukannya sendiri. Dia tidak akan meminta bantuan selama hal itu masih bisa dia kerjakan. Bahkan sakitpun, Bapak enggan aku suap. Lelaki tua itu begitu sabar dalam tidurnya.

25 September 20012
Lepas subuh bapak sudah terbangun. Suara berita pagi di televisi langsung di komentari Bapak. Aku masih bergegas menyiapkan keperluan mandinya. Bapak ingin sepagi mungkin keluar dari tempat ini. Air hangat, pakaian, pampers dan handuknya sudah siap. Aku menuntun bapak ke kamar mandi, membilasnya sembari mendengar komentarnya tentang berita tadi. Aku terkadang ikut tertawa juga. Bapak begitu bersemangat meski kakinya terkadang masih tergetar tiap kali mengubah posisinya. Semua baru berhenti ketika bapak menyikat giginya. Senang rasanya dia menikmati semua ini. Bergegas membereskan tempat tidur dan menyiapkan kursi duduknya untuk sarapan.

“sarapanku selalu tidak enak,” sambil makan Bapak mengomentari kesekian kalinya diet Rumah sakit.
“di rumah nanti aku buatkan ikan masak kesukaan bapak ya.”
“iya, Bapak ingin itu. Kamu masih tahu kan caranya,” tanyanya.
“tapi buatan ibu lebih enak.”
“aku suka jika kamu ingin membuatnya,” katanya sambil tertawa hingga memperlihatkan gigi bawahnya yang hampir habis.
Aku suka kalau dia tertawa terbahak seperti ini. Semangatnya telah kembali. Saat sarapan seperti aku suka membidiknya dengan kamera kecilku. Tingkah seperti artis saja. Bapak seolah tidak mengetahui kalau aku selalu melalukannya diam-diam.

Suara teleponku berbunyi. Aku keluar kamar karena tidak ingin menganggunya.

“dari siapa? koq lama diluar?” tanya Bapak.
Aku membereskan sisa sarapannya dan memberikan obat yang harus di minumnya.

“Pak, mas nono mengambil cuti panjang. Siang nanti akan tiba,” suara bergetar senang.
“artinya bertambah lagi yang akan menemaniku melihat acara liga di tengah malam,” tawanya begitu senang.

Senang rasanya berada di sisimu, mendengar suara napasmu, celotehmu, melihat binar semangatmu, membuat mata ini bisa terjaga untukmu setiap saat. Namun semua itu tak sebanding dengan ketulusan, keikhlasan, kasih sayang, dan doa tiada putusmu untukku.

Lelaki pertama dalam hidupku.

Takbir Ied – Mu

lima hari sebelum ied.

Baru merebahkan punggung di sofa rumah ini, ketika suara pesan berbunyi. Ada rasa malas membacanya. Mata ini butuh tidur setelah 17 jam menempuh jarak dari jakarta ke rumah ini. Bersyukur karena puasa masih terjaga selama perjalanan lebih 780 km ini.
Pantura masih terlintas di ingatan dengan segala keunikan menjelang mudik tahunan ied fitri ini.
Bersyukur kali ini karena mendapatkan libur lebih awal 5 hari sebelum ied. Membayangkan jika baru berangkat esok hari. Kemacetan bak ekor ular yang tak berujung. Bisa saja waktu tempuh lebih dari 24 jam

Suara pesan berbunyi. Membaca berurutan pesan dalam grup itu. Istri seorang teman mengalami HELLP syndrome dan akan menjalani cuci darah. Ini berita ke sekian kali yang aku dengar dalam bulan ini tentang seorang teman yang mengalami komplikasi kehamilan. Sejawat.
Yaa, sejawat bahkan diri sendiri pun tidak akan kuasa melawan jika itu takdir. Mencoba mencari tahu nomor kontak dalam daftarku. Akhirnya mendapatkan juga. Semoga dia masih menggunakan nomor yang sama.

Tersambung.
Menanyakan keadaan istrinya. Mencari tahu sedikit kejelasan yang telah terjadi. Tak banyak yang di bicarakan. Berharap dia tabah menjalani semua di ramadhan ini. Terdengar samar-samar suara yang begitu akrab. Suara mesin di ruangan itu. ICU.
Sepanjang pembicaraan singkat, bayangan tempat itu terpampang jelas di pelupuk mata.
Sudah lama rasanya menjauh dari dunia itu. Tidak sama dengan sebagian besar temanku yang lain. Mereka masih melanjutkan pendidikan dan begitu akrab dengan situasi itu.

Pilihan hidup yang berbeda, meski langkah awal sama.

*****

Lebaran kali ini di sini, di kota kecil ujung timur pulau Jawa. Mungkin ini yang kesekian kali menghabiskan takbir ramadhan. Rasanya tidak adil untuk ayahku. Selama merantau 8 tahun ini, baru sekali merasakan takbir ramadhan bersamanya. Itu pun dua tahun lalu.

Namun tahun ini, tetap memutuskan untuk menyambut syawal ini di kota kecil ini.
Akhirnya kerinduan bertemu diri lelaki tua itu hanya bisa melalui suaranya. Berjanji bertemu dengan beberapa hari setelah ied ini. Suara beratnya beberapa hari lalu saat dirinya berulang tahun ke 70. Serasa beda mendengar kali ini.

“Tekanan darahku normal dan gula darahku juga turun, ” katanya percaya diri.

“Sama sekali tidak ada keluhan selama puasa?” tanya ku.

Ada sedikit khawatir karena selama ini meski apapun dia hampir tidak pernah mengeluh. Mencoba menyakinkan diriku sendiri.

Sedikit menyinggung dia berkata,” kamu sudah lama tidak mencabuti ubanku,”

Air liur ini rasanya semakin pahit di puasa ini.

“Pulanglah, kalau sempat,” suara batuk

“Mungkin ibumu lebih rindu kepadamu,” katanya lanjut.

“Nisannya sudah di perbaiki sesuai permintaannu bulan lalu, tapi masih ‘kering’ tanaman sekelilingnya, ” katanya.

Aku terdiam di ujung telepon. Berusaha menyusun kata yang tiba-tiba hilang di otak ini.

“Iya, nanti aku akan mempercantik nisan itu,” mencoba berkata.

Telepon ditutup dengan tawanya yang renyah sambil berkata,”kau adalah diriku diwujud yg lain, percuma memanggilmu sekarang pulang. Engkau akan Pulang jika saat itu tiba.”

Sejauh apapun diri ini pergi, tetap anak kecilmu yg manja. Yang tiap bertemu akan selalu membersihkan kuku kakimu dan mencabuti ubanmu. Rindu itu selalu ada untukmu. Lembaran tiket masih di tanganku.

******

Suara takbir mulai terdengar selepas ashar.

Suara pesan terus bunyi dari gadget ini. Pesan datang dari seorang teman.

“Suamiku masuk RS dan langsung UGD. Nyeri punggung menghebat.”

Aku terduduk. Rasanya seperti ada gendam yang memukul kepala ini. Leukimia. Penyakit itu menghebat menyerang tubuh suaminya sejak pertengahan Ramadhan. Terakhir menjenguk beberapa hari lalu sebelum aku mudik ke kota ini.

Masih jelas raut mukanya yang semangat dengan kedatangan kami meski itu sudah jam 10 malam. Menemani kami sampai jam 1 malam dengan semangat. Padahal baru beberapa saat lalu, transfusi albumin selesai di lakukan.

Sulit menjelaskan.

Perkembangan terakhir, morfin sudah masuk 9 kali dengan dosis yg teruskan di naikkan, tapi kesakitan itu tetap berdiam dekatnya. Syringe pump dan segala macam infus sudah terpasang dan ICU tempat mereka mendengar takbir malam ini.

*****

Takbir bertambah ramai.

Suasana ramai sejak sore di kota. Lebaran ini menjadi sedikit unik. Dalam beberapa tahun, mungkin kali ini shalat ied menemukan kebersamaan lagi. Kali ini tidak ada shalat ied dalam 2 hari berturut karena perbedaan hilal.

Mungkin itu juga menjadikan semua orang tumpah ruah menyambut takbir. Perempuan, anak kecil sibuk dengan pawai becaknya selepas maqrib. Lelaki mempersiapkan beduk untuk takbir selepas ‘isya.

Tapi yang tidak bisa aku terima nalar, dimana hubungan petasan atau semacamnya dengan kumandang takbir. Malah petasan itu yang membawa petaka ketika 400 lebih rumah hangus terbakar di kawasan benhill, Jakarta Pusat beberapa minggu lalu.

Masih terbayang 1000 lebih pengungsi yang terpaksa hidup di pelataran rumah susun sampai pekuburan yang berada dekat situ. Melihat bayi-bayi yang masih bulanan ikut tidur di pengungsi seperti Tuhan menjatuhkan hukuman atas keteledoran yang tidak pantas itu.
Puasa menjadi ujian kali ini melihat tempat-tempat mereka. Tak layak menahan dingin di saat malam, dan meneduh di terik siang. Namun, itulah sementara tempat mereka. Mesti di syukuri. Dalam keterbatasan ruang, lebaran kali ini mereka masih berkumpul.

Sementara aku, mengikuti polaku juga. Lebaran jauh dari akar diriku. Menahan kenangan dan ingatan tentang suasana bau ketupat, buras dan masakan ayam bumbu lengkuas buatan ibu.
Melepas kenangan dengan mendengar suara serak lelaki tua lewat telepon maafku. Maaf, tidak menemanimu di malam takbir. Doa tidak putusmu selalu sampai bahkan sebelum menjadi nyata dalam hidup.

Mesti di syukuri. Karena mendengar takbir kali ini masih bersama orang – orang yang memilihku meneruskan akar budaya mereka.

Patut di syukuri. Membayangkan seorang teman menemani suami dengan Nyeri Kanker yang sangat meski terapi Morfin menemani sekarang. Tak terlintas dalam pikirannya, akan menemani suami tercinta di ruangan dingin tersebut. Hanya mempersiapkan diri jika perpisahan itu menjadi KehendakNya.

Harus di syukuri. Semoga ibu itu mengetahui suaminya setia menemaninya di ICU melewati masa-masa kritis HELLP . Karena takbir kali ini, akan terasa beda tanpa orang-orang tercinta.

Ya, bersyukurlah bagi mereka yang masih mendengar takbir akhir ramadhan ini bersama orang terkasih meski mungkin saat ini langit adalah atap mereka dan bumi menjadi alas tidurnya. Karena di suatu ruangan yang dingin dan tertata rapi ada seorang ibu menunggui suami dengan sisa napas dengan leukimia dan seorang suami menunggui istrinya dengan harap yang dalam, istrinya bisa melihat bayi baru mereka.

Karena kebersamaan ied fitri lebih berharga dari apapun. Sama berharganya dengan mukenah usang pemberian ibu.

*****

Kembali pulang. Kembali ke asal. Semua berduyung demi sebuah ciuman di tangan itu dan maaf terucap di bibirnya.

*with mother in law, who missed two her grandchildren in Sumbawa* akhir Ramadhan 1433H / Agustus 2012

Mutiara Hati

Jam menunjukkan angka 09.00 malam. Sudah tiga jam bersama mereka dalam kegembiraan. Waktu tak terasa jika sudah bersua. Malampun tak menjadi halangan untuk tertawa lepas, meski tempat ini bukan hanya kami bertiga. Yah, inilah kami, bertemu itu sama artinya mengobati batin satu sama lain.

Hanya Jeane dan seluruh keluarga berada di jakarta ini. Sepeninggal SMA, seluruhnya pindah ke kota ini. Desti sudah sejak kuliah memilih bogor sebagai tempat kuliah dan sekarang bekerja di sana juga. Sedangkan aku baru pindah selepas menyelesaikan kuliah di kota asal kami. Iya, bertemu mereka seakan tidak pernah habis untuk membicarakan berbagai hal. Terkadang hal itu sudah kami bahas di perjumpaan lalu, namun tetap saja terasa berbeda jika bertemu dan membicarakannya lagi.

Tiba-tiba telepon genggam ku berdering. Hmmm, dari teman di pulau seberang. Aku bangkit dan sedikit menjauh dari riuh mereka dan segera aku jawab.
“ya ning, halo.”
“mba, aura masuk rumah sakit,” suara agak terbata.
“sedari sore muntah mba,” katanya lanjut.

aku berusaha tenang dan mendengar penjelasannya mengenai keadaan aura. Berusaha tenang atau memang lagi menenangkan diriku sendiri. Suaminya lagi tidak bersama mereka karena sedang meneruskan pendidikan di Semarang.

“kamu sama siapa sekarang ,” kataku setenang mungkin.
“hanya berdua aura di taksi,” jawabnya lanjut.
“ayah, ibu dan kak santi sementara menyusul ke rumah sakit mba,” terdengar sedikit isakan.
“ning, kamu yang tenang yaa, ” berusaha meyakinkannya.
“kartu aura kamu bawakan ,” tanyaku lagi.
“aku bawa mba.”
“tunjukkan kartunya aja dan semuanya akan mereka urus,” lebih meyakinkan kali ini.
“kabari aku jika ada apa kapan saja, jangan ragu ya ning.”
“Kamu udah kabarin suami kamu? kataku lanjut
“belum mba, nanti aja mba.”
“ayah aura sementara fokus ujian mba,” suaranya penuh khawatir. Khawatir keadaan aura dan keadaan suaminya. Dirinya??
Pembicaraan berakhir dengan suara isak tangis yang berusaha nining sembunyikan.

Aku kembali duduk. Jeane yang pertama melihat kegelisahan ku, meski aku tetap berusaha setenang mungkin.
“Siapa rein? suami mu?,” katanya
“bukan, ini bukan dia,” jawabku.
“nining, adik Santi.”
“aura, anaknya nining masuk RS.”lanjutku.
“Dia nasabah kamu juga, ” tanya desti sembari menyodorkan capuccino kedua yang aku pesan.
“makasih desti.”
“iya, nasabahku, tapi ga ada masalah koq.”
“hanya khawatir aja, krn suaminya lagi pendidikan di semarang.”
“tapi santi dan ibunya sudah menyusul nining ke rumah sakit,” kataku sambil tersenyum.

Jeane berdiri dan memesan beberapa cake utk kami dan segelas cola untuknya. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang. Namun pikiranku ternyata sudah tidak berada di tempat ini. Jiwa ini berada di tempat beberapa bulan silam. Di cafe itu bersama Vero. Entah mengapa terlintas diri dan seluruh cerita saat ini. Hmmmm, mungkin karena telepon dari nining. Nada kekhawatiran yang sama dari seorang ibu. Ketakutan dan ketidakberdayaan saat suami tidak di sisi. Yaaa, bersama vero dan semua perasaan yang berkecamuk dengan kegelisahaan hatinya saat itu.

Delapan bulan lalu…….

Vero hanya diam dengan tangis tanpa suara kali ini. Aku membiarkan saja dia dengan semua perasaannya. Membiarkannya menikmati ketidakberdayaan sebagai perempuan. Terus membiarkan diam dalam tangis tanpa suara. Mencoba menahan segala gejolak yang ada dalam diriku yang ingin merengkuhnya dalam pelukan. Tapi belum saatnya aku melakukakan itu. Aku ingin dia mendapatkan kesadarannya kembali sebagai wanita terhormat melalui keadaannya ini.

“aku ga pernah menyangka, dia akan melakukan itu,” vero berusaha menahan isaknya.
“selama ini aku hanya patuh nurut dengan semua yang dia inginkan dan apa yang dia katakan,” katanya lebih lanjut.

Aku mengambilkan tissue untuknya.

“Aku merasa saja, hidup ini tidak adil untukku dan anak-anakku, ” emosi sedikit meninggi. Dikepalnya tangannya sembari melihatku kali ini.
“aku perempuan baik-baik, yang kerja hanya mengurusi anak dan suami saja, ” matanya mulai mengering.
“jadwal mengajarku saja hanya sekali dalam seminggu.”
“Tidak ada kesalahan yang saya buat dalam hidup ini, tapi ini seperti karma untuk sesuatu yang tidak aku lakukan,” kembali memelas dengan genangan bening di dasar kelopaknya.

Aku masih membiarkannya menikmati dirinya dalam kenyamanan rintihannya. Memberi kesempatan gendang telingaku dilalui semua cerita tentang Deni yang meninggalkan dirinya secara sepihak. Mendengar amarahnya dan sedih yang tak bertepi baginya. Melihat matanya yang tiba-tiba menjadi iba jika bercerita tentang dua anaknya yang selalu menanyakan keberadaan ayah mereka. Melihat semua sudut diri vero. Melihat seorang perempuan yang terpuruk, mata yang kosong dan harapan yang hilang. Ibarat seorang hampir kehilangan jiwa dan keinginan hidup ini. Namun terkadang mata itu garang dan bersemangat kala dewi dan ari tersebut dari bibirnya. Dan saat itu dia bukan lagi sekedar perempuan tapi dia adalah ibu. Ibu yang rela melakukan apa saja untuk melindungi dua nyawa berharga itu.

“tidak ada alasan untuk Deni untuk mengambil hakku atas anak-anakku,” salah satu ucapannya yang begitu tegas.
“tapi Rein, aku benar-benar ga kuat dengan keaadan ini.”
“membicarakan masalahku kepada keluargaku, seakan membuka aibku dan suamiku sendiri,” vero masih membela Deni.

Aku menghela napas mendengar pembelaannya kali ini. Alasan yang membuat mengapa masalah ini keberatan dia ceritakan ke siapapun termasuk ke Jeane sendiri. Sahabatku sendiri. Yaa, vero adalah adik Jeane. Dan tragisnya, aku menyembunyikan mata dari Jeane bertemu dengannya. Menyembunyikan masalah yang aku tahu lebih dari dirinya.

“kamu masih berharap Deni akan balik ke kamu?,” tanya ku.
“demi anak-anak aku akan melupakan semua salahnya, rein,” jawabnya berbata. Berusaha meyakinkanku, atau lebih tepat meyakinkan dirinya.
“namun kamu tidak adil dengan keluargamu yang lain vero,” mencoba sedikit menenangkannya.
“mereka bingung dengan uring-uringan dirimu selama ini.”
“emosi tidak stabil dan itu tidak baik untuk dirimu dan kedua anakmu,” sedikit keras suaraku kali ini.

Vero memandangku kala aku menyebut kedua anaknya. Matanya seketika menjadi terbelalak melihatku. Tapi aku tidak peduli lagi. Bukan saatnya membelai rambutnya, setelah berbulan-bulan dia menyimpan sendiri masalah ini. Aku hanya tak ingin ada orang lain lagi yang menanggung trauma itu lebih dalam. Terlebih untuk kedua bocah itu.

“dewi dan ari bukan bumper yang menjadi sasaran marahmu jika dirimu seperti ini,” lebih keras namun mencoba meraih hatinya.
“mereka justru harus menjadi tiangmu untuk berpegang dalam masalah ini.”
“mereka alasan utama kamu hidup dan mau berjuang untuk semua yang kami inginkan,” hatiku mulai terbawa arusnya.

Aku terdiam. Mencoba menetralkan sikapku kembali. Aku tak ingin hanyut dalam marah dan sedih kali ini. Namun vero kembali terisak dengan sempurna di hadapanku. Aku tak ingin meminta maaf karena menyinggung perasaannya. Biarkanlah, toh dia sekarang sedang menghadapi keadaan yang lebih kacau dari sekedar kata-kataku.

“apapun keputusan kelak, yakinkan dirimu vero,” kataku lebih lanjut
“aku bukan orang yang sempurna dan tidak cukup bijak untukmu, namun yakinlah aku akan membantu dan mendukungmu dalam hal ini,” kali ini aku membiarkan air mata mengalir di pipiku. Ketidakadilan untuk seorang ibu.

“Setiap Cobaan itu sudah paket lengkap dengan penyelesaiannya, kita hanya di minta bersabar saja,” kataku. Terdengar Klise tapi itulah adanya.

Perempuan. Dengan segala yang mungkin nampak tak berdaya, selalu ada kekuatan besar untuk bisa memaafkan apapun demi anak-anak mereka. Vero masih menundukkan kepala sambil memegang tissue yang sudah tercabik. Berusaha untuk mendapatkan kekuatan dirinya kembali.

Bagiku malam itu adalah perjalanan panjang dalam satu tahun ini. Bukan hanya panjang tapi membuat hati terkadang dalam keadaan perasaan yang tidak stabil. Keterpurukan perempuan seperti vero banyak aku baca di mana saja. Namun jika yang mengalami adalah seorang yang begitu dikenal rasanya hanya diam yang bisa mewakili segala rasa ini. Tak berdaya yang ada, terlebih jika bertemu dua anak itu, Dewi dan Ari, 2 bocah manis itu ada di depan mata.

Entah mengapa, keadilan yang di katakan vero untuk diriku menjadi tidak tepat. Karena sesungguhnya Keadilan itu hanya untuk anak-anak seperti Dewi dan Ari. Mereka masih sangat kecil untuk membuat mereka mengerti akan keputusan orang tua mereka. Perceraian ini. Mengapa mereka di takdirkan dengan keadaan orang tua yang terpisah hanya karena ego yang bagi mereka tidak masuk akal. Permintaan mereka sangat sederhana. Hanya ingin melihat ayah dan ibu selalu bersama mereka, itu saja. Sulitkah???

Dan pada akhirnya perpisahan yang paling di benci itu pun terjadi. Tepat setahun gejolak itu menjadi ombak besar dalam hidup vero, palu sidang itu akhirnya terketuk juga. Bukan hal mudah bagi vero dan kedua anak itu. Namun satu yang melegakan, saat terakhir ini justru dihadapi vero sangat tegar. Dalam benaknya hanya ada memulai hidupnya yang baru dengan anak-anaknya. Tujuan hidupnya hanya memberikan yang terbaik untuk Dewi dan Ari. Kesalahan ini akan di tebus dengan kasih sayangnya yang tak berujung. Menjadi Single Parent untuk kedua bocah itu.

Tapi apapun itu bagi kami, aku dan Jeane, tidak ada ucapan selamat kali ini untuk Vero. Ketegaran dan keinginan untuk memulai dari nol hanya lebih membuat kami terdiam dalam ketidakberdayaan melihat kedua anak itu. Rasanya tak pantas memberikan ucapan selamat ke ibu mereka, sedangkan di lain sisi kedua bocah justru mungkin akan berontak jika mereka mengerti semua ini.

“semua sudah selesai rein,” kata Jeane waktu aku mengabari sidangnya telah berakhir.
“namun belum bagiku jeane,” kataku hampa dan terasa air hangat itu mengaburi mataku.
“bagi vero mungkin ini telah berakhir, tapi tidak untuk dua anak itu.”
“entah suatu saat kita semua harus bersiap dengan pertanyaan-pertanyaan mereka kelak,” kataku lebih lanjut.

Percakapan kami berakhir tanpa salam. Terdengar jelas isak Jeane diujung telepon ini. Keadaan yang tidak jauh beda dengan diriku. Masing-masing dengan pikiran dan isaknya, dan aku tak peduli ketika sopir taksi itu melihatku terisak kali ini.
Sempurna.

Cappucino kedua ini belum habis ketika tiba-tiba terdengar suara manis yang teriak dengan segenap hatinya,

“tante Rein!!!, “suara dewi melengking sambil berlari meninggalkan vero yang sedang menggendong Ari.
“heii,” tepat masuk dia dalam pelukan ku.
“koq kalian di sini,” tanyaku heran sambil memandang Jeane.
“habis nonton film animasi tante Rein,” jawab Dewi dengan manis.

“iya, Jeane bilang kalian di sini,” kata Vero sambil menurunkan ari dari gendongannya.
“kalian bertiga saja,” tanya desti.
“ga, dio dan Irene ikut koq,” jawab vero
“mereka masih membayar coklat yang tadi mereka beli,” kata vero lanjut.

Keriuhan tempat kamu duduk bertambah dengan kehadiran Dio dan Irene. Mereka anak dari Jeane. Akhirnya tak terhindari rebutan coklat diantara anak-anak itu. Tidak berapa lama irene nangis karena mendapatkan bagian yang lebih sedikit.

“aku mau yang itu mama, “sambil menunjukkan coklat di tangan Ari.
“aku yang antri membayar, koq aku mendapatkan bagian yang lebih kecil,” tangis pada Jeane.
” iya, mama beliin nanti yang lebih besar,” bujuk Jeane.
“lagian Ari masih kecil, nanti juga coklatnya dia tinggal koq,” kata Jeane memeluk irene.

Tangis Irene mereda tapi masih dengan isaknya memandang coklat yang di pegang si kecil Ari. Aku hanya tertawa sambil membujuk Ari memberi coklatnya. Tapi bukannya memberi tapi meminta gendong padaku. Melihat itu, semua tertawa.

“ambil sebagian punyaku aja irene,” kata Dewi memeotong bagian coklatnya.

Irene senang bukan main mendapatkannya dari Dewi. Kini punya dia lebih banyak. Keriuhan yang menyenangkan ditengah malam ini. Namun keriuhanan singkat ini akan berakhir karena kami akan meninggalkan tempat ini. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Tiba-tiba desti berkata hal yang mengejutkan.

“aku akan lamaran sebulan lagi,” katanya dengan hati-hati

Aku, jeane dan Vero terdiam sambil menunggu kata-kata selanjutnya. Ari juga ikut bengong melihatku tiba-tiba terdiam memandangnya. Irene, Dewi dan Dio saling memandang.

“aku mau kalian semua ikut dalam rangkaian acaraku nanti, termasuk semua anak-anak ini, ” katanya lagi.
“artinya Irene dan Dewi akan menemani tante desti sebagai pengantinkan?,” tanya irene
“iya, dan kalian akan menjadi pendamping tercantik yang pernah ada ,” kata desti sambil memeluk keduanya.
“lalu aku sebagai apa dong ,” tanya dio penuh harap.
“kamu akan jadi pengawal tertampan untuk tante desti nantinya, ” kata desti.

Semua tertawa. Anak-anak itu saling berceloteh tentang pakaian apa yang akan mereka pakai nanti di acara itu.
Jeane, Vero, Desti dan Aku saling berpelukan. Bahagia Rasanya melihat seorang sahabat memutuskan hal terindah dalam hidupnya. Diantara kami, mmemang hanya Desti yang belum menikah. Namun kabar malam ini sungguh di luar dugaan.

“aku juga ingin bahagia seperti kalian, dengan anak-anak yang begitu manis,” kata desti haru.
“iya, tiada yang lebih membahagiakan seorang perempuan selain memegang tangan-tangan kecil mereka,” kataku sambil mencium Ari yang begitu menggemaskan.

Akhir malam yang indah. Dan bagiku, jika meminta seluruh berkah hidupku untuk menukarkan senyum ini menjadi ibu, menjatuhkan air mata ini untuk seorang anak, melelahkan hati ini, memutihkan rambut ini dengan tingkah mereka, terantuk mengantuk karena menjaga mereka, maka ikhlas dengan segenap hati ini. Berharap Engkau mempercayakan satu mutiara hati kepada kami seperti mereka.

Bocah – Bocah ( Catatan Kecil di Bagian Terakhir Tingkat 5 bersama Teman-temanku )

Bocah – Bocah

Bocah itu terbaring tak berdaya dengan selang infus dan sonde yang masuk melalui hidungnya yang merupakan tanda bahwa ia masih berhak untuk hidup di dunia ini. Wajahnya yang putih, lugu dan tak berdosa itu membuat iba. Kesadaran yang tiba-tiba hilang setelah sebelumnya anak itu kejang selama kurang lebih dua jam di rumahnya. Seorang perempuan terlelap tidur disampingnya tiba-tiba terbangun. Seakan matanya berkata betapa dingin dan sepinya malam ketika ia menemani anaknya berjuang melawan maut. Aku mencoba menggenggam tangannya pergelangan tangannya, mencari tanda-tanda kehidupannya. Kuhitung denyut nadi yang lemah selama semenit kemudian pernapasannya. Jam menunjukkan pukul 03.00 subuh ketika hasil follow up kutulis di selembar kertas yang tergantung di samping tempat tidur .

Malam makin larut, aku membayangkan betapa hangat kamarku yang terpaksa aku tinggal karena tugas malam ini. Udara semakin menusuk masuk ke tulang ketika harus melangkahkan kaki menyusuri lorong bangsal rumah sakit ini. Aku berhenti tepat di sebuah kamar bertuliskan Kamar Hematologi. Kamar dimana pasiennya menderita penyakit perdarahan. Kalau selama ini yang dikenal hanya leukimia maka selain itu ada yang dinamakan anemia aplastik dan ITP. Manifestasi klinik yang selalu muncul adalah keadaan dimana mereka selalu pucat dan perdarahan yang selalu ada. Perdarahan itu bisa saja keluar dari hidung, gusi ataupun ada memar yang timbul di bawah kulit. Dan yang lebih ditakutkan lagi mereka sangat mudah terinfeksi. Apalagi jika kondisi mereka tiba-tiba saja turun secara drastis. Itu juga yang menjadi sebab mereka selalu keluar masuk rumah sakit. Diantara mereka yang menderita leukimia yang sudah kronik mungkin saja terjadi pembesaran organ dalam tubuh mereka seperti splenomegali membuat perut mereka membesar. Tubuh membesar bukan karena gizi tapi beban yang besar yang mereka bawa. Obat Kemoterapi yang mereka dapatkan membuat pertumbuhan mereka kelihatan sangat aneh dibanding dengan umur dan anak-anak yang sebaya dengan mereka. Tubuh mereka gemuk dan muka terlihat seperti moon face tapi akibat obat kemoterapi yang mereka konsumsi.

Aku menarik napas panjang, terbayang bau darah akan menusuk dan penderitaan dimuka setiap bocah yang dirawat. Dalam kamar itu ada delapan buah tempat tidur dan semuanya terisi oleh bocah-bocah dengan sakit yang sakit yang tidak pernah mereka minta. Beberapa tenang dalam tidur namun leukimia yang mereka derita membuat setiap saat kondisi mereka dapat menurun. Maut tak segan meminta mereka dari orang yang dicintainya. Dan diantara mereka bahkan harus bergantung dari transfusi yang mereka harus terima selama hidup mereka.

Aku membuka pintu dengan hati-hati, berusaha untuk membuat suara yang minimal. Segera sesaat aku membuka pintu, bau darah busuk menyengat. Sedetik dua detik mencoba beradaptasi dengan udara kamar itu. Aku mendekati salah satu tempat tidur. Seorang bocah sedang dielus oleh ibunya. Udara yang mungkin tidak mengenakkan membuatnya terus menangis. Aku memandangnya dan mengelus berusaha menenangkan dirinya ataupun menenangkan hatiku melihat penderitaanya. Darah yang mengering masih ada di sekitar hidung dan bibirnya yang mungil. Entah kenapa anemia aplastik itu harus singgah di bocah ini. Sementara itu dia harus kehilangan masa kecilnya yang begitu manis. Dia hanya memandangku dengan mata kosong seakan ingin berkata kapan penderitaannya akan berakhir. Andai kata pun dia bertanya demikian, mungkin yang terucap dari mulutku adalah suatu ketidakpastian yang pasti.

Kulakukan prosedur follow up yang biasa kulakukan. Tetes transfusi ku hitung lagi, harus dilakukan agar tidak terjadi overloading, yang akan membebani jantungnya. Ku genggam tangannya sebelum beralih ke sebelahnya. Penderitaan yang terlihat tidak jauh beda. Hanya saja transfusi set sudah tidak terpasang lagi. Tidak ada lagi darah yang keluar dari hidung ataupun sekitar bibirnya. tapi itu biasanya tidak akan bertahan lama. Kulakukan prosedur yang sama dan jam menunjukkan pukul 04.00 subuh ketika aku keluar dari ruangan ini, seiring suara orang mengaji dari mesjid rumah sakit.

Aku bertemu dengan beberapa co ass yang juga baru saja melakukan follow up di kamar jantung. Kami berjalan bersama melewati ruangan ICU/ICCU. Ada banyak orang dengan setumpuk barang seperti rombongan penumpang kapal. Tapi ini bukan penumpang melainkan keluarga pasien yang sedang menunggui keluarga mereka yang lagi meregang nyawa. Kebanyakan dari mereka datang dari luar daerah dan membawa segala macam perbekalan.

Kubelokkan langkahku ke ruangan PICU. Sebenarnya aku benci untuk masuk ruangan ini, bukan saja karena AC yang terus menyala menyebabkan suhunya seperti berada didaerah kutub tapi pasien yang di rawat disini selalu berakhir dengan kematian. Seorang teman memberikan selembar kertas berisi follow up pasien dan memberitahu keadaanya satu jam terakhir.

“keadaannya ga begitu bagus,” kata teman itu

“berharap malam ini bisa kita lewati dengan tenang,” tambahnya sambil menghela napasnya.

“iya, rasanya malam ini agak berat, pasien kamar Hematologi juga tidak begitu tenang,” kataku.

“masih ada satu transfusi terpasang ,” kataku mengingatkan

“baik, aku duluan yaa, lumayan bisa rehat 10 menit sebelum follow up transfusi, ”

“nih, cemilanku. Lumayan untuk ruangan PICU ,” sambil menyerahkan sekantong kripik kentang padaku.

“hihihihi.. makasih ya, good luck ,” sambil berlalu. Kami berpisah setelah percakapan singkat itu.

Seorang bocah 3 tahun yang kelihatan sedang tidur nyenyak. Namun sebenarnya dia mengalami ensefalopati yang membuatnya tidak sadar. Dia sudah lima hari dalam keadaan seperti ini. Seandainya pun dia sadar tapi akan membawa sekuele akibat keadaannya sekarang. Segala macam selang masuk ke dalam dirinya. Tiba-tiba saja anak itu apneu, segera aku melakukan resusitasi dan memanggil perawat untuk menolongku. Ku hitung denyut jantung melalui stetoskop. Resusitasi berhasil dalam beberapa menit, berharap tidak apneu lagi. Setelah semua kembali normal, aku menghitung ulang denyut nadi napas dan suhunya. Suhu tubuh nya mencapai angka 39. Aku mengganti handuk yang telah mengering dan membasahi dengan air hangat dan meletakkan kembali di dahinya.

Sejenak memandang wajahnya. Dalam hati,” kamu lagi mimpi apa bocah manis,”

“begitu indahkah mimpimu sampai engkau enggan membuat kami bahagia dengan senyummu.”

Kuliat lembar follow up, ternyata selama satu jam lalu ia mengalami apneu tiap 15 menit. Dan ini berarti aku harus terjaga terus selama satu jam ini. Tetap terjaga kalau tidak anak ini Gone With the Wind. Aku harus berada di dekatnya sampai pukul 05.30 subuh ini atau sampai ada yang menggantikan mengawasinya. Kuambil sebuah kursi untuk bisa duduk lebih dekat. Aku tak ingin sekejap mata pun tak melihatnya. Wajahnya memucat cenderung cyanosis. Mungkin akibat serangan apneu yang sering itu. Kulihat seorang perempuan duduk berbatas kaca dengan kami. Matanya sangat lelah. Mungkin selama ini dia belum mendapatkan tidurnya. Kami permandangan sejenak. Saling melempar senyum dan seakan batin kami berkata yang sama, ” dia anak lucu dan sangat manis.”

Sekali lagi kuliat lembaran kertas itu mencari jadwal sondenya. 15 menit lagi sonde untuk dia. itu artinya aku masih punya waktu duduk sejenak dan memandangnya dengan puas. Tapi udara ruangan ini betul-betul membuatku menggigil. Sejenak kuluruskan kaki ku dan tetap memandang wajahnya.
Perempuan itu menyiapkan segala sesuatu untuk membuat segelas susu. Kuambil spoit yang telah di cuci dan mulai melakukan aspirasi. Tindakan itu aku lakukan perlahan. terlihat cairan kecoklatan dari lambungnya keluar melalui sonde itu. Aspirasi selesai setelah cairan itu berganti dengan cairan berwarna putih. Kubuatkan susu dan memasukkan dengan sangat perlahan ke lambungnya melalui sonde itu. Sementara itu aku tetap perhatikan pernapasannya. Terkadang memandang wajahnya yg manis. Berharap dia tersenyum meski hanya setarikan untukku. Namun memandangnya tidur seperti ini saja, dia tetap manis.

Jam menunjukkan 05.20 subuh ketika sonde itu selesai aku lakukan. 10 menit lagi jadwalku akan selesai untuknya. Ku ambil stetoskop kecilku untuk follow up terakhir kali, ketika serangan apneu itu tiba-tiba datang. Segera kulakukan tindakan resusitasi lagi namun hatiku merasakan sesuatu yang lain. Segera aku hubungi dokter jaga. Tidak lama, beberapa teman co ass telah datang dan membantu dalam resusitasi. Dokter meminta menambah jumlah oksigen dan melihat kembali cairan infusnya. Keadaan tidak bertambah baik. Tanganku terasa dingin dan gemetar memegang tensimeterku, mataku berkunang sambil berharap jangan pergi sekarang, banyak orang yang menyayangi keberadaanmu di dunia ini. Kulihat bibirnya bertambah biru, kupandangi dia dengan iba. Aku tidak tahu untuk apa dia hadir di dunia ini dengan keadaan seperti ini dan dalam waktu yang begitu cepat. Masih banyak yang merindukan tangis dan tawamu. Kulihat seorang laki-laki memeluk perempuan itu. Berusaha menguatkan perempuan itu atau mungkin malah untuk menguatkan dirinya sendiri.

Semua berlalu begitu cepat. Sangat cepat ketika dokter mengatakan ia telah ‘pergi’. Suara tangis semakin melengking di ruangan kecil itu. Kuelus pipinya. Berharap ini bukan terakhir kali melakukan untuknya. Tapi mungkin ini terbaik untuknya. Ya, kalimat itu selalu menjadi pemungkas untk keadaan seperti ini. Aku tak tahu berapa banyak lagi penderitaan seperti ini yang akan aku temui. Tapi yang pasti akan lebih banyak lagi tawa dari bocah-bocah yang bisa memenangkan maut dan bagiku itu sudah cukup sebagai bayarannya.

Terima kasih, dirimu masih memberi kesempatan melewati sisa malam ini bersamaku.

Dedicated :
Untuk yang Pernah coass bersamaku di Bagian Anak 2002.
Catatan ini pernah menjadi bagian indah hidup kita.
Selamat Hari Anak, bahagia rasanya di beri kesempatan mengenal banyak anak dalam hidup ini.

Taraweh

20 Juli 2012, 19.00WIB @Thamrin Nine ·

Jadi ingat waktu ibu mengatakan kenalilah masjidmu, dan ramadhanlah waktu terbaik jika kamu ke mesjid. Sambil tersenyum dia mengambil mukenah dan sebual Al’quran kecil. Sepanjang jalan saya bahagia membayangkan akan shalat ditemani ibu di masjid dalam gang itu. Keriangan masa cilik yang selalu menjadi pelipur lara jika rindu dirimu.

“mengajinya harus lebih rajin dibanding yang biasanya, “ kata Cia sambil mengambil kain kudung panjangnya.

Ada yang khas dengan kain kudung panjang itu, karena kain penutup bagian kepala tidak seperti biasa nya. Memakainya harus dililit seperti memakai jilbab kain. Namun perlu keterampilan karena lilitan akan membungkus kepala dengan hanya menjepitnya saja tanpa peniti atau pentul. Belum lagi menyisakan kain lebih panjang setelah nya. Beberapa kali mencobanya namun selalu terlepas dari kepala ini,

“kamu memakai kudung yang sudah jadi saja, ini sudah ketinggalan zaman,’’ katanya sambil tersenyum melihatku sering terlilit kain kudungnya yang panjang.

‘iya Cia, ini terlalu besar, tidak adakah ukuran lebih kecil dari ini.”

“sudah tidak ada lagi yang membuat seperti ini. Sekarang sudah banyak yang lebih baik,”katanya.

“tapi aku ingin memakai seperti ini, seperti cara Cia, seperti indo’ juga memakainya, “kataku sambil mencoba entah keberapa kali.

Iya, aku ingin seperti mereka. Seperti Cia dan indo’ ku. Mereka begitu cekatan dengan kudung panjang berbentuk bujursangkar itu. Tangan mereka seperti meliuk menari diatas kepala mereka jika memakainya. Begitu luwes. Mereka adalah perempuan-perempuan luarbiasa. Di mataku mereka selalu ikhlas menjalani hidup ini. Sangat jarang melihat mata mereka lelah dengan kehidupan yang senua serba pas – pasan ini.

Pernah sekali waktu melihat Cia memandang kosong sambil mengambil kain seprei yang dijemur, dan tanpa dia sadari mulutnya berkomat kamit, entah apa yang dia katakan. Hatiku menjadi bertanya. Akhirnya aku sering memperhatikan Cia secara diam-diam. Kali waktu, Cia melakukan sewaktu dia memasak ataupun sambil menyikat baju-baju yang di cucinya. Entah berapa lama aku melakukan itu. Terkadang dalam pikiranku terlintas, apakah dia sedang bercakap dengan sesuatu yang kasat mata. Namun kalaupun demikian alangkah lucunya, karena Cia bukan orang yang suka dengan mahluk yang satu itu. Katanya, ‘mahluk2’ itu kebanyakan jahat dan hanya mau menganggu manusia saja. Kalaupun ada yang baik, hanya sedikit saja dan mereka tidak akan mau masuk ke dunia kita. Jadi, komat kamit itu ???

Sekali waktu, aku akhirnya bisa menanyakan arti komat kamit itu. Dan aku mendapatkan mata dengan tatapan aneh dan lama. Cia menanyaiku sekali utk mengulangi pertanyaan ku.

“iya, selama ini aku selalu melihat Cia berbicara sendiri, padahal sekeliling tidak ada siapapun.”

Matanya makin aneh melihatku dan membuatku tidak nyaman. Tidak ada senyum di sana. Namun aku tidak mau menyerah dengan caranya kali ini. Semakin lama aku melihat ada segurat senyum di bibir tersinggung. Sangat tipis tapi aku yakin sedikit lagi pertanyaan itu menemukan jalannya. Dan tiba suara gelak tawa keluar juga dari dirinya. Tawanya yang manis namun lantang. Membuatku ikut tertawa dan menertawakan diriku juga. Bodoh rasanya menantang matanya tadi yang serasa galak ingin menerkamku…

‘hahahahaha, berapa  sering kamu memperhatikanku melakukan itu?” tanya nya sambil meletakkan semua tumpukan seprei baru itu.

“sering, tiap saat malah ,” kata sambil tersenyum malu seakan ketahuan menguntit nya selama ini.

“kamu pernah tahu apa yang aku komat kamitkan,” tanya nya selidik.

“ga lah Cia, kalo tahu untuk apa aku bertanya sekarang,’’ sambil tertawa aku.

“suatu saat kamu juga akan melakukannya, percayalah,” sambil Cia memegang pipi ku

“suatu saat sahabatku, suatu saat dengan cara mu sendiri, “

Aku tersenyum.

“bakat komat kamit itu sudah kamu dapatkan juga, “ katanya sambil menyentuh tepat di jantung ku.

“tugasmu sekarang memperhatikan saja ya sayang,” katanya dengan senyum betul – betul lucu melihatku.

“iya Cia, “ riang sekali hatiku, karena tidak usah bersembunyi sambil melihat nya komat kamit.

Itu Cia, Ibuku, selalu saja penuh misteri. Misteri yang bagiku tak pernah habis untuk di ungkap. Selesai misteri yang lain maka akan muncul yang lainnya. Termasuk misteri komat kamit nya itu. Selalu saja ingin mendengar apa yang sering dia ungkapkan namun tetap saja gendang telinga ini sangat tidak peka utk mendengarnya. Berharap bukan karena serumen di dalamnya atau karena otitis yang mungkin aku derita akibat rhinitis alergi yang biasa muncul secara tiba-tiba.

Dan mungkin karena Cia mengetahui rasa penasaranku, kadang dia tertawa melihatku malah di kala dia sedang komat kamit itu. Rasanya sungguh lucu ketika berpandang dengannya pas ketika aku memperhatikan dan mulutnya pun masih komat kamit. Biasanya kami langsung tertawa terbahak-bahak sambil aku kabur meninggalkan dia atau malah berlari sambil memeluk nya dan dia tetap saja dengan tertawa terbahak nya yang begitu manis namun lantang.

Malam pertama taraweh selalu di sambut gembira oleh kami empat bersaudara, namun yang paling bergembira mungkin si sulung kakakku. Rasanya sejak sore dia sudah ceria saja.

“pasti kamu akan bermain lagi sampai tengah malam, “ kataku nyinyir

“hussshhh jangan ikut-ikutan, mau tahu kamu,” sambil membelakkan matanya.

Aku tidak pernah takut dengan tingkah polanya. Kadang membencinya saat dia menyusahkan Cia dan Tetta karena ulahya. Membuat lubang di kepala temannya , berkelahi dengan teman-temannya sampai berurusan dengan orang sekampung. Akibat kelakuan itu sampai untuk sekolah dasar saja dia harus berpindah sekolah sampa tiga kali. Entahlah, tapi Cia selalu membelanya. Namun aku kasian juga jika dia harus di dudukkan sebagai tersangka karena kenakalannya. Kadang mengintip dari balik tirai dapur melihatnya.

Sebenarnya dia baik hati. Menemani diriku ke toko buku dengan sepeda meski jadwal bermain dengan temannya harus berkurang, bahkan adik kecilku sering dimandikan sambil bermain air. Dan paling menyenangkan, selalu mengajak kami bertiga bermandi hujan meski Cia memaksa kami untuk masuk ke rumah. Dan pada akhirnya keempat kamu akan mendapatkan kibasan rotan Cia akibat mengotori lantai kayu rumah kami dengan air hujan dan lumpur. Senyum memori itu selalu membuat diri rindu itu. Bagi kami adik-adiknya bak artis saja karena ulahnya. Siapa yang tidak mengenal dia, seorang bocah umur 12 tahun yang berani terjun di kanal yang lagi meluap untuk menolong seorang bocah 2 tahun yang tergelincir waktu hujan dan petir bersahut-sahutan. Kemanjaannya kepada Cia membuat selalu merasa ada yang melindungi.

“kamu jangan marah dengan kakakmu ,” kata ibu suatu waktu

“dia itu saudara laki-laki kamu satu-satunya,”

“ada saatnya dia akan sadar akan keberadaan dirinya sebagai laki-laki dan pada saat itu kalian bertiga akan bangga padanya,” kata Cia lebih lanjut.

Terkadang kecemburuan itu muncul juga.

“tapi dia selalu membuat orang sekampung datang ke rumah ini Cia,” kataku protes

“selalu membuat malu Tetta dan aku takut kalau Tetta sudah marah dan diam sampai 3 hari,”

Cia selalu membela dengan gigih kalau aku sudah kesal.

“tapi semua yang di lakukan itu ada alasannya sahabat kecil ku, “

“suatu saat kamu akan mengerti mengapa perlakuan terhadap dirimu dan dia berbeda,” Cia berusaha merebut hatiku dengan bijaknya.

Apapun itu alasannya, tapi dia selalu membawa masalah itu pulang kerumah. Bagian itu yang paling aku tidak sukai. Bagiku, apapun yang terjadi di luar rumah jangan bawa ke dalam rumah ini. Selesaikan di luar sana.  Kekesalan itu secara tidak sadar tersimpan rapi dalam alam bawah sadarku. Tersimpan dengan rapi sampai saat ini. Selesaikan setelah itu lanjutkan lagi hidupmu.

Bergegas aku menyiapkan sendal ke dua adikku sambil menunggu pintu rumah di tutup oleh Tetta. Rasanya menyenangkan menyeruak di hati ini. Sambil berjalan, kedua adikku berceloteh meminta manisan jika pulang shalat nanti. Semua permintaan itu di iyakan oleh Cia. Yang penting semua gembira di awal ramadhan kali ini. Kuliat kakakku berjalan dengan tenang di samping Tetta, sambil sesekali menengok kami yang ada di belakang dia. Kami tertawa karena dia tidak bisa leluasa seperti kami. Padahal Tetta berjalan dengan santainya sambil sesekali memegang tangannya agar dia memperhatikan jalannya.

“ramai ya Cia, sendalnya taruh dimana? tanya ku kemudian..

“taruh saja di samping pintu itu tidak akan hilang karena sendal kita tidak bagus juga, “ katanya lagi sambil tersenyum.

Memasuki Ramadhan selalu mendatangkan kerinduan yang dalam tentang sebuah rumah di pulau seberang. Ramadhan, selalu membuatku rindu masa kecilku, rindu rumah yang sebenarnya, rumah yang bukan hanya sekedar untuk tidur selepas lelah kerja.

Kali ini maaf ya Cia, awal ramadhan ini belum sempat menziarahi kuburmu dan belum bisa menemani ramadhan Tetta.

Berada jauh dari Kalian semua selalu menyadarkan diri.